Coba perhatikan meja kasir saat membeli makanan, minuman, atau bahkan barang kebutuhan sehari-hari. QRIS semakin sering muncul sebagai salah satu pilihan pembayaran. Tinggal scan, masukkan nominal, lalu selesai.
Bagi pelanggan, prosesnya mungkin sesederhana itu.
Namun, bagi pemilik usaha, setiap transaksi sebenarnya meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar notifikasi pembayaran: data.
Data transaksi dapat menunjukkan berapa banyak uang yang masuk, kapan transaksi paling ramai, dan bagaimana pola pembayaran pelanggan. Pertanyaannya, setelah transaksi selesai, apakah data tersebut hanya menjadi riwayat pembayaran atau benar-benar dimanfaatkan untuk membantu pemilik usaha mengambil keputusan?
Pertanyaan ini semakin relevan karena penggunaan QRIS di Indonesia terus berkembang. Bank Indonesia mencatat bahwa hingga Juni 2026 terdapat 44,86 juta merchant QRIS dengan 96,68 persen di antaranya merupakan UMKM. Jumlah pengguna juga mencapai 65,77 juta. Pada semester I 2026, transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp1,12 kuadriliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital bukan lagi sesuatu yang hanya digunakan oleh bisnis besar. Bagi banyak UMKM, QRIS sudah menjadi bagian dari aktivitas usaha sehari-hari.
Dari transaksi menjadi informasi
Masalahnya, memiliki banyak data belum tentu berarti sebuah usaha sudah mampu memanfaatkannya.
Seorang pemilik kedai mungkin setiap hari menerima puluhan bahkan ratusan pembayaran melalui QRIS. Namun, kalau yang dilakukan hanya mengecek saldo masuk, data tersebut sebenarnya belum banyak membantu proses pengambilan keputusan.
Padahal, data transaksi bisa menjadi titik awal untuk melihat kondisi bisnis secara lebih jelas.
Misalnya, pemilik usaha dapat membandingkan penjualan harian, melihat periode yang paling ramai, kemudian menghubungkannya dengan biaya operasional. Jika pencatatan transaksi juga dikombinasikan dengan data produk, pemilik usaha bisa melihat produk mana yang paling banyak terjual dan kapan permintaannya meningkat.
Di sinilah data mulai berubah menjadi informasi.
Sederhananya:
Transaksi → data → informasi → evaluasi → keputusan.
Alur tersebut terdengar sederhana, tetapi justru sering terlewat dalam bisnis kecil. Digitalisasi akhirnya berhenti pada proses pembayaran, bukan berlanjut sampai proses pengelolaan usaha.
QRIS dan akuntansi manajemen: apa hubungannya?
QRIS sendiri bukan bagian dari akuntansi manajemen. QRIS merupakan sistem pembayaran. Namun, data dari transaksi yang terjadi melalui sistem pembayaran digital dapat menjadi salah satu input yang berguna dalam pengelolaan bisnis.
Dalam akuntansi manajemen, informasi keuangan digunakan oleh pihak internal untuk membantu perencanaan, pengendalian, evaluasi, dan pengambilan keputusan.
Artinya, angka penjualan bukan hanya untuk mengetahui “hari ini dapat omzet berapa”, tetapi juga dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang lebih strategis.
Apakah target penjualan sudah tercapai?
Apakah biaya operasional masih sebanding dengan pendapatan?
Kapan bisnis berada pada kondisi penjualan yang paling menguntungkan?
Produk mana yang perlu dipertahankan, dikurangi, atau justru ditambah?
Keputusan seperti itu membutuhkan informasi, bukan sekadar angka yang tersimpan di riwayat transaksi.
Penelitian mengenai informasi akuntansi manajemen pada UMKM juga menunjukkan pentingnya informasi tersebut dalam mendukung proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, data baru memiliki nilai ketika dapat membantu pemilik usaha memahami kondisi bisnis dan menentukan langkah berikutnya.
Omzet naik belum tentu laba ikut naik
Salah satu jebakan yang sering terjadi dalam bisnis adalah menganggap peningkatan omzet sebagai tanda bahwa usaha otomatis semakin sehat.
Padahal, belum tentu.
Bayangkan sebuah kedai mengalami peningkatan transaksi. Pembayaran melalui QRIS semakin ramai dan omzet naik. Pemilik usaha pun merasa bisnis sedang berkembang.
Namun, pada saat yang sama, harga bahan baku meningkat, biaya listrik bertambah, biaya kemasan naik, dan ada pengeluaran lain yang tidak ikut diperhatikan.
Kalau hanya melihat jumlah uang yang masuk, pemilik usaha bisa saja merasa kondisi bisnis baik-baik saja. Padahal, keuntungan sebenarnya belum tentu meningkat.
