Pelataran, Pasuruan, (7/Juli/2026) — Kesadaran menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui program yang besar ataupun teknologi yang rumit. Berangkat dari gagasan sederhana untuk memanfaatkan limbah plastik yang kerap dianggap tidak memiliki nilai, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 98 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menghadirkan sebuah kegiatan edukatif berupa Pelatihan Pembuatan Keychain dari Tutup Botol Bekas yang disertai Sosialisasi Peduli Lingkungan di Balai Desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, pada 7 Juli 2026. Program yang melibatkan sekitar 20 peserta dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut bukan sekadar menjadi ruang belajar keterampilan, melainkan juga menjadi upaya nyata menanamkan kebiasaan mencintai lingkungan sejak usia dini melalui pengalaman yang menyenangkan, kreatif, dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemilihan anak-anak sebagai sasaran kegiatan bukan tanpa alasan. Berbagai penelitian mengenai pendidikan lingkungan menunjukkan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan akan lebih efektif apabila dikenalkan sejak usia dini melalui aktivitas yang bersifat partisipatif. Anak-anak cenderung lebih mudah memahami sebuah konsep ketika mereka terlibat secara langsung dibandingkan hanya menerima penjelasan secara lisan. Atas dasar itulah, mahasiswa KKN UINSA merancang kegiatan yang mengombinasikan penyampaian materi dengan praktik sederhana sehingga setiap peserta dapat melihat sekaligus merasakan bagaimana sampah plastik yang semula dianggap tidak berguna dapat berubah menjadi sebuah produk yang memiliki nilai guna dan nilai estetika.
Suasana Balai Desa Kalisat sejak awal kegiatan dipenuhi antusiasme peserta yang datang dengan rasa ingin tahu tinggi. Mereka mengikuti seluruh rangkaian acara secara aktif, mulai dari mendengarkan pemaparan materi hingga terlibat dalam setiap tahapan praktik pembuatan keychain. Pendekatan yang komunikatif dan interaktif membuat suasana belajar terasa lebih hidup. Tidak hanya mendengarkan penjelasan dari pemateri, para peserta juga diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, hingga berbagi pengalaman sederhana mengenai kebiasaan mereka dalam membuang sampah di lingkungan sekitar rumah maupun sekolah. Interaksi seperti ini menjadikan proses pembelajaran berlangsung lebih alami sekaligus memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle atau yang lebih dikenal sebagai konsep 3R. Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami peserta dengan rentang usia yang beragam. Mahasiswa KKN menjelaskan bagaimana peningkatan jumlah sampah plastik menjadi salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Peserta diajak memahami bahwa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memanfaatkan kembali barang yang masih layak digunakan, serta mendaur ulang limbah menjadi produk baru merupakan langkah sederhana yang mampu memberikan dampak positif apabila dilakukan secara konsisten.
Alih-alih menjadikan sosialisasi sebagai kegiatan yang bersifat satu arah, mahasiswa KKN mengemas penyampaian materi melalui diskusi ringan dan sesi tanya jawab yang mendorong partisipasi aktif peserta. Berbagai pertanyaan sederhana dilontarkan kepada anak-anak mengenai jenis sampah yang paling sering mereka temui, kebiasaan membuang sampah di rumah, hingga kemungkinan memanfaatkan barang bekas menjadi benda yang memiliki fungsi baru. Cara penyampaian seperti ini membuat materi yang semula terdengar teoritis menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta. Mereka tidak hanya memahami persoalan lingkungan sebagai sebuah isu besar, tetapi juga mulai menyadari bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya.
Setelah memperoleh pemahaman dasar mengenai pengelolaan sampah, kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik pembuatan keychain berbahan dasar tutup botol plastik bekas. Pada tahap inilah antusiasme peserta semakin terlihat. Mereka diajak mengenali proses sederhana dalam mengubah limbah plastik menjadi gantungan kunci yang menarik dan dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan pendampingan langsung dari mahasiswa KKN, setiap peserta mengikuti tahapan demi tahapan pembuatan keychain mulai dari menyiapkan bahan, menghias tutup botol sesuai kreativitas masing-masing, hingga merangkainya menjadi produk yang siap digunakan.
Metode pembelajaran berbasis praktik tersebut menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan. Anak-anak tidak hanya memperoleh informasi mengenai pentingnya daur ulang, tetapi juga mengalami sendiri proses transformasi sebuah benda yang semula dianggap sampah menjadi karya yang memiliki manfaat. Pengalaman tersebut memberikan kesan yang lebih mendalam dibandingkan sekadar mendengarkan penjelasan mengenai bahaya limbah plastik. Ketika hasil karya berhasil mereka selesaikan, muncul rasa bangga karena mampu menciptakan sesuatu dari barang yang sebelumnya tidak memiliki nilai. Pengalaman emosional seperti inilah yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan secara lebih berkelanjutan.
