Yogyakarta – Sekolah Khusus Autis Bina Anggita Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan renang bersama bagi peserta didiknya setiap sebulan 2 kali. Kegiatan ini dilaksanakan di kolam renang yang menjadi salah satu sarana pembelajaran di luar kelas bagi peserta didik autis SKA Bina Anggita. Renang bersama ini melibatkan mahasiswa Praktik Kependidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang bersinergi dengan guru dan pembimbing sekolah dalam mendampingi peserta didik selama kegiatan berlangsung. Aktivitas ini relevan dengan semangat SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengenalan aktivitas fisik bagi peserta didik, serta SDG 4 (Pendidikan Bermutu) karena menghadirkan pengalaman belajar inklusif yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak.
Kegiatan ini bertujuan memberi kesempatan kepada peserta didik autis untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik, berlatih mengikuti arahan, serta beradaptasi dengan lingkungan baru di luar ruang kelas. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK UNY mendampingi peserta didik secara langsung di tepi maupun di dalam kolam, membantu mereka duduk di pinggir kolam, memasukkan kaki ke air secara bertahap, hingga mengarahkan gerakan sederhana sesuai kemampuan masing-masing. Setiap peserta didik memperoleh bentuk pendampingan yang berbeda, disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhannya, mengingat tingkat kenyamanan terhadap air dan kemampuan mengikuti instruksi antar anak tidaklah sama. Guru dan pembimbing SKA Bina Anggita turut mendampingi serta mengawasi jalannya kegiatan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan peserta didik selama berada di area kolam.
Melalui kegiatan ini, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan kolam renang, melatih keberanian saat berinteraksi dengan air, serta berlatih mengikuti instruksi sederhana dari pendamping. Sebagian peserta didik terlihat antusias bermain air, sementara sebagian lain memerlukan pendampingan lebih intensif untuk merasa nyaman berada di tepi maupun di kolam. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna karena mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam suasana yang berbeda dari pembelajaran di kelas, sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa PK UNY untuk memahami secara langsung pendekatan pendampingan yang sesuai bagi anak-anak dengan spektrum autisme.
Untuk kedepannya, kegiatan serupa diharapkan dapat terus berjalan, karena mengingat aktivitas ini memberikan variasi pengalaman belajar sekaligus melatih kemandirian peserta didik secara bertahap. Sinergi antara mahasiswa PK UNY dan pihak sekolah dalam kegiatan ini juga diharpkan dapat menjadi contoh kolaborasi yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus.



















