Jakarta – Sekolah Pendidikan Kritis (SPK) Jakarta mengajak mahasiswa membangun tradisi berpikir yang berangkat dari pengalaman dan realitas sosial, bukan sekadar menghafal teori. Gagasan tersebut mengemuka dalam peringatan satu tahun SPK Jakarta yang digelar di Kopi Teungku Seulawah, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (30/7/2026).
Antropolog Pengetahuan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Dr. Moh. Faiz Maulana, mengatakan teori akan kehilangan makna jika tidak berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat.
“SPK harus menjadi ruang Candradimuka. Jangan hanya menjadikan SPK sebagai tempat berkegiatan. Jangan langsung berbicara tentang teori-teori besar, sementara lingkungan sekitar Anda sendiri tidak pernah Anda lihat,” ujarnya.
Menurut Faiz, pengalaman sehari-hari menyimpan banyak pengetahuan yang layak dipelajari. Karena itu, proses belajar tidak berhenti pada membaca buku, tetapi juga menuntut kemampuan mengamati, berdialog, dan merefleksikan realitas sosial.
Ia menilai ruang belajar alternatif seperti SPK memiliki peran penting dalam membangun tradisi berpikir kritis yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Selain membahas pentingnya pengalaman sebagai sumber pengetahuan, forum tersebut juga menyoroti tantangan pendidikan tinggi yang dinilai semakin berorientasi pada capaian akademik. Kondisi tersebut, menurut Faiz, perlu diimbangi dengan ruang refleksi agar pendidikan tidak kehilangan daya kritisnya.
Peringatan satu tahun SPK Jakarta menjadi momentum untuk memperkuat ruang belajar yang mendorong peserta membaca persoalan di sekitarnya, sekaligus menjadikan pengalaman sebagai pijakan dalam membangun pengetahuan.(*)






















