Pop Up Book Berbasis AR Kenalkan Flora Endemik Jawa, Karya Mahasiswa Biologi UM
Eduflora Javanica memadukan buku 3D dan augmented reality agar siswa dapat mengenal keanekaragaman hayati Jawa secara langsung.
[MALANG], [28 Oktober] — Tim mahasiswa Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang mengembangkan Eduflora Javanica, media pembelajaran berupa pop up book yang terintegrasi augmented reality (AR) tentang flora endemik Jawa. Media ini dirancang untuk membuat pembelajaran biologi menjadi lebih kontekstual dan interaktif, sekaligus menumbuhkan kepedulian siswa terhadap kelestarian flora Pulau Jawa.
Di tengah rendahnya capaian literasi siswa Indonesia, pembelajaran biologi masih sering bertumpu pada teks. Data OECD menunjukkan skor rata-rata PISA Indonesia pada 2022 turun dibanding 2018, yakni membaca dari 371 menjadi 359, matematika dari 379 menjadi 366, dan sains dari 396 menjadi 383. Materi keanekaragaman hayati termasuk materi yang sulit divisualisasikan dan kerap hanya disajikan dalam bentuk tulisan.
Di sisi lain, flora endemik Jawa menghadapi ancaman serius. Guru Besar Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Budi S. Daryono, menyebut fragmentasi hutan akibat perkebunan, pertambangan, dan alih fungsi lahan di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa telah mempersempit ruang hidup Rafflesia. Salah satu contohnya adalah Rafflesia zollingeriana, yang tersebar di bagian tenggara dan dataran rendah Pulau Jawa. Penilaian sementara yang disusun jaringan peneliti lintas negara menempatkan spesies ini dalam kategori Critically Endangered (kritis), berdasarkan sempitnya sebaran dan jumlah lokasinya. Penilaian tersebut belum tercantum dalam Daftar Merah IUCN. Secara global, dari 42 spesies Rafflesia yang diketahui, hanya satu yang masuk Daftar Merah IUCN, sementara sekitar 60 persen diperkirakan menghadapi risiko kepunahan tingkat kritis. Kondisi ini membuat pengenalan flora endemik sejak dini dinilai penting agar siswa memahami ancaman tersebut dan terdorong ikut menjaganya.

Eduflora Javanica memadukan tiga elemen. Pertama, pop up book yang menampilkan objek tiga dimensi saat halaman dibuka. Kedua, augmented reality, yang memungkinkan siswa memindai marker dengan smartphone untuk melihat objek digital interaktif yang memperjelas detail visual flora. Ketiga, lembar kerja peserta didik (LKPD) yang mendampingi penggunaan buku.
Isi buku mencakup materi jenis-jenis flora endemik Jawa beserta ciri dan klasifikasinya, pertanyaan pemantik, latihan soal, kuis, dan bagian refleksi. Pembelajarannya disusun mengikuti lima tahap Problem Based Learning, mulai dari orientasi siswa pada masalah hingga evaluasi proses pemecahan masalah. Dalam salah satu aktivitasnya, siswa diajak mengenal Rafflesia zollingeriana: apa itu, apa perannya, di mana habitatnya, dan mengapa tumbuhan ini perlu dilindungi.
Sasaran utama produk ini adalah guru Biologi SMA/MA dan siswa kelas X, terutama di sekolah yang menerapkan pembelajaran berbasis proyek atau kontekstual di Kota dan Kabupaten Malang. Sebelum digunakan di sekolah, materi divalidasi bersama ahli tumbuhan dan ahli pendidikan untuk memastikan kesesuaian dengan tata nama tumbuhan dan kaidah pembelajaran.
Uji coba Eduflora Javanica di sekolah telah berlangsung pada September–Oktober 2026. Javandemik Flora Book juga terbukti mampu meningkatkan literasi digital dan literasi biodiversitas siswa secara signifikan. Literasi digital menunjukkan peningkatan yang ditunjukkan oleh N-Gain Score 0,5–0,65, termasuk kategori sedang hingga mendekati tinggi, sedangkan literasi biodiversitas berada pada rentang N-Gain Score 0,32–0,76 termasuk kategori tinggi, dengan hasil signifikansi keduanya p < 0,001. Hasil ini membuktikan bahwa integrasi pop up book, AR, dan PBL tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang menarik, tetapi juga berdampak nyata terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa dalam memahami keanekaragaman hayati serta pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran.
Tim berharap media ini dapat meningkatkan keaktifan, motivasi belajar, dan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap masalah lingkungan. Dampak tersebut masih menjadi harapan yang akan diuji melalui evaluasi program.


















