Magang di luar negeri tak selalu berarti harus berangkat ke luar negeri. Dua mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida), Nanda Putri Vegi Novarina dan Ayunda Wiayanti, membuktikannya lewat magang jarak jauh dari rumah (work from home/WFH) di USIM Press, penerbit di bawah Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).
Dari Sidoarjo, keduanya dipercaya menjadi pembuat konten (content creator) yang menangani promosi buku terbitan USIM Press. Memasuki pekan ketiga, mereka menggarap dua video dan satu desain promosi buku untuk media sosial penerbit.
Bekerja Lintas Negara Tanpa Bertemu Langsung
Semua proses berlangsung secara daring. Arahan tugas, diskusi ide, hingga revisi dikoordinasikan melalui [WhatsApp/Google Meet/email] bersama [tim/pembimbing] USIM Press. Meski berjauhan, hasil kerja tetap harus selaras dengan gaya komunikasi dan kebutuhan penerbit.
“Awalnya kukira WFH itu bakal lebih santai, ternyata malah butuh disiplin lebih. Nggak ada yang ngingetin langsung, jadi kita harus pinter-pinter atur waktu sendiri,” ujar Nanda.
Ayunda menambahkan, “Yang paling kerasa tantangannya itu pas mau bikin konten yang relatable (terasa dekat dengan audiens). Kita kan nggak ada di sana, jadi harus bener-bener mikir audiensnya sukanya apa. Sempat bingung juga mau mulai dari mana, tapi lama-lama nemu polanya.”
Membuat Buku Terasa Dekat dengan Anak Muda
Salah satu fokus mereka adalah menyajikan konten yang sesuai dengan keseharian audiens. Nanda menuturkan, “Kami lihat konten soal buku di sana masih minim. Makanya pengen bikin yang lebih deket sama anak muda, biar buku nggak keliatan berat-berat amat.”
Penggunaan bahasa Indonesia dalam sebagian konten juga menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa Indonesia dan audiens penerbit di Malaysia. Kedekatan bahasa serumpun memudahkan pesan tersampaikan, meski ada perbedaan istilah atau gaya bahasa yang mereka temui.
Ilmu Kelas yang Langsung Dipraktikkan
Bagi Nanda dan Ayunda, magang ini menjadi ruang menerapkan ilmu yang mereka pelajari di Ikom Umsida, terutama [isi mata kuliah/keterampilan, misalnya produksi media, desain visual, atau komunikasi pemasaran]. Mereka belajar bahwa bekerja secara profesional tak hanya soal hasil akhir, tetapi juga ketepatan waktu, komunikasi yang jelas, dan keberanian menerima masukan.
“Buat yang mau magang daring, jangan takut duluan. Yang penting aktif komunikasi dan berani nanya kalau bingung. Jarak itu nggak jadi masalah kalau kita bertanggung jawab sama tugasnya,” pungkas Ayunda.
Program magang ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi lintas negara bisa dimulai dari hal sederhana, yakni memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkarya dan belajar langsung di dunia kerja.
penulis: Nanda Putri Vegi Novarina




















