Bagi sebagian siswa, melihat angka dan soal matematika di layar atau papan tulis saja sudah cukup membuat mereka merasa tegang. Ada yang takut salah menjawab, ragu mencoba, atau memilih diam ketika tidak memahami langkah pengerjaan. Perasaan seperti ini dikenal sebagai math anxiety, yaitu kecemasan yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan matematika. Dalam pembelajaran statistika, persoalan tersebut menjadi perhatian yang coba dijawab mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui MENTALYTICS, platform pembelajaran berbasis AI yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan dekat dengan kehidupan siswa.
Alih-alih hanya berhadapan dengan rumus dan soal, melalui MENTALYTICS siswa diajak belajar statistika menggunakan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. Salah satu konteks yang digunakan adalah data mengenai bullying dan anxiety yang dikumpulkan melalui angket. Data tersebut kemudian menjadi bahan bagi siswa untuk membuat diagram pencar, melihat pola hubungan antardata, dan memahami bagaimana statistika dapat digunakan untuk membaca persoalan yang ada di sekitar mereka.
Pendekatan tersebut dikembangkan melalui Challenge-Based on Deep Learning (CBDL). Secara sederhana, siswa tidak hanya menerima materi atau mengerjakan soal, tetapi diajak menghadapi sebuah tantangan, mencari informasi, mengolah data, berdiskusi, hingga memikirkan solusi. Proses belajar juga dirancang dengan prinsip pembelajaran mendalam yang menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sehingga siswa dapat terlibat lebih utuh selama pembelajaran.
Bagi siswa yang mudah merasa tertekan ketika berhadapan dengan materi matematika, cara belajar menjadi bagian penting dari pengalaman mereka. MENTALYTICS memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara bertahap melalui aktivitas yang interaktif. Siswa dapat berdiskusi, mengolah data, mencoba membuat diagram pencar melalui fitur drag and drop, serta memperoleh umpan balik selama menyelesaikan tantangan.
Pengalaman tersebut diperkuat dengan kehadiran MILO, pendamping belajar berbasis AI di dalam MENTALYTICS. Ketika siswa mengalami kesulitan, MILO tidak sekadar memberikan jawaban akhir. AI tersebut memberikan pertanyaan pemantik, bantuan secara bertahap, dan rekomendasi berdasarkan data pembelajaran sehingga siswa tetap diarahkan untuk menemukan serta memahami jawabannya sendiri.
Cara kerja tersebut menempatkan AI sebagai pendamping selama proses belajar, bukan pengganti guru atau mesin pemberi jawaban. Siswa tetap memiliki ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan ketika menyelesaikan tantangan. Kehadiran MILO juga membuat dukungan belajar dapat diberikan ketika siswa mengalami kesulitan, sehingga proses belajar tidak hanya berfokus pada apakah jawaban akhirnya benar atau salah.
Meski mengangkat konteks anxiety dan persoalan yang berkaitan dengan kesehatan mental, MENTALYTICS bukan alat untuk mendiagnosis kondisi psikologis siswa. Data anxiety digunakan sebagai konteks autentik untuk mempelajari statistika, sedangkan MILO berfungsi memberikan dukungan dalam proses belajar. Isu kesehatan mental ditempatkan sebagai bagian dari konteks pembelajaran sekaligus pintu masuk agar siswa dapat melihat bahwa data statistik dapat digunakan untuk memahami persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
MENTALYTICS telah diterapkan pada enam SMA Negeri di Kabupaten Kudus dengan materi yang disesuaikan dengan pemetaan pembelajaran di masing-masing sekolah. Melalui penerapan tersebut, tim mahasiswa UNNES berupaya menghadirkan pembelajaran statistika yang tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga memberi pengalaman belajar yang lebih manusiawi. Ketika siswa diberi ruang untuk belajar secara bertahap, berdiskusi, dan memahami data yang dekat dengan kehidupannya, statistika diharapkan tidak lagi hadir semata sebagai kumpulan angka yang membuat cemas, tetapi sebagai cara untuk memahami dunia di sekitar mereka.

