Di sinilah konsep dalam akuntansi manajemen seperti cost-volume-profit (CVP) atau analisis biaya, volume, dan laba menjadi relevan.
Pemilik usaha perlu melihat hubungan antara volume penjualan, biaya, dan laba. Data transaksi dapat membantu menggambarkan volume penjualan, tetapi tetap harus dikombinasikan dengan pencatatan biaya agar informasi yang dihasilkan tidak menyesatkan.
Jadi, QRIS dapat membantu menyediakan jejak transaksi, tetapi QRIS bukan pengganti pencatatan akuntansi.
Hal ini juga diperkuat oleh penelitian terbaru mengenai penggunaan QRIS dan literasi akuntansi pada UMKM. Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan QRIS secara sendiri tidak otomatis meningkatkan kualitas pencatatan keuangan. Literasi akuntansi tetap menjadi faktor penting agar teknologi pembayaran dapat benar-benar mendukung pengelolaan keuangan usaha.
Jangan sampai digital, tetapi tetap “buta data”
Digitalisasi sering kali dipahami sebatas menggunakan teknologi terbaru.
Sudah punya QRIS? Digital.
Sudah menerima pembayaran melalui smartphone? Digital.
Sudah tidak menggunakan uang tunai? Digital.
Padahal, transformasi digital dalam bisnis seharusnya tidak berhenti pada cara transaksi dilakukan. Ada tahap berikutnya yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana data yang dihasilkan dari transaksi tersebut digunakan.
Bagi UMKM, langkahnya sebenarnya tidak harus rumit.
Pemilik usaha bisa mulai dengan mencatat total penjualan setiap hari, memisahkan pemasukan dan pengeluaran usaha, kemudian melakukan evaluasi secara rutin. Data transaksi dari QRIS dapat dibandingkan dengan catatan penjualan dan biaya operasional.
Dari sana, pemilik usaha bisa mulai menemukan pola.
Misalnya, ternyata penjualan meningkat pada akhir pekan. Atau ada produk tertentu yang konsisten terjual lebih banyak. Bisa juga ditemukan bahwa omzet tinggi pada jam tertentu, tetapi biaya operasional pada periode tersebut justru terlalu besar.
Informasi seperti ini dapat menjadi dasar untuk menentukan stok, jam operasional, strategi harga, hingga keputusan mengenai produk yang akan diprioritaskan.
Penelitian mengenai penerapan QRIS pada sistem akuntansi berbasis cloud juga menunjukkan bahwa QRIS dapat membuat proses transaksi lebih cepat dan bukti pembayaran lebih rapi. Namun, integrasi otomatis dengan sistem akuntansi masih memiliki keterbatasan.
Artinya, teknologi memang membantu, tetapi tetap membutuhkan proses pengelolaan dan pemahaman dari pemilik usaha.
Dari “menerima pembayaran” menjadi “membaca bisnis”
Pada akhirnya, tantangan UMKM bukan lagi sekadar bagaimana menerima pembayaran secara digital.
Tantangannya adalah bagaimana membaca data yang muncul setelah transaksi terjadi.
QRIS bisa menjadi pintu masuk. Namun, setelah pintu itu terbuka, masih ada pekerjaan lain: mencatat, mengelompokkan, membandingkan, mengevaluasi, lalu mengambil keputusan.
Karena itu, pemilik usaha tidak perlu langsung membayangkan sistem akuntansi yang rumit atau analisis data yang canggih. Hal paling sederhana justru bisa menjadi awal: jangan biarkan data transaksi hanya menjadi riwayat pembayaran.
Sebab angka yang tidak pernah dibaca hanya akan menjadi angka.
Sebaliknya, ketika angka mulai dipahami, data dapat berubah menjadi informasi. Dan ketika informasi digunakan untuk menentukan langkah, di situlah data mulai memiliki nilai bagi bisnis.
Jadi, ketika semua transaksi sudah masuk QRIS, pertanyaannya bukan lagi sekadar “sudah digital atau belum?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Setelah datanya terkumpul, kita mau melakukan apa?”
Sumber
Bank Indonesia. (2026). 800 Tim Talenta Muda Siap Perkuat Inovasi Digital Nasional.
Apriliana, A. A., dkk. (2026). Pengaruh Penggunaan QRIS dan Literasi Akuntansi terhadap Kualitas Pencatatan Keuangan UMKM.
Zaimar, F. R. (2025). Implementasi QRIS pada Sistem Akuntansi Berbasis Cloud.
Nugraha, A. A. (2021). Penggunaan Informasi Akuntansi Manajemen dan Keefektifan Pengambilan Keputusan.




















