Kalau mendengar kata UMKM, mungkin yang langsung terbayang adalah warung kecil, makanan rumahan, atau usaha sederhana yang dijalankan dari rumah. Tetapi setelah beberapa kali berkeliling Desa Pamongan, kami justru menemukan bahwa UMKM di desa ini punya cerita yang jauh lebih beragam.
Ada pelepah pisang yang disulap menjadi keranjang tembakau. Ada kayu yang dirakit menjadi box speaker dan digunakan untuk berbagai acara. Ada pula dapur kecil yang setiap harinya sibuk membuat puluhan donat untuk dikirim hingga ke luar kota.
Semua bermula dari rasa penasaran kami.
Selama menjalankan KKN, kami berkesempatan mengunjungi beberapa pelaku UMKM di Desa Pamongan. Bukan sekadar datang, bertanya, lalu pulang. Kami ingin melihat langsung bagaimana warga menjalankan usahanya, apa saja tantangan yang mereka hadapi, dan bagaimana sebuah usaha kecil bisa bertahan bahkan berkembang dari waktu ke waktu.
Dari Pelepah Pisang hingga Box Speaker
Kunjungan pertama membawa kami pada sebuah usaha kerajinan yang mungkin sebelumnya tidak pernah kami bayangkan.
Pelepah pisang. Bagi sebagian orang, pelepah pisang mungkin hanya dianggap sebagai bagian tanaman yang sudah tidak terpakai. Namun, di tangan warga Desa Pamongan, bahan tersebut justru memiliki nilai ekonomi. Pelepah yang sudah dikeringkan dianyam satu per satu hingga menjadi keranjang tembakau yang cukup kuat dan rapi.

Melihat prosesnya secara langsung membuat kami sadar bahwa sebuah produk tidak hanya berbicara tentang hasil akhirnya. Ada waktu, tenaga, keterampilan, dan ketelatenan yang tidak terlihat ketika produk tersebut sudah sampai di tangan pembeli.
Perjalanan kemudian berlanjut ke usaha yang benar-benar berbeda: box speaker dan sound system.
Kami mengunjungi tiga usaha, yaitu HD Produksi Box Speaker, DS Audio, LT box audio
Di HD Produksi, kami melihat bagaimana kayu yang masih berupa bahan mentah perlahan dirakit hingga menjadi box speaker yang siap digunakan. Suara gergaji dan aroma serbuk kayu langsung menyambut kami ketika memasuki tempat produksi.Berbeda lagi dengan DS Audio System yang lebih banyak berfokus pada perakitan dan pengaturan sistem audio. Kami juga melihat proses pengecekan suara sebelum perangkat digunakan oleh pelanggan, baik untuk pengajian, hajatan, maupun acara musik.

Ketika Digitalisasi Bertemu dengan Cerita Perjuangan
Selain melakukan kunjungan, salah satu program kerja kami adalah digitalisasi UMKM.
Kami mendatangi pelaku usaha secara langsung dan membantu mengenalkan beberapa fasilitas digital yang dapat digunakan untuk mendukung usaha mereka, seperti QRIS dan Google Maps. Sederhana memang.
Namun bagi kami, kegiatan tersebut bukan hanya tentang membuat sebuah titik lokasi muncul di peta atau membantu menyediakan metode pembayaran digital. Di balik proses tersebut, kami justru bertemu dengan cerita-cerita yang membuat kami belajar banyak hal.
Salah satunya adalah ketika kami mengunjungi seorang pemilik usaha donat di Desa Pamongan. Awalnya, kami mengira kunjungan tersebut akan berlangsung seperti biasa. Kami datang, memperkenalkan program digitalisasi, membantu kebutuhan usaha, kemudian selesai. Ternyata kami pulang membawa cerita yang jauh lebih besar. Sang pemilik usaha bercerita bahwa usaha donat yang dijalankannya sekarang bukanlah usaha pertamanya. Sebelum menjual donat, beliau pernah mencoba berjualan bakso dan pecel. Namun, usaha tersebut belum berjalan seperti yang diharapkan. Kegagalan ternyata tidak berhenti sampai di situ. Dalam perjalanan usahanya, beliau pernah meminjam uang dari bank untuk menjalankan bisnis, tetapi usaha tersebut mengalami kerugian. Pinjaman tetap harus dikembalikan. Setelah berhasil menyelesaikannya, beliau justru kembali mengambil risiko dengan meminjam modal untuk memulai usaha donat.
Mendengar cerita tersebut, kami bertanya-tanya, “Kenapa masih berani mencoba lagi setelah pernah gagal?” Jawabannya sederhana, tetapi cukup menempel di kepala kami.
“Jadilah gila.”
Tentu bukan gila dalam arti sebenarnya. Menurut beliau, “gila” berarti berani nekat. Berani mencoba ketika hasilnya belum pasti. Berani mengambil kesempatan ketika orang lain mungkin memilih untuk mundur karena terlalu takut memikirkan kemungkinan gagal. Namun, ternyata keberanian saja tidak cukup. Dalam proses membuat donat, beliau bahkan pernah mengalami mixer rusak berkali-kali. Dalam seminggu, tiga sampai empat mixer bisa mengalami kerusakan karena harus bekerja keras mengolah adonan.
Kalau dipikir-pikir, mungkin ada banyak alasan untuk berhenti. Tapi beliau tetap melanjutkan. Tidak hanya mengandalkan pengalaman, beliau juga mengikuti kursus bakery untuk mempelajari berbagai olahan roti dan pastry. Dari sana, usaha donatnya terus berkembang hingga sekarang. Hampir setiap hari ada pesanan. Puluhan donat bahkan dikirim ke luar kota. Dan di balik satu donat yang terlihat sederhana itu, ternyata ada cerita tentang kegagalan, kerugian, keberanian, belajar, dan mencoba lagi.
Kami Datang untuk Mendigitalisasi, tetapi Pulang Membawa Pelajaran Hari itu membuat kami melihat UMKM dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Kami datang dengan niat membantu digitalisasi usaha. Membuat QRIS, mendaftarkan lokasi usaha di Google Maps, dan membantu agar usaha warga lebih mudah ditemukan. Namun, semakin banyak kami berbincang dengan pemilik usaha, semakin kami sadar bahwa digitalisasi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan sebuah UMKM



















