Coba perhatikan usaha makanan atau minuman yang sering kita temui. Pada jam makan siang, antrean pelanggan terlihat panjang. Pesanan terus masuk, stok barang cepat habis, dan uang dari penjualan bertambah setiap hari. Dari luar, usaha tersebut tampak berjalan dengan baik.
Namun, setelah semua kegiatan selesai, pemilik usaha justru merasa uang yang tersisa tidak sebanyak yang dibayangkan. Pendapatan memang masuk, tetapi uang juga terus keluar untuk membeli bahan baku, membayar sewa, listrik, kemasan, ongkos kirim, dan kebutuhan operasional lainnya.
Situasi seperti ini menimbulkan pertanyaan: kalau penjualan sedang ramai, mengapa keuntungan belum tentu terasa? Masalahnya tidak selalu terletak pada jumlah pelanggan. Bisa jadi, pemilik usaha belum memiliki gambaran yang jelas tentang biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang benar-benar diperoleh.
Di sinilah akuntansi manajemen menjadi relevan. Informasi biaya dan penjualan dapat membantu pemilik usaha memahami apa yang sedang terjadi, menentukan bagian yang perlu diperbaiki, serta mengambil keputusan berdasarkan perhitungan—bukan hanya perkiraan.
Dari Uang Masuk dan Keluar Menjadi Gambaran Usaha
Banyak usaha kecil memulai pencatatan dengan cara sederhana: uang yang diterima ditulis sebagai pemasukan, sedangkan uang yang dibayarkan dicatat sebagai pengeluaran. Langkah ini sudah bermanfaat, tetapi belum selalu cukup untuk menjawab apakah sebuah produk menguntungkan atau apakah biaya usaha masih terkendali.
Misalnya, sebuah kedai menjual kopi, teh, dan minuman cokelat. Dalam satu hari, produk kopi mungkin terjual paling banyak. Akan tetapi, kopi juga membutuhkan bahan baku tertentu, gelas, tutup, es, dan waktu kerja. Sementara itu, minuman lain mungkin terjual lebih sedikit, tetapi biaya pembuatannya juga lebih rendah.
Jika pemilik hanya membandingkan jumlah produk terjual, ia belum tentu mengetahui produk mana yang memberikan kontribusi keuntungan lebih besar. Informasi baru menjadi berguna ketika data penjualan dihubungkan dengan biaya yang relevan.
Alurnya dapat dipahami secara sederhana: catatan transaksi dan biaya → pengelompokan data → analisis → evaluasi → keputusan. Akuntansi manajemen membantu mengubah angka yang tersebar menjadi informasi yang dapat dipakai untuk mengelola usaha.
Apa Hubungannya dengan Akuntansi Manajemen?
Akuntansi manajemen adalah penggunaan informasi keuangan dan informasi operasional untuk membantu pihak internal merencanakan kegiatan, mengendalikan biaya, menilai kinerja, dan memilih tindakan yang sesuai. Informasi ini disusun berdasarkan kebutuhan pengelola usaha, sehingga tidak hanya berisi catatan masa lalu, tetapi juga dapat mendukung perencanaan ke depan.
Ikatan Akuntan Indonesia menjelaskan dalam materi akuntansi biaya dan manajemen bahwa informasi biaya bagi pihak internal dapat digunakan untuk menjalankan fungsi manajemen, seperti perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Sementara itu, panduan IFAC mengenai penentuan biaya menekankan bahwa informasi biaya yang relevan membantu organisasi mengevaluasi kinerja, merencanakan kegiatan, dan membuat keputusan manajerial.
Bagi UMKM, penerapannya tidak harus langsung menggunakan perangkat lunak yang mahal. Pemilik dapat memulai dengan tabel sederhana yang memuat penjualan harian, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya tetap, persediaan, dan hasil usaha. Hal yang terpenting adalah datanya konsisten dan benar-benar digunakan untuk mengevaluasi bisnis.
