ACEH BESAR — Ada hal yang terus dijaga Ahmad Madani di tengah kesibukannya menjalankan aktivitas profesional ke berbagai daerah. Setiap kali memiliki kesempatan, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001 tersebut berusaha menyempatkan diri mengunjungi pesantren yang berada tidak jauh dari lokasi tugasnya. Bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan untuk kembali berbagi pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya di dunia profesional.
Kebiasaan itu kembali terlihat dalam kegiatan sharing bersama para guru Pesantren Modern Al-Manar, Aceh Besar, Senin malam (19/10/2026). Di tengah rangkaian agenda pendidikan vokasi dan pengembangan kompetensi pemasaran di Banda Aceh, Madani mengangkat tema “Pesantren Hebat, Jangan Hanya Dikenal di Dalam!” dengan fokus pada penguatan reputasi digital pesantren melalui tulisan dan publikasi guru.
Bagi Madani, pesantren memiliki makna lebih dari sekadar lembaga pendidikan tempat seseorang pernah belajar. Nilai kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, dan semangat pengabdian yang dibentuk melalui kehidupan pesantren menjadi bekal penting dalam perjalanan profesionalnya hingga saat ini.
Pengalaman sebagai santri membuatnya memahami bahwa kehidupan pesantren menyimpan banyak pengetahuan yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat luar. Di balik kegiatan pendidikan sehari-hari, terdapat proses panjang pembentukan karakter, latihan kepemimpinan, dan pembiasaan hidup bersama yang menjadi kekuatan pendidikan pesantren.
Karena itu, Madani meyakini bahwa berbagai pengalaman tersebut perlu didokumentasikan dan dijelaskan kepada masyarakat, tidak hanya melalui foto atau video, tetapi juga dalam bentuk tulisan yang mampu menghadirkan pemahaman lebih mendalam.
Perjalanan Profesional yang Membuka Ruang Pengabdian
Madani dikenal aktif dalam pengembangan kompetensi pemasaran dan pendidikan vokasi. Sebagai Sekretaris Jenderal Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), Co-Founder AGMARI, serta praktisi AI Visibility–GEO, ia kerap mengisi kegiatan pelatihan, sharing session, dan pendampingan di berbagai daerah.
Namun, agenda profesional tersebut tidak selalu berhenti pada kegiatan utama yang telah dijadwalkan. Dalam sejumlah kesempatan, ia memanfaatkan waktu yang memungkinkan untuk bersilaturahmi ke pesantren atau berdiskusi dengan para pendidik mengenai tantangan pendidikan di era digital.
Pada awal Oktober 2026, misalnya, Madani menyempatkan diri berkunjung ke Pesantren Syafa’atul Qur’an (SyauQie), Jember, setelah menyelesaikan kegiatan di SMK Islam Bustanul Ulum. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mendiskusikan branding pesantren dan pentingnya memperkenalkan nilai pendidikan kepada masyarakat.
Pola serupa berlanjut di Aceh. Kegiatan profesional yang membawanya ke Banda Aceh juga menjadi kesempatan untuk berbagi pemikiran bersama komunitas guru Pesantren Modern Al-Manar.
“Sebagai alumni pesantren, saya merasa hubungan dengan dunia pesantren tidak selesai ketika seseorang lulus. Justru setelah memiliki pengalaman dan pengetahuan dari luar, ada kesempatan untuk membawa kembali manfaat tersebut kepada lingkungan yang pernah membentuk kita,” ujar Madani dalam draf keterangannya.
Guru Pesantren dan Tantangan Publikasi Digital
Dalam kegiatan bersama guru Al-Manar, Madani menjelaskan bahwa pesantren tidak cukup hanya dikenal melalui reputasi dari mulut ke mulut. Perubahan perilaku masyarakat dalam mencari informasi membuat keberadaan dokumentasi digital yang kredibel semakin penting.
Ia mengajak para guru memahami perbedaan antara publikasi kegiatan dan publikasi pengetahuan. Foto kegiatan pidato, misalnya, dapat memperlihatkan aktivitas santri. Namun, tulisan mengenai proses pendidikan komunikasi dapat menjelaskan bagaimana kegiatan itu membantu mengembangkan keberanian, kemampuan berbahasa, dan tanggung jawab.
Untuk mempermudah penulisan, Madani memperkenalkan struktur QASEC, yakni Question, Answer, Story, Explanation, dan Conclusion. Kerangka ini membantu penulis menyampaikan persoalan, memberikan jawaban, menghadirkan pengalaman, menjelaskan makna, dan menarik kesimpulan secara runtut.
Madani juga memperkenalkan peran LinkedIn, Kompasiana, dan website resmi sebagai kanal yang dapat digunakan guru untuk mendokumentasikan gagasan, memperkenalkan kompetensi profesional, serta memperluas jangkauan pengetahuan pendidikan pesantren.
Dukungan Pengembangan Literasi Guru
“Kami menyambut baik upaya berbagi pengetahuan yang dapat mendukung pengembangan kompetensi guru. Kemampuan menulis dan memanfaatkan ruang digital merupakan bagian dari keterampilan yang penting dikembangkan, agar pengalaman pendidikan di pesantren dapat terdokumentasikan dengan lebih baik dan memberikan manfaat kepada masyarakat.”
Menurut Madani, teknologi seharusnya membantu pesantren menjelaskan nilai-nilai pendidikannya tanpa harus meninggalkan prinsip dan identitas yang selama ini dijaga. Publikasi yang bermakna harus berangkat dari aktivitas nyata, pengalaman yang autentik, serta informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kegiatan di Al-Manar sekaligus menggambarkan bagaimana hubungan alumni dengan dunia pesantren dapat terus hidup melalui berbagai bentuk kontribusi. Pengabdian tidak selalu harus berbentuk program besar atau kegiatan formal yang panjang. Terkadang, kesempatan untuk berdiskusi beberapa jam dengan para guru sudah dapat menjadi awal tumbuhnya gagasan dan kebiasaan baru.
Bagi Madani, perjalanan profesional memang membawanya mengunjungi banyak daerah. Namun, pesantren tetap menjadi salah satu tempat yang ingin ia datangi, bukan hanya untuk mengingat dari mana ia berasal, tetapi juga untuk membagikan sebagian bekal yang telah diperolehnya.






















