Tradisi Sambatan, gotong royong warga Jawa membantu tetangga membangun rumah atau menyelesaikan pekerjaan berat, kini dilestarikan melalui bahan ajar matematika. Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang (UNNES), Najwa Qoirun Nisa, Reftha Pramudita Widyananda Saputri, Denissa Azzahra, Denty Adi Nengsih, Iwan Rizqi Agustin di bawah bimbingan Bapak Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd., mengembangkan bahan ajar etnomatematika yang menjadikan tradisi Sambatan sebagai konteks pembelajaran.
Bahan ajar berjudul “Matematika dibalik Gotong Royong” memakai pendekatan etnomatematika berbasis Problem-Based Learning dan didukung teknologi kecerdasan buatan (AI). Ditambah karakter pemandu bernama TINU yang diambil dari kata “Tinulung” yang bermakna “Tolong menolong”. Sasaran dari bahan ajar ini adalah murid SMP kelas VII pada materi rasio dan proporsi.
“Sambatan itu penuh perhitungan, meski warga tidak menyebutnya matematika. Ada pembagian tugas, perkiraan jumlah orang, sampai lamanya pekerjaan. Kami ingin murid melihat bahwa matematika hidup dalam budaya mereka sendiri,” ujar Najwa. Menurutnya, tradisi gotong royong kian jarang dikenal generasi muda. Lewat bahan ajar ini, nilai kebersamaan diharapkan ikut tertanam sambil murid melatih kemampuan memecahkan masalah.
Modul disusun dengan model pengembangan 4D dan telah melalui validasi ahli, praktisi dengan hasil rata-rata 92,06% yang artinya sangat valid untuk digunakan, serta uji keterbacaan dan respons murid dengan rata-rata masing-masing sebesar 86%. Di dalamnya, murid menyelesaikan soal berkonteks Tradisi Sambatan secara bertahap, sementara AI membantu memberi petunjuk dan umpan balik. Pendekatan seperti ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya lokal melalui pendidikan serta tetap menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sehingga tradisi tidak hanya dikenang, tetapi dipakai sebagai sarana belajar yang bermakna.

