Bagi sebagian besar peserta, pelatihan ini menjadi pengalaman pertama mereka mengikuti kegiatan kreatif berbasis daur ulang. Selama ini, tutup botol plastik lebih sering dibuang begitu saja tanpa pernah terpikirkan bahwa benda tersebut masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Melalui pelatihan tersebut, cara pandang peserta terhadap sampah mulai berubah. Mereka menyadari bahwa tidak semua limbah harus berakhir di tempat pembuangan, karena sebagian di antaranya masih dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai pakai bahkan nilai ekonomi apabila dikembangkan lebih lanjut.
Selain menghasilkan sebuah keychain sebagai buah karya masing-masing, peserta juga membawa pulang pengalaman belajar yang bernilai. Mereka memperoleh pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukanlah sesuatu yang sulit ataupun membosankan. Justru melalui kegiatan kreatif, proses belajar menjadi lebih menyenangkan sehingga pesan-pesan mengenai kepedulian terhadap lingkungan lebih mudah diterima dan diingat. Pendekatan edukasi seperti ini dinilai mampu membangun hubungan emosional antara anak-anak dengan perilaku ramah lingkungan yang diharapkan terus terbawa hingga mereka tumbuh dewasa.
Koordinator Desa (Kordes) KKN Kelompok 98 UINSA, Muhammad Naufal Rafif R., mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang tidak berhenti pada penyampaian teori semata. Menurutnya, anak-anak akan lebih mudah memahami pentingnya menjaga lingkungan apabila mereka terlibat secara langsung dalam proses pengolahan limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Melalui praktik sederhana tersebut, peserta tidak hanya mengetahui konsep pengelolaan sampah, tetapi juga merasakan sendiri manfaat dari kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia menambahkan bahwa tingginya antusiasme peserta selama kegiatan menjadi gambaran bahwa anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap aktivitas baru yang bersifat kreatif. Respons positif tersebut menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat diterima dengan baik apabila dikemas menggunakan metode yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter peserta. Oleh karena itu, ia berharap semangat yang tumbuh selama pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, melainkan menjadi kebiasaan yang terus berkembang dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Apresiasi juga datang dari Kepala Desa Kalisat, Samhudi, yang menilai bahwa kegiatan mahasiswa KKN tersebut memberikan kontribusi positif terhadap upaya membangun budaya peduli lingkungan di tingkat desa. Menurutnya, pembiasaan memanfaatkan barang bekas sejak usia dini merupakan langkah yang penting karena dapat membentuk pola pikir generasi muda agar lebih bijaksana dalam mengelola sampah. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan sehingga semakin banyak anak-anak yang memahami bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh secara bersamaan.
Lebih jauh, kegiatan tersebut dinilai tidak hanya memiliki nilai edukatif, tetapi juga membawa pesan pemberdayaan masyarakat. Pengolahan limbah menjadi produk sederhana membuka wawasan bahwa barang bekas tidak selalu identik dengan sesuatu yang harus dibuang. Dengan kreativitas dan inovasi, limbah dapat diubah menjadi produk yang memiliki fungsi baru, bahkan berpotensi memberikan nilai ekonomi apabila dikembangkan melalui pelatihan lanjutan. Meski pelatihan kali ini masih berfokus pada edukasi dasar, gagasan tersebut menjadi benih penting dalam membangun budaya ekonomi sirkular di lingkungan masyarakat.
Berbagai program pengabdian masyarakat yang mengangkat tema pengelolaan sampah di berbagai daerah menunjukkan bahwa pendekatan berbasis praktik kreatif terbukti lebih efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dibandingkan metode sosialisasi konvensional. Kegiatan seperti pembuatan kerajinan dari limbah plastik, ecobrick, maupun pemanfaatan barang bekas menjadi produk bernilai telah banyak diterapkan sebagai media pendidikan lingkungan karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang konkret. Pelatihan yang dilaksanakan mahasiswa KKN UINSA di Desa Kalisat memiliki karakter yang sejalan dengan pendekatan tersebut, yakni menjadikan kreativitas sebagai pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sekaligus membangun kebiasaan positif sejak usia dini.
Melalui langkah sederhana yang berawal dari sebuah tutup botol plastik bekas, mahasiswa KKN Kelompok 98 UINSA berhasil menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Edukasi lingkungan tidak selalu membutuhkan fasilitas yang rumit maupun biaya yang besar, melainkan membutuhkan metode yang mampu menyentuh pengalaman peserta secara langsung. Ketika anak-anak mampu melihat sendiri bagaimana sampah berubah menjadi karya yang bermanfaat, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga belajar menghargai lingkungan dengan cara yang lebih nyata.























