Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Empat hari menjalani Tes Kemampuan Akademik (TKA) memberikan pengalaman tersendiri bagi murid kelas XII MAN 1 Yogyakarta. Di balik rangkaian ujian yang berlangsung pada 2–5 November 2026 itu, ada cerita tentang soal yang ternyata lebih mudah dari perkiraan, tantangan pada mata pelajaran pilihan, hingga pelajaran penting tentang persiapan sejak dini.
Agatha Razzani Sofyan, murid kelas XII C, mengaku cukup terkejut dengan tingkat kesulitan soal mata pelajaran wajib yang dihadapinya. Menurutnya, soal Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika Wajib relatif lebih mudah dari perkiraan, bahkan dibandingkan dengan soal-soal Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS).
“Awalnya saya memprediksi soalnya akan sulit atau memiliki level tinggi. Ternyata, alhamdulillah, lebih mudah daripada soal-soal ASAS. Mungkin pengalaman setiap murid berbeda-beda karena beberapa teman saya justru merasa mendapatkan soal yang sulit,” ungkapnya.
Namun, kesan berbeda dirasakannya ketika mengerjakan mata pelajaran pilihan. Memilih Ekonomi dan Sosiologi, Agatha menilai kedua mata pelajaran tersebut membutuhkan waktu dan konsentrasi ekstra untuk menyelesaikan soal.

Pengalaman serupa disampaikan Muhammad Azka Rizki Naufal, juga dari kelas XII D. Ia menilai soal-soal mata pelajaran wajib relatif mudah dan memiliki pola yang tidak jauh berbeda dari TKA tahun sebelumnya. Sebaliknya, mata pelajaran pilihan justru menjadi tantangan tersendiri.
“Untuk mata pelajaran wajib, surprisingly lumayan mudah dan polanya mirip tahun lalu. Namun, untuk mata pelajaran pilihan benar-benar sulit, menurut saya dan teman-teman,” ujar Azka.
Dari pengalaman tersebut, keduanya memiliki pesan yang hampir senada untuk adik-adik kelas. Aga, panggilan akrabnya, menyarankan agar persiapan TKA dilakukan sedini mungkin, bukan menunggu hingga mendekati waktu ujian.
Sementara itu, Azka mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara belajar, kesehatan, dan kesiapan mental. Menurutnya, belajar secara konsisten jauh lebih baik daripada memaksakan diri belajar berlebihan menjelang hari pelaksanaan.
“Selalu semangat dan belajar dari jauh-jauh hari supaya tidak keteteran. Jangan lupa berdoa, jaga kesehatan, dan jangan terlalu diforsir belajarnya kalau sudah mendekati hari H,” pesannya.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengapresiasi perjuangan seluruh murid kelas XII yang telah menyelesaikan rangkaian TKA. Menurutnya, TKA perlu disikapi sebagai bagian dari proses mengenali dan mengukur kemampuan akademik, bukan semata-mata sebagai beban menghadapi ujian.
“Yang terpenting, murid sudah berusaha memberikan kemampuan terbaiknya. Hasil memang penting, tetapi proses mempersiapkan diri, kedisiplinan belajar, dan kemampuan menghadapi tantangan juga merupakan bagian dari pembelajaran yang sangat berharga. Kami berharap pengalaman kakak-kakak kelas XII ini bisa menjadi bekal dan motivasi bagi adik-adik kelas untuk mempersiapkan diri lebih awal,” tuturnya.
TKA bertujuan mengukur dan memetakan capaian akademik murid secara objektif dan terstandar secara nasional. Hasilnya juga menjadi salah satu bahan pertimbangan sekaligus validator nilai rapor dalam jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan seleksi mandiri perguruan tinggi.
Pengalaman Aga dan Azka menjadi pengingat bahwa menghadapi TKA bukan perkara belajar dalam semalam. Persiapan yang konsisten, mengenali karakteristik mata pelajaran, menjaga kesehatan, dan tetap berdoa menjadi bekal penting. Sebab, ujian yang baik tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kesiapan diri. (dee)





















