SOLO – Di tengah gempuran krisis jati diri, degradasi kepedulian sosial, serta problem ekologi yang membayangi kehidupan masyarakat modern, pendekatan pendidikan yang inovatif dan menyentuh akar spiritualitas menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Merespons tantangan zaman tersebut, Program Studi Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menginisiasi sebuah metode pembelajaran luar ruang (outing class) yang tidak biasa pada Jumat, 06 November 2026. Mengambil lokasi di kawasan bersejarah Punthuk Segaran, Taman Sriwedari, Kota Solo, mahasiswa semester 1 pada mata kuliah Filsafat Umum diajak untuk menyelami dan mempraktikkan langsung ritual spiritual transpersonal guna membangkitkan kesadaran murni.
Dalam perhelatan edukasi yang mengedepankan pengalaman langsung ini, program studi Psikologi UNS secara khusus menggandeng seniman dan budayawan lokal, Rus Hardjanto atau yang lebih akrab disapa Ki Jantit Sanakala. Beliau merupakan Ketua Omah Topeng Langdhawur sekaligus inisiator kesenian berwawasan lingkungan, yakni Wayang Keong atau Wayang Limbah Kertas. Pada kegiatan ini, Ki Jantit Sanakala terlibat penuh tidak hanya sekadar menjadi pembicara, melainkan sebagai mitra kolaborator sekaligus narasumber utama yang membimbing praktik olah rasa para mahasiswa.
Punthuk Segaran yang menjadi lokasi kegiatan bukanlah sekadar taman biasa. Kawasan ini merupakan simbol holistik atau mandala dari kosmologi Jawa yang dibangun pada era Pakubuwono X dan kemudian direnovasi selaras dengan gaya arsitektur era Pakubuwono IX. Ki Jantit menjelaskan bahwa simbol-simbol kosmologi yang diwariskan para leluhur ini pada dasarnya memuat peta kesadaran manusia. Jika dipelajari dan dipraktikkan, pandangan dunia (worldview) ini akan menjadi landasan sikap untuk mewujudkan harmoni sosial, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Prosesi ritual wellness ini dirancang sangat mendalam, dimulai dari titik kumpul di belakang patung pujangga besar Ronggowarsito yang terletak di depan Museum Radya Pustaka. Di sana, ratusan mahasiswa diinstruksikan untuk duduk bersila, sebuah postur yang memfasilitasi kerendahan hati dan kesadaran bahwa manusia di alam semesta sejatinya adalah sebuah energi. Mahasiswa diajak merenungkan realitas kehidupan yang kerap bising akibat konflik dan dualisme di dalam pikiran sendiri, yang disimbolkan oleh keberadaan dua pohon beringin besar di kawasan tersebut sebagai akar dari segala gangguan mental.
Setelah fondasi kesadaran terbangun, lantunan Tembang Singgah-singgah dari Ki Jantit Sanakala mengiringi langkah para mahasiswa dalam sebuah perjalanan bisu menuju dan mengelilingi Punthuk Segaran. Prosesi keliling ini menyerupai ritual tawaf, yang menyimbolkan perputaran perjalanan manusia di muka bumi. Di sinilah letak ujian praktisnya. Ketika barisan mahasiswa yang panjang harus melewati jalur lanskap bukit yang sempit, kemacetan tidak dapat dihindari.
Dalam kebisuan tanpa suara, generasi Z yang kerap dicap individualis ini diuji kepeduliannya. Mereka disadarkan bahwa menguasai jalan tanpa memberikan akses kepada orang lain adalah biang dari kebuntuan dan kegagalan mencapai tujuan bersama. Melalui isyarat dan inisiatif saling mengalah, para mahasiswa belajar membuka akses jalan bagi pihak lain. Dinamika ini berlanjut hingga ke puncak Punthuk Segaran, di mana mahasiswa harus mengatur formasi duduk lesehan—baik di bawah terik matahari maupun naungan pohon—tanpa berebut dan tetap menyisakan ruang bagi pihak yang bertugas mendokumentasikan acara.
“Kesadaran transpersonal itu tidak melulu mengurusi diri sendiri, sebaliknya justru mengurusi orang lain, sosial-lingkungan, dan semesta,” tegas Ki Jantit memberikan refleksi. Ia menuturkan bahwa berada di puncak mandala berarti memusatkan perhatian pada lubuk sanubari dan suara nurani, di mana tindakan wening (menghening) memanifestasikan kasih murni tanpa pamrih.
Dosen pengampu mata kuliah Filsafat Umum sekaligus fasilitator kegiatan, Rin Widya Agustin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa filosofi hidup tidak akan memicu perubahan jika sebatas dihafal sebagai wawasan intelektual. Oleh karena itu, kegiatan ini memfasilitasi mahasiswa untuk mengalami sendiri dan merumuskan pola tindakan etis mereka berdasarkan kesadaran dari dalam diri.
Menariknya, esensi ajaran kosmologi ini tidak hanya berhenti di ranah akademik dan spiritualitas individu. Secara makro, penerapan nilai etika dan estetika tersebut telah diejawantahkan dalam wujud Revitalisasi Pasar Tradisional Gagan Donohudan Tunggal Jati. Lewat kerja sama pemanfaatan HAKI antara Indigenous Psikologi Fakultas Psikologi UNS dengan PT Putri Parawansa Group, pasar tradisional tersebut berhasil dirombak sejak 2022 guna mewujudkan tata kelola pasar yang berkesejahteraan bersama dan berkeadilan sosial (Ambeg Adil Paramatma).
Kegiatan yang memadukan keilmuan akademik, kearifan lokal, dan kolaborasi seniman ini menjadi bukti nyata bahwa situs cagar budaya dapat dihidupkan kembali sebagai ruang wisata spiritual. Sebuah perjalanan batin ke dalam diri untuk menggali warisan ajaran luhur Nusantara yang kini makin dirindukan oleh masyarakat dunia.

















