Bantul, 18 September 2026 — Galon air mineral bekas yang biasanya berakhir sebagai barang tidak terpakai, di tangan siswa SLB Negeri 2 Bantul justru mendapat kehidupan baru. Galon tersebut dimanfaatkan menjadi wadah untuk menanam berbagai sayuran dalam kegiatan kokurikuler bertema “Tumbuh Bersama, Berkarya Bersama”.
Pada tahun pelajaran ini, tema tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kokurikuler di SLB Negeri 2 Bantul. Melalui kegiatan menanam, siswa diajak belajar dari lingkungan sekitar sekaligus terlibat langsung dalam proses membuat dan merawat kebun sayur sederhana.
Prosesnya dimulai dari menyiapkan galon bekas untuk dijadikan pot. Siswa ikut memotong dan mengecat galon, kemudian mengisinya dengan tanah sebagai media tanam. Setelah wadah siap, mereka mulai menanam berbagai jenis sayuran, yaitu kangkung, lombok, terong, dan tomat.
Bagi siswa, setiap tahapan menjadi pengalaman tersendiri. Mereka tidak hanya melihat bagaimana tanaman ditanam, tetapi ikut melakukan prosesnya secara langsung. Setelah tanaman ditanam, siswa juga belajar merawatnya dengan menyiram dan memperhatikan pertumbuhannya.
Dalam proses tersebut, mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2026 turut mendampingi siswa. Mahasiswa memberikan arahan pada setiap tahapan dan membantu ketika siswa mengalami kesulitan. Di sisi lain, siswa tetap diberi kesempatan untuk mencoba dan menyelesaikan tugasnya sendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Pendampingan ini membuat proses menanam tidak hanya menjadi aktivitas berkebun. Mahasiswa turut membantu menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa untuk aktif, berani mencoba, dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Seiring waktu, tanaman yang dirawat mulai tumbuh. Dari sana, siswa dapat melihat secara langsung bahwa tanaman membutuhkan perawatan dan perhatian agar dapat berkembang dengan baik. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran sederhana tentang kesabaran, tanggung jawab, dan konsistensi.
Ketika tanaman telah tumbuh dan siap dipanen, siswa kembali terlibat dalam prosesnya. Hasil tanaman yang telah dipanen kemudian diolah dan dimasak bersama. Rangkaian tersebut membawa siswa melewati proses yang lengkap, mulai dari memanfaatkan barang bekas, menanam, merawat, memanen, hingga mengolah hasil tanaman.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan berbagai keterampilan. Saat bekerja bersama, mereka belajar berbagi tugas dan bekerja sama. Ketika merawat tanaman, mereka belajar bertanggung jawab. Saat memanfaatkan galon bekas menjadi pot, mereka belajar bahwa barang yang sudah tidak digunakan masih dapat memiliki manfaat baru.
Hal sederhana tersebut sekaligus mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan. Pemanfaatan galon bekas menunjukkan bahwa upaya mengurangi barang terbuang dapat dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. SDG 4 menekankan pentingnya kesempatan pendidikan yang inklusif bagi semua, termasuk penyandang disabilitas, sedangkan SDG 12 mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Bagi mahasiswa Praktik Kependidikan UNY, keterlibatan dalam proses ini juga menjadi bagian dari pengalaman belajar di sekolah. Mendampingi siswa secara langsung memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar memahami kebutuhan siswa, memberikan bantuan yang sesuai, sekaligus melihat perkembangan siswa selama mengikuti rangkaian kegiatan.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dapat berlangsung melalui pengalaman sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Kebun sayur yang dibuat bersama menjadi ruang untuk belajar, bekerja sama, dan berkarya tanpa harus selalu berada di dalam kelas.
Pada akhirnya, “Tumbuh Bersama, Berkarya Bersama” bukan hanya tentang menghasilkan sayuran. Ada proses yang ikut tumbuh di dalamnya. Dari galon bekas, siswa belajar memanfaatkan kembali barang yang ada. Dari tanaman, mereka belajar merawat dan bertanggung jawab. Dari proses yang dilakukan bersama, mereka belajar bahwa setiap usaha dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Penulis: Izzah Muflihah, Mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2026 di SLB Negeri 2 Bantul

















