DOPLANG, BAWEN — Pagi itu, udara dingin lereng pegunungan masih menyelimuti Desa Doplang, Kecamatan Bawen. Di antara dedaunan yang basah oleh embun, langkah kaki warga perlahan bergerak menuju sendang atau mata air desa. Tidak terdengar alunan musik modern yang membahana. Yang terdengar justru suara langkah kaki, gesekan busana adat, denting wadah tradisional, serta lantunan doa yang dipanjatkan dengan khidmat.Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang umumnya identik dengan berbagai perlombaan dan hiburan, masyarakat Desa Doplang memilih merayakan kemerdekaan dengan cara yang sarat makna melalui tradisi Mundut Tirto.Tradisi tersebut juga menjadi pengalaman budaya yang berharga bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 22 yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Doplang. Dengan mengikuti rangkaian kegiatan secara langsung, mahasiswa KKN tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi lokal, tetapi juga belajar memahami filosofi, nilai kebersamaan, dan pesan kehidupan yang diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.Secara harfiah, Mundut Tirto berasal dari bahasa Jawa yang berarti “mengambil air”. Namun, memaknai tradisi tersebut hanya sebagai kegiatan mengambil air tentu tidak cukup. Bagi masyarakat Desa Doplang, Mundut Tirto merupakan bentuk ungkapan syukur, penghormatan terhadap sumber kehidupan, sekaligus sarana untuk merefleksikan nilai kebersamaan dan kerukunan dalam momentum peringatan kemerdekaan dan merti dusun.Bagi mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang, keterlibatan dalam tradisi ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana budaya lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan mendalam mengenai hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, serta nilai-nilai kebangsaan.Jejak filosofi tersebut terlihat dari penggunaan kendi tanah liat dan bumbung bambu yang dibawa dalam prosesi. Bagi masyarakat Jawa, air tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sebagai simbol kesucian dan sumber kehidupan. Air yang berasal dari mata air menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia memiliki sumber yang harus dijaga bersama.Dalam konteks peringatan kemerdekaan, Mundut Tirto dimaknai sebagai ajakan untuk kembali menyegarkan niat dan mengingat nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan bersama. Kemerdekaan tidak hanya dipahami sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk menjaga kerukunan, persatuan, dan kepedulian terhadap lingkungan.salah satu tokoh masyarakat Desa Doplang menjelaskan bahwa filosofi air menjadi bagian penting dari pesan yang ingin diwariskan melalui tradisi tersebut.“Kemerdekaan itu ibarat air jernih dari sendang. Kalau tidak kita rawat sumbernya dan tidak kita jaga alirannya, air itu bisa keruh oleh kesombongan dan pertikaian. Ritual mengambil air ini menjadi pengingat tahunan agar warga Doplang selalu ingat akar tradisi dan menjaga kerukunan.”Pesan tersebut menjadi pembelajaran tersendiri bagi mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo. Di tengah kehidupan modern yang semakin dekat dengan teknologi dan media digital, tradisi seperti Mundut Tirto menunjukkan bahwa nilai kebersamaan tetap dapat dirawat melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.Prosesi Mundut Tirto dimulai sejak pagi. Warga berjalan kaki dalam iring-iringan kirab menuju sejumlah sumber mata air yang dianggap memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat desa. Dengan mengenakan pakaian adat dan membawa wadah tradisional, warga mengikuti prosesi dengan penuh khidmat.Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 22 turut mengikuti dan mengamati rangkaian kegiatan tersebut. Bagi mereka, pengalaman ini bukan sekadar bagian dari program pengabdian, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk memahami kearifan lokal yang tumbuh dan bertahan di tengah masyarakat.Air yang diambil dari beberapa sumber kemudian dibawa dan disatukan dalam satu wadah besar di pusat desa. Proses penyatuan tersebut menjadi salah satu bagian paling simbolis dalam tradisi Mundut Tirto. Air yang berasal dari berbagai sumber melebur menjadi satu, menggambarkan keberagaman masyarakat yang tetap dapat hidup berdampingan dalam satu kesatuan.Filosofi tersebut sejalan dengan semangat kebhinekaan Indonesia. Perbedaan latar belakang, usia, pekerjaan, maupun pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terpecah. Sebagaimana air yang berasal dari sumber berbeda dapat menyatu, masyarakat pun diharapkan mampu menjaga persatuan dalam kehidupan sehari-hari.Setelah prosesi penyatuan air, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Doa dipanjatkan untuk memohon ketenteraman, keselamatan, dan keberkahan bagi masyarakat Desa Doplang. Dalam momentum HUT RI, doa juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa serta harapan agar Indonesia senantiasa diberikan keselamatan dan kedamaian.Air yang telah didoakan kemudian dipercikkan atau dibagikan kepada warga, khususnya generasi muda. Prosesi tersebut menjadi simbol estafet nilai dari generasi sebelumnya kepada generasi penerus. Air tidak hanya dimaknai sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sebagai simbol keberkahan, ketenangan, dan harapan agar nilai-nilai luhur masyarakat tetap mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.Menariknya, di tengah gempuran budaya digital, tradisi Mundut Tirto justru mampu menarik perhatian generasi muda Desa Doplang. Sebagian pemuda hadir untuk membantu persiapan, mengikuti kirab, hingga mendokumentasikan prosesi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus dipertentangkan dengan perkembangan zaman. Justru melalui keterlibatan generasi muda, tradisi dapat terus dikenalkan dan diwariskan dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini.Hal tersebut juga menjadi pelajaran bagi mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang. Selama berada di Desa Doplang, mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian, tetapi juga belajar bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Mundut Tirto mengajarkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas para sesepuh atau tokoh adat. Generasi muda, termasuk mahasiswa, memiliki peran untuk mengenal, mendokumentasikan, dan memperkenalkan kembali nilai-nilai tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.Pada akhirnya, Mundut Tirto di Desa Doplang membuktikan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu harus berlangsung dengan kemeriahan. Ada kalanya kemerdekaan justru dirayakan melalui keheningan, doa, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
Bagi mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 22, mengikuti tradisi Mundut Tirto menjadi pengalaman yang memperkaya proses pengabdian mereka. Dari mata air Desa Doplang, mereka belajar bahwa kehidupan memiliki sumber yang harus dijaga, kebersamaan harus dirawat, dan nilai-nilai luhur harus terus dialirkan kepada generasi berikutnya.Sebab, sebagaimana air yang terus mengalir dari mata air menuju kehidupan, demikian pula tradisi dan nilai kebersamaan diharapkan terus mengalir—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Desa Doplang.
(Tim KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 22)

























