Malang – Dunia kedokteran selama ini identik dengan ruang akademik, laboratorium, rumah sakit, serta tuntutan pendidikan yang padat. Namun, di tengah rutinitas tersebut, muncul pula persoalan yang tidak selalu terlihat dalam ruang kuliah, yakni apatisme mahasiswa terhadap persoalan sosial dan dinamika di lingkungan kampus.
Di Malang, nama Muhammad Raynan Rizky Akbar mulai dikenal melalui aktivitasnya sebagai aktivis mahasiswa yang membawa isu sosial dan kebebasan sipil ke dalam lingkungan pendidikan kedokteran. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tersebut menjadikan ruang akademik tidak hanya sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kepedulian dan keberanian mahasiswa menyampaikan pendapat.
Aktivitas Raynan berkembang ketika ia terlibat dalam berbagai gerakan mahasiswa dan organisasi. Ia kemudian mendirikan Aktivis Indonesia pada Desember 2023 di Kediri, sebuah organisasi yang menjadi salah satu ruang baginya untuk mengembangkan kegiatan sosial dan advokasi mahasiswa.
Di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Raynan juga mengambil peran dalam berbagai isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan mahasiswa. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Menteri Aksi, Kajian, dan Propaganda BEM FK UB pada 2025. Posisi tersebut menjadi salah satu ruang yang mempertemukannya dengan berbagai persoalan mahasiswa sekaligus memperluas keterlibatannya dalam gerakan kampus.
Salah satu perhatian yang dibawanya adalah persoalan biaya pendidikan. Isu kenaikan Uang Kuliah Tunggal atau UKT menjadi bagian dari gerakan mahasiswa yang disuarakan di lingkungan kampus. Bagi Raynan, persoalan pendidikan tidak berhenti pada kualitas akademik, tetapi juga menyangkut akses dan kemampuan mahasiswa untuk bertahan menyelesaikan pendidikan.
Keterlibatannya kemudian meluas ke isu nasional. Dalam sejumlah aksi mahasiswa, Raynan turut membawa isu seperti penolakan terhadap RUU TNI, kritik terhadap represivitas aparat, Indonesia Gelap, serta gerakan Kawal MK. Ia juga disebut mengoordinasikan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Fakultas Ilmu Kesehatan dalam sejumlah aksi.
Bagi lingkungan pendidikan kedokteran, keterlibatan tersebut memiliki arti tersendiri. Mahasiswa kedokteran dikenal memiliki beban akademik yang tinggi sehingga aktivitas di luar kegiatan perkuliahan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sulit dilakukan. Raynan justru berusaha menunjukkan bahwa kesibukan akademik tidak harus membuat mahasiswa kehilangan kepedulian terhadap persoalan di sekitarnya.
Upaya membangun kesadaran itu juga terlihat melalui kritiknya terhadap budaya senioritas dalam pendidikan kedokteran. Melalui gagasan “Frasa Kronis”, Raynan mengangkat persoalan budaya hierarki, senioritas, demokrasi akademik, dan kebebasan berpikir di lingkungan pendidikan kedokteran.
Gagasan tersebut menjadi salah satu bagian yang membedakan aktivitas Raynan. Kritik terhadap lingkungan pendidikan tidak hanya disampaikan melalui aksi massa, tetapi juga melalui tulisan dan gagasan. Ia mencoba membawa persoalan yang sering dianggap sebagai kebiasaan internal kampus menjadi bahan diskusi yang lebih luas.
Dalam perspektif tersebut, aktivisme Raynan tidak semata-mata diarahkan untuk melakukan demonstrasi. Ia juga mendorong mahasiswa untuk berani mempertanyakan keadaan, membangun diskusi, dan menyampaikan kritik secara argumentatif.
Keterlibatan Raynan di organisasi mahasiswa kemudian berlanjut. Pada 18 April 2026, ia resmi dilantik sebagai Ketua Umum HMI Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya periode 2026/2027. Posisi tersebut semakin memperkuat perannya dalam mengembangkan ruang diskusi dan gerakan mahasiswa di lingkungan kedokteran.
Perjalanan tersebut membuat aktivitas Raynan tidak hanya berkutat pada persoalan internal Fakultas Kedokteran. Isu kemanusiaan, demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan sipil juga menjadi bagian dari perhatian yang dibawanya.
Raynan juga dikenal aktif mengangkat isu-isu yang sejalan dengan kampanye Amnesty International Indonesia, seperti kebebasan berekspresi, hak untuk berkumpul secara damai, perlindungan pembela HAM, dan penguatan ruang sipil di Indonesia.
Apa yang dilakukan Raynan pada akhirnya menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran tidak harus ditempatkan hanya sebagai calon tenaga medis. Mereka juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial. Pengetahuan medis dan kepedulian terhadap persoalan publik dapat berjalan beriringan.
Di Malang, aktivitas tersebut menjadi bagian dari dinamika baru gerakan mahasiswa kedokteran. Apatisme yang sebelumnya dapat muncul akibat padatnya aktivitas akademik perlahan ditantang melalui diskusi, organisasi, tulisan, hingga aksi kolektif.
Raynan mungkin bukan satu-satunya mahasiswa yang bergerak. Namun, konsistensinya membawa isu sosial ke dalam ruang pendidikan kedokteran membuat namanya menjadi salah satu figur yang menarik perhatian dalam perkembangan aktivisme mahasiswa kedokteran di Malang.
Dari ruang kuliah hingga jalanan, dari tulisan hingga organisasi, Muhammad Raynan Rizky Akbar memilih untuk menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang tidak boleh kehilangan kepekaan. Baginya, menjadi mahasiswa kedokteran bukan alasan untuk diam ketika melihat persoalan sosial, melainkan kesempatan untuk membangun keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
























