BANDA ACEH — Pendidikan vokasi menghadapi tantangan yang semakin kompleks ketika dunia pemasaran berkembang lebih cepat daripada perubahan teknologi yang dipelajari di ruang kelas. Kemampuan membuat konten, menggunakan media sosial, dan mengoperasikan aplikasi digital kini perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang konsumen, strategi bisnis, serta kemampuan menghasilkan dampak bagi perusahaan.
Merespons tantangan tersebut, SMK Negeri 1 Banda Aceh menggelar kegiatan guru tamu dan pembekalan calon peserta Lomba Kompetensi Siswa (LKS) selama dua hari, 19–20 Oktober 2026. Program ini menghadirkan praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani serta melibatkan dukungan industri melalui Dealer Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh.
Berbeda dari pembelajaran yang hanya berpusat pada ruang kelas, kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan konsep pemasaran dengan lingkungan bisnis. Hari pertama dilaksanakan di SMK Negeri 1 Banda Aceh, sedangkan hari kedua menghadirkan pengalaman pembelajaran di lingkungan Dealer Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh.
Mempertemukan Pendidikan dengan Kebutuhan Industri
Kepala SMK Negeri 1 Banda Aceh, Sufiani, S.Pd., memandang kolaborasi sekolah dengan praktisi dan perusahaan sebagai bagian penting dalam peningkatan mutu pendidikan vokasi.
“Kami ingin menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Melalui kegiatan bersama praktisi dan industri, siswa memperoleh kesempatan memahami kompetensi yang harus dipersiapkan, bukan hanya untuk mengikuti lomba, tetapi juga untuk masa depan mereka.”
Kegiatan ini mengangkat tema “Jangan Cuma Jadi Anak Marketing: Saatnya Jadi Talenta Pemasaran yang Dicari Dunia Kerja”. Pesan utamanya mengajak siswa memandang jurusan pemasaran bukan sekadar identitas pendidikan, melainkan sebagai proses membangun kemampuan profesional yang dapat dibuktikan melalui karya dan pengalaman.
Ketua Program Keahlian Pemasaran, Mardiani, S.Pd., menekankan bahwa siswa membutuhkan latihan berpikir secara strategis, terutama ketika menghadapi persoalan nyata dalam bisnis.
“Pembelajaran pemasaran harus mengembangkan kemampuan analisis dan penyelesaian masalah. Siswa perlu memahami bagaimana sebuah strategi dibuat, dijalankan, kemudian dievaluasi berdasarkan tujuan yang ingin dicapai.”
Membangun Kompetensi, Bukan Sekadar Menguasai Aplikasi
Dalam dunia pemasaran modern, kemampuan menggunakan perangkat digital merupakan salah satu kebutuhan. Namun, keterampilan tersebut tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai marketer yang kompeten.
Guru Pemasaran SMK Negeri 1 Banda Aceh, Cut Mitra Susanti, S.Pd., M.M., menilai pemahaman tentang konsumen harus menjadi fondasi bagi keterampilan teknis siswa.
“Kami ingin siswa semakin terbiasa menghubungkan teori dengan praktik. Mereka tidak hanya mempelajari bagaimana membuat konten promosi, tetapi juga mengapa konten itu dibuat, siapa target konsumennya, dan bagaimana hasilnya dapat dievaluasi.”
Madani menempatkan perubahan profesi pemasaran dalam konteks perkembangan artificial intelligence. Teknologi AI dapat membantu riset, penyusunan ide, produksi konten, dan analisis informasi. Namun, marketer tetap perlu memiliki komunikasi yang baik, karakter profesional, kreativitas, serta kepekaan terhadap kebutuhan pelanggan.
Yamaha Alfa Scorpii sebagai Lingkungan Pembelajaran
Keterlibatan Dealer Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh menjadi unsur penting karena membuka ruang pembelajaran dalam konteks aktivitas bisnis otomotif. Melalui lingkungan tersebut, siswa memiliki kesempatan memahami hubungan antara promosi, pengetahuan produk, pelayanan konsumen, dan proses penjualan.
Sadikin Kwok, BM MDS Alfa Scorpii Banda Aceh, menyoroti nilai kolaborasi semacam ini bagi pembentukan calon tenaga kerja.
“Kami melihat kolaborasi dengan SMK sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kebutuhan industri kepada generasi muda. Siswa perlu memahami bahwa kemampuan menjual juga berkaitan dengan pelayanan, komunikasi, pengetahuan produk, dan membangun kepercayaan pelanggan.”
Bagi siswa, pengalaman belajar dengan pendekatan tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai keterkaitan antara pendidikan dan profesi yang akan mereka tekuni.
Shina Qisti Fathan, salah seorang siswa kelas XI Pemasaran SMK Negeri 1 Banda Aceh, mewakili semangat tersebut.
“Saya berharap kegiatan ini membuat kami lebih memahami bagaimana ilmu pemasaran digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Kami juga ingin memiliki keterampilan dan pengalaman yang bisa menjadi bekal setelah lulus.”
LKS sebagai Bagian dari Proses Profesionalisasi
Selain pembekalan umum, kegiatan ini memberikan ruang pendampingan khusus bagi calon peserta LKS. Proses tersebut diarahkan untuk menguatkan kemampuan menganalisis permasalahan pemasaran, menyusun strategi, dan mengomunikasikan hasil pekerjaan secara terstruktur.
LKS dapat menjadi sarana pembuktian kompetensi, tetapi manfaat pendidikan dari proses persiapannya juga penting. Siswa belajar bekerja dengan standar, menghadapi keterbatasan waktu, menerima evaluasi, dan memperbaiki kualitas pekerjaan.
Melalui kegiatan dua hari ini, SMK Negeri 1 Banda Aceh menunjukkan pentingnya mempertemukan tiga unsur pendidikan vokasi: sekolah sebagai pembangun fondasi kompetensi, praktisi sebagai penghubung dengan perkembangan profesi, serta industri sebagai lingkungan penerapan keahlian.
Kolaborasi tersebut diharapkan membantu mempersiapkan generasi muda yang tidak sekadar memiliki ijazah pemasaran, tetapi juga mempunyai keterampilan, karakter, dan kemampuan memberikan kontribusi nyata ketika memasuki dunia kerja.

























