Siswa perlu belajar membaca data, melakukan eksperimen, menjaga kejujuran, serta bertanggung jawab atas produk dan pelayanan yang ditawarkan.
BANDUNG, 21 September 2026 — Pembelajaran digital selling di SMK tidak cukup hanya mengejar jumlah penonton, kunjungan, dan transaksi. Siswa juga perlu mampu membaca data serta menjaga etika ketika menawarkan produk di ruang digital.
Pesan tersebut menjadi bagian dari webinar series “Digital Selling: Strategi Menjual di Era Marketplace” yang diselenggarakan MKKS SMK Provinsi Jawa Barat pada Senin (21/9/2026).
Kegiatan menghadirkan Kepala Bidang PSMK Provinsi Jawa Barat Dr. Edy Purwanto, M.M. sebagai keynote speaker, Ahmad Madani sebagai narasumber, dan Kepala SMKN 1 Cipanas Cianjur Kankan Sukanda, S.Pd.I., M.Pd. sebagai moderator.
Ahmad Madani menjelaskan bahwa data dapat membantu siswa memahami titik masalah dalam proses penjualan. Produk yang sering ditampilkan tetapi jarang diklik mungkin memiliki foto atau judul yang kurang kuat. Produk yang sering dimasukkan ke keranjang tetapi jarang dibeli dapat menunjukkan hambatan pada harga, ongkos kirim, kepercayaan, atau waktu promosi.
“Data tidak boleh berhenti menjadi angka dalam laporan. Data harus membantu siswa menentukan eksperimen berikutnya: apa yang perlu diperbaiki, diuji, dan diukur kembali,” ujar Ahmad Madani.
Ia juga mengingatkan bahwa tekanan mengejar transaksi tidak boleh membuat siswa menggunakan klaim berlebihan, ulasan palsu, kelangkaan yang dibuat-buat, atau informasi menyesatkan.
Kepala Bidang PSMK Provinsi Jawa Barat, Dr. Edy Purwanto, M.M., menegaskan bahwa kompetensi digital perlu berjalan bersama karakter dan tanggung jawab.
“Kejujuran, transparansi, perlindungan data pelanggan, serta kesesuaian antara janji dan produk merupakan bagian dari kompetensi profesional. Pendidikan vokasi perlu menyiapkan keterampilan sekaligus integritas,” kata Edy Purwanto.
Kepala SMKN 1 Cipanas Cianjur sekaligus moderator, Kankan Sukanda, S.Pd.I., M.Pd., menilai guru berperan sebagai coach yang membantu siswa belajar dari data dan kesalahan.
“Ketika penjualan belum terjadi, guru tidak harus langsung memberikan semua jawaban. Guru dapat mengajak siswa membaca data, menemukan penyebab, menyusun hipotesis, lalu mencoba perbaikan,” tuturnya.
Webinar tersebut mendorong sekolah menilai proses berpikir, kualitas riset, pelayanan, penggunaan data, kerja sama tim, dan kemampuan melakukan perbaikan. Dengan cara ini, kegagalan transaksi tidak berhenti sebagai nilai buruk, tetapi menjadi sumber pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Siswa juga didorong mendokumentasikan proyek sebagai portofolio, mulai dari riset pasar, katalog, konten, toko, rekaman live selling, data performa, hingga evaluasi. Portofolio tersebut menjadi bukti pengalaman yang dapat dibawa menuju magang, pekerjaan, atau wirausaha.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani merupakan praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKS Digital Marketing Nasional. Ia aktif membagikan praktik pemasaran, penjualan, pemanfaatan data, dan pembelajaran berbasis pengalaman kepada sekolah dan dunia usaha. Informasi lebih lanjut tersedia melalui ahmadmadani.id.

