Omzet Besar Belum Tentu Berarti Untung Besar
Salah satu hal yang perlu dibedakan dalam menjalankan usaha adalah omzet dan laba. Omzet menunjukkan nilai penjualan dalam suatu periode, sedangkan laba diperoleh setelah pendapatan dibandingkan dengan biaya yang terkait. Karena itu, omzet yang meningkat tidak otomatis membuat laba ikut naik.
Bayangkan sebuah usaha makanan menerima pesanan lebih banyak dari biasanya. Untuk memenuhi permintaan, pemilik membeli bahan baku tambahan, menggunakan lebih banyak kemasan, dan menambah jam kerja karyawan. Jika biaya tambahan tersebut tidak diperhitungkan, pemilik mungkin merasa usahanya berkembang hanya karena penjualan meningkat.
Konsep analisis biaya-volume-laba atau Cost-Volume-Profit (CVP) dapat membantu melihat hubungan antara harga jual, jumlah produk yang terjual, biaya variabel, biaya tetap, dan laba. Analisis ini juga dapat membantu memperkirakan berapa banyak produk yang perlu dijual agar usaha mencapai titik impas atau break-even point.
Tentu saja, hasil perhitungan tetap bergantung pada kualitas data dan asumsi yang digunakan. Harga bahan baku dapat berubah, permintaan bisa naik turun, dan biaya tak terduga dapat muncul. Karena itu, analisis perlu diperbarui secara berkala, bukan hanya dibuat sekali lalu dibiarkan.
Anggaran Bukan Sekadar Rencana di Atas Kertas
Anggaran sering dianggap sebagai daftar rencana pengeluaran. Padahal, anggaran juga dapat menjadi alat pembanding untuk menilai apakah pelaksanaan usaha berjalan sesuai rencana. Pemilik dapat menetapkan perkiraan biaya bahan baku, target penjualan, biaya operasional, serta kebutuhan kas untuk periode tertentu.
Setelah periode berjalan, anggaran dibandingkan dengan hasil sebenarnya. Jika biaya bahan baku ternyata lebih tinggi, pemilik perlu mencari penyebabnya. Apakah harga pemasok naik? Apakah ada bahan yang terbuang? Apakah takaran produksi belum konsisten? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan tindakan yang perlu diambil.
Perbandingan ini harus dilakukan secara adil. Ketika jumlah produksi meningkat, beberapa biaya memang wajar ikut naik. Oleh karena itu, pemilik usaha perlu mempertimbangkan perubahan aktivitas usaha sebelum menyimpulkan bahwa biaya telah boros. Materi akuntansi biaya dan manajemen dari IAI juga membahas pentingnya membandingkan hasil aktual dengan anggaran yang sesuai dengan tingkat aktivitas.
Dengan cara tersebut, anggaran bukan hanya dokumen untuk disimpan, melainkan alat untuk belajar dari hasil usaha dan memperbaiki perencanaan berikutnya.
Mengendalikan Biaya Bukan Berarti Memotong Semuanya
Ketika keuntungan menurun, langkah yang sering terpikir adalah mengurangi pengeluaran sebanyak mungkin. Namun, tidak semua biaya sebaiknya dipotong. Mengurangi kualitas bahan baku, misalnya, mungkin menurunkan biaya dalam jangka pendek, tetapi bisa membuat pelanggan kecewa dan tidak kembali membeli.
Pengendalian biaya seharusnya berfokus pada penggunaan sumber daya secara lebih efektif. Pemilik usaha dapat memeriksa pemborosan bahan, menyesuaikan jumlah persediaan dengan permintaan, mengevaluasi pemasok, atau mengatur jadwal produksi agar lebih efisien. Pengeluaran yang mendukung kualitas dan kepuasan pelanggan tetap perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.
Penting juga untuk memisahkan uang pribadi dan uang usaha. Jika keduanya tercampur, pemilik akan kesulitan mengetahui berapa dana yang benar-benar tersedia untuk operasional, berapa keuntungan yang diperoleh, dan apakah bisnis mampu membiayai kebutuhannya sendiri.
