LEBAK — Pondok Pesantren Al Hikam menggelar kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Santri (LDKS) sebagai upaya mempersiapkan kader-kader santri yang memiliki kemampuan kepemimpinan, manajemen organisasi, serta kesiapan menghadapi berbagai dinamika dalam menjalankan amanah organisasi.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Hikam, Kampung Pasirnangka, Desa Pasirtanjung, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, pada Sabtu, 5 September 2026.
Sebanyak 26 santri mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta terdiri atas 11 santri putra dan 15 santri putri yang dipersiapkan untuk menjadi kader serta calon penggerak organisasi santri di lingkungan Pondok Pesantren Al Hikam.
Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Hasan Komarudin, menyampaikan materi mengenai keorganisasian, manajemen kepemimpinan, serta analisis SWOT dalam menjalankan organisasi.
Dalam sesi materinya, Hasan menekankan bahwa organisasi bukan sekadar tentang jabatan, struktur kepengurusan, atau siapa yang menjadi ketua. Lebih dari itu, organisasi merupakan ruang belajar bagi setiap individu untuk membangun tanggung jawab, kerja sama, kemampuan komunikasi, serta keberanian dalam mengambil keputusan.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki jabatan dan kemampuan memberikan instruksi kepada anggotanya. Seorang pemimpin harus mampu membaca kondisi organisasi, memahami karakter anggota, serta menentukan langkah yang tepat dalam menghadapi persoalan.
“Menjadi pemimpin bukan hanya tentang siapa yang memiliki jabatan paling tinggi. Pemimpin adalah orang yang mampu memahami keadaan, melihat persoalan, menemukan peluang, kemudian mengajak orang lain bergerak menuju tujuan bersama,” ujar Hasan dalam penyampaian materinya.
Dalam kesempatan tersebut, Hasan juga mengajak peserta memahami pentingnya analisis SWOT, yakni Strengths atau kekuatan, Weaknesses atau kelemahan, Opportunities atau peluang, dan Threats atau ancaman.
Melalui metode tersebut, para peserta diajak untuk mampu menganalisis kondisi internal dan eksternal organisasi sebelum menentukan strategi dalam menjalankan program dan menyelesaikan persoalan.
Hasan menjelaskan bahwa organisasi yang baik bukanlah organisasi yang tidak memiliki masalah. Justru, menurutnya, sebuah organisasi dapat berkembang apabila para pengurusnya mampu menjadikan setiap persoalan sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran.
“Pemimpin yang baik tidak hanya melihat masalah. Ia harus mampu membaca keadaan. Apa kekuatan organisasinya, apa kelemahannya, peluang apa yang bisa dimanfaatkan, dan ancaman apa yang harus dihadapi,” katanya.
Penyampaian materi berlangsung secara interaktif. Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi dan sesi tanya jawab antara narasumber dan para peserta.
Salah seorang santri dalam sesi diskusi kemudian mengajukan pertanyaan mengenai dinamika yang kerap terjadi dalam organisasi, khususnya ketika seorang pemimpin telah terbentuk dan memiliki anggota, namun dalam perjalanan organisasi terdapat anggota yang kemudian tidak lagi aktif.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Hasan Komarudin menjelaskan bahwa persoalan anggota yang tidak aktif merupakan salah satu dinamika yang harus dipahami oleh seorang pemimpin. Menurutnya, seorang pemimpin tidak boleh langsung mengambil kesimpulan atau menyalahkan anggota tanpa mengetahui akar persoalannya.
“Ketika ada anggota yang tidak aktif, jangan langsung berpikir bahwa dia tidak memiliki tanggung jawab atau tidak peduli terhadap organisasi. Seorang pemimpin harus terlebih dahulu mencari tahu apa penyebabnya,” jelas Hasan.
Ia menambahkan bahwa seorang pemimpin harus membangun komunikasi secara personal dengan anggota yang mulai tidak aktif. Bisa jadi, kata dia, anggota tersebut memiliki persoalan pribadi, kendala waktu, kurang memahami tugasnya, kehilangan motivasi, atau merasa tidak dilibatkan dalam proses organisasi.
“Pemimpin harus hadir, bukan hanya ketika membutuhkan anggotanya. Ajak bicara, tanyakan kondisinya, dengarkan alasannya, kemudian carikan solusi bersama. Tetapi jika setelah diberikan ruang, kesempatan, dan pembinaan tetap tidak ada perubahan, organisasi juga harus memiliki ketegasan,” tegasnya.
Menurut Hasan, kepemimpinan membutuhkan keseimbangan antara kepedulian dan ketegasan. Seorang pemimpin harus mampu merangkul anggotanya, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga keberlangsungan organisasi dan memastikan setiap tanggung jawab dapat dijalankan.
“Jangan sampai organisasi berhenti hanya karena satu atau dua anggota tidak aktif. Pemimpin harus mampu melakukan evaluasi, membagi kembali tugas, menyiapkan kader lain, dan memastikan roda organisasi tetap berjalan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan para peserta bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari seberapa banyak anggota yang dimiliki, tetapi dari kemampuannya membangun anggota agar memiliki kesadaran, rasa tanggung jawab, dan kemampuan untuk tumbuh bersama.
“Organisasi tidak membutuhkan satu orang hebat yang bekerja sendirian. Organisasi membutuhkan banyak orang yang bersedia bekerja bersama. Tugas seorang pemimpin adalah menciptakan ruang agar setiap anggota bisa mengambil peran dan berkembang,” pungkasnya.
Kegiatan LDKS Pondok Pesantren Al Hikam tersebut diharapkan dapat menjadi proses awal pembentukan karakter kepemimpinan para santri. Melalui kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya dibekali pemahaman mengenai struktur dan tata kelola organisasi, tetapi juga kemampuan membaca persoalan, mengambil keputusan, membangun komunikasi, dan bekerja sama.
Dengan keterlibatan 26 santri, terdiri dari 11 santri putra dan 15 santri putri, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi santri yang memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan berorganisasi, serta kesiapan untuk mengambil peran dalam kehidupan pesantren maupun masyarakat.
Pada akhirnya, kepemimpinan yang dibangun sejak lingkungan pesantren diharapkan tidak berhenti pada sebuah jabatan atau periode kepengurusan semata, melainkan menjadi bekal bagi para santri untuk tumbuh sebagai generasi yang mampu memimpin diri sendiri, bekerja sama dengan orang lain, serta memberikan manfaat bagi masyarakat, agama, dan bangsa.

























