JEMBER — MGMP Pemasaran Kabupaten Jember menyelenggarakan kegiatan penguatan kompetensi guru dengan tema “Skill Nyata, Hasil Terukur, Talenta Siap Industri” di SMK 2 Pancasila Jember, Minggu, 8 November 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ahmad Madani, praktisi pemasaran dan vokasi sekaligus Sekretaris Jenderal KOMISI, untuk berbagi strategi pembimbingan LKS Digital Marketing 2027.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembelajaran Pemasaran dan Bisnis Digital agar semakin dekat dengan kebutuhan industri. Di tengah perkembangan teknologi pemasaran, guru dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya mengajarkan penggunaan aplikasi, tetapi juga membantu siswa memahami strategi penjualan, perilaku konsumen, analisis data, dan kemampuan membangun reputasi profesional.
Ahmad Madani menjelaskan bahwa kompetensi digital marketing perlu dibangun secara menyeluruh. Keterampilan membuat konten tetap penting, tetapi harus memiliki keterkaitan dengan tujuan pemasaran. Sebuah video yang menarik, misalnya, belum tentu memberikan hasil bisnis apabila tidak menjangkau audiens yang tepat, tidak mempunyai pesan yang relevan, atau tidak mampu mendorong calon konsumen mengambil tindakan.
Melalui kerangka Build, Create, Convert, Analyze, dan Be Visible, peserta diajak melihat proses digital marketing secara utuh. Siswa perlu menguasai pembangunan akun profesional, penciptaan konten strategis, pengelolaan peluang penjualan, pengukuran performa, dan dokumentasi kompetensi.
Ketua MGMP Pemasaran Kabupaten Jember, Guntur Rayana Putra, S.Pd., dalam bahan keterangan kegiatan menekankan pentingnya forum MGMP sebagai ruang pembelajaran bersama. Menurutnya, penguatan pengetahuan guru mengenai perubahan kompetensi pemasaran akan membantu sekolah mengembangkan metode pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Kepala SMK 2 Pancasila Jember, Abd Rofi’udin, S.Ag., S.AB., turut menempatkan kolaborasi antarsekolah sebagai langkah penting dalam pengembangan pendidikan vokasi. Melalui forum semacam ini, guru memperoleh kesempatan memperkaya perspektif, berbagi pengalaman, dan mengembangkan pembelajaran berbasis praktik yang dapat dilaksanakan sesuai fasilitas masing-masing sekolah.
Sementara itu, Pengurus MGMP Pemasaran Kabupaten Jember, Nuning Islamiyah, S.E., menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan kegiatan. Materi yang diperoleh guru diharapkan tidak berhenti sebagai catatan seminar, tetapi dilanjutkan menjadi tugas nyata bagi siswa, seperti pengelolaan akun pemasaran, pembuatan konten, latihan komunikasi penjualan, serta evaluasi performa menggunakan data asli.
Salah satu pembahasan yang mendapat penekanan adalah personal branding siswa melalui LinkedIn. Melalui platform profesional tersebut, siswa yang memenuhi persyaratan penggunaan dapat belajar mendokumentasikan pengalaman proyek, mengomunikasikan hasil pekerjaan, serta memperlihatkan perkembangan kompetensinya secara bertahap.
Dalam perspektif pendidikan vokasi, personal branding perlu dibangun melalui bukti. Siswa tidak cukup hanya menuliskan bahwa dirinya menguasai digital marketing. Ia juga perlu mampu menunjukkan proyek yang pernah dikerjakan, tantangan yang dihadapi, kontribusi pribadi, dan pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi.
Peran KOMISI dalam kegiatan ini memperkuat gagasan bahwa pendidikan pemasaran membutuhkan keterhubungan yang lebih erat dengan dunia profesi sales. Melalui pengalaman para praktisi, sekolah dapat memperoleh gambaran mengenai keterampilan komunikasi, pencarian prospek, pengelolaan pelanggan, dan pemecahan masalah yang diperlukan di lapangan.
Komitmen tersebut sejalan dengan pengembangan program seperti Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas, yang bertujuan memperluas wawasan siswa mengenai profesi sales serta keterampilan yang dibutuhkan untuk menekuninya secara profesional.
Kegiatan MGMP Pemasaran Kabupaten Jember sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan vokasi tidak hanya dapat dinilai melalui prestasi kompetisi. Yang lebih penting adalah kemampuan siswa menerapkan pengetahuan, memahami proses kerja, menjaga integritas, dan menunjukkan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Skill nyata, hasil terukur, talenta siap industri bukan sekadar tema kegiatan, tetapi arah pembelajaran pemasaran yang perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi guru, sekolah, organisasi profesi, dan dunia industri.




