Jadi, pengendalian biaya bukan sekadar mencari pengeluaran paling kecil. Tujuannya adalah memahami biaya mana yang memberi manfaat, mana yang bisa diperbaiki, dan bagaimana menjaga keseimbangan antara efisiensi, kualitas, serta keberlangsungan usaha.
Mulai dari Kebiasaan Kecil, Bukan Sistem yang Rumit
UMKM tidak harus menunggu sampai memiliki banyak karyawan atau cabang untuk mulai menerapkan akuntansi manajemen. Beberapa kebiasaan sederhana sudah bisa menjadi awal: mencatat transaksi setiap hari, menyimpan bukti pembelian, memisahkan biaya tetap dan biaya yang berubah mengikuti produksi, menghitung biaya per produk, serta meninjau hasil usaha setiap minggu atau bulan.
Pemilik juga dapat menetapkan beberapa ukuran sederhana, misalnya perubahan penjualan, biaya bahan baku dibandingkan dengan penjualan, jumlah barang rusak atau terbuang, serta produk yang paling banyak memberi kontribusi pada laba. Angka-angka tersebut sebaiknya digunakan untuk mengajukan pertanyaan dan mencari penyebab, bukan sekadar menjadi target yang dikejar tanpa melihat keadaan.
Pencatatan yang rapi juga membantu ketika usaha perlu menyiapkan laporan keuangan atau mengajukan pembiayaan. Ikatan Akuntan Indonesia menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) sebagai standar pelaporan keuangan yang disederhanakan bagi entitas yang memenuhi ruang lingkupnya. Walaupun akuntansi manajemen dan laporan keuangan memiliki tujuan yang berbeda, keduanya dapat saling melengkapi dalam membantu pemilik memahami keadaan usaha.
Dari Sekadar Menjual Menjadi Memahami Bisnis
Pada akhirnya, tantangan pelaku UMKM bukan hanya membuat produk laku atau mendatangkan pelanggan. Mereka juga perlu memahami apa yang terjadi di balik setiap penjualan: biaya apa yang timbul, produk mana yang memberikan hasil, apakah harga jual masih sesuai, dan apakah usaha memiliki dana yang cukup untuk terus berjalan.
Akuntansi manajemen tidak menjamin bahwa setiap keputusan akan selalu berhasil. Namun, informasi yang lebih jelas dapat mengurangi keputusan yang hanya didasarkan pada dugaan dan membantu pemilik mengenali masalah lebih awal. Data tetap perlu dibaca bersama kondisi pasar, kualitas produk, kebutuhan pelanggan, dan pengalaman menjalankan usaha.
Karena itu, ketika sebuah usaha terlihat ramai, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “berapa banyak yang terjual hari ini?”, tetapi juga “berapa biaya yang dikeluarkan, berapa keuntungan yang tersisa, dan apa yang bisa dipelajari dari hasil tersebut?”
Angka di dalam usaha bukan hanya catatan masa lalu. Ketika dipahami dan digunakan dengan tepat, angka dapat menjadi petunjuk untuk menentukan langkah berikutnya. Dari sanalah akuntansi manajemen membantu UMKM bukan sekadar bertahan menghadapi biaya, tetapi mengelola usahanya dengan lebih terarah.
Sumber
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Modul Level Dasar Akuntansi Biaya dan Manajemen, khususnya materi mengenai fungsi informasi biaya, pengendalian biaya, dan pengendalian anggaran. https://web.iaiglobal.or.id/assets/materi/Sertifikasi/CA/modul/abm/files/basic-html/page7.html
International Federation of Accountants (IFAC). (2009, 23 Juli). “New IFAC Publication Explains How Better Costing Can Result in Better Management Decision-Making.” https://www.ifac.org/news-events/2009-07/new-ifac-publication-explains-how-better-costing-can-result-better-management-decision-making
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). https://www.iaiglobal.or.id/v03/files/file_sak/emkm/files/basic-html/page9.html
Sumber gambar: Jakub Zerdzicki/Pexels.
Artikel Akuntansi Manajemen • Nur Asiah Rilita | Halaman























