Ketimpangan bukan sekadar soal jumlah uang, tetapi juga tentang akses terhadap aset, pendidikan, pekerjaan, dan peluang ekonomi.
Mengapa seseorang yang sudah memiliki banyak uang justru lebih mudah menambah kekayaannya, sementara orang yang penghasilannya pas-pasan sering kesulitan keluar dari kondisi yang sama? Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan gaya hidup atau kemampuan mengatur keuangan. Ada struktur ekonomi yang membuat kekayaan dapat berkembang lebih cepat bagi mereka yang sejak awal memiliki modal, aset, dan akses terhadap peluang.
Fenomena tersebut sering disebut sebagai ketimpangan ekonomi. Di Indonesia, persoalan ini masih terlihat dalam data terbaru. Badan Pusat Statistik mencatat **Gini Ratio Indonesia pada Maret 2026 sebesar 0,368**, naik dari 0,363 pada September 2025, meskipun masih lebih rendah dibanding 0,375 pada Maret 2025. Pada periode yang sama, proporsi pengeluaran yang dinikmati 40 persen penduduk terbawah mencapai 19,22 persen. ([Badan Pusat Statistik Indonesia][1])
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan tidak otomatis membuat distribusi hasil ekonomi menjadi merata.
# Kekayaan Menghasilkan Kekayaan
Perbedaan paling mendasar terletak pada kepemilikan aset. Orang yang memiliki rumah, tanah, saham, usaha, atau aset produktif lainnya mempunyai peluang memperoleh pendapatan bukan hanya dari bekerja, tetapi juga dari aset yang mereka miliki.
Ketika nilai properti meningkat atau sebuah usaha berkembang, pemilik aset dapat memperoleh keuntungan tanpa harus menambah jam kerja secara proporsional. Sebaliknya, seseorang yang hampir seluruh pendapatannya berasal dari gaji harus mengandalkan tenaga dan waktunya untuk memperoleh penghasilan.
Pola ini menciptakan efek berantai. Pendapatan yang lebih besar memungkinkan seseorang menabung dan berinvestasi lebih banyak. Investasi kemudian menghasilkan pendapatan tambahan yang dapat kembali diinvestasikan. Dalam jangka panjang, modal dapat tumbuh secara berlipat.
Bank Dunia sebelumnya juga menyoroti bagaimana konsentrasi kepemilikan aset finansial dan fisik menjadi salah satu sumber ketimpangan di Indonesia. Menurut kajian Bank Dunia, rumah tangga kaya memiliki akses yang jauh lebih besar terhadap aset yang menghasilkan pendapatan. ([World Bank][2])
Sebaliknya, masyarakat berpenghasilan rendah sering kali tidak mempunyai ruang yang cukup untuk membangun aset. Sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika terjadi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, sakit, atau kebutuhan mendadak, tabungan yang sedikit bahkan bisa habis.
#Bukan Hanya Soal Kerja Keras
Ungkapan bahwa seseorang menjadi kaya hanya karena bekerja lebih keras terdengar sederhana, tetapi realitas ekonomi jauh lebih kompleks.
Dua orang dapat bekerja sama keras dengan hasil yang berbeda karena mereka memulai dari kondisi yang berbeda. Seseorang yang tumbuh dalam keluarga berkecukupan mungkin memiliki akses pendidikan lebih baik, lingkungan yang mendukung, modal untuk memulai usaha, atau jaringan yang membantu mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, seseorang dari keluarga miskin dapat menghadapi hambatan sejak awal, bahkan sebelum memasuki dunia kerja.
Akses terhadap pendidikan dan keterampilan juga memainkan peran penting. Pekerjaan dengan produktivitas dan upah tinggi umumnya membutuhkan keterampilan tertentu. Mereka yang tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan atau pelatihan berkualitas lebih berisiko bertahan pada pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan rendah.
Ketimpangan juga dapat diwariskan. Anak dari keluarga yang memiliki aset tidak hanya berpotensi menerima warisan dalam bentuk uang atau properti, tetapi juga memperoleh lingkungan yang memberikan kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan. Sebaliknya, keluarga miskin dapat mengalami situasi sebaliknya ketika sumber daya terbatas membuat mereka sulit berinvestasi dalam pendidikan, kesehatan, maupun usaha.
#Kemiskinan Menurun, tetapi Kerentanan Tetap Ada
Penting untuk membedakan antara kemiskinan dan ketimpangan. Keduanya berkaitan, tetapi bukan hal yang sama.
Data BPS menunjukkan kondisi kemiskinan Indonesia membaik. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin turun menjadi **8,07 persen**, dibandingkan 8,47 persen pada Maret 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat 22,93 juta orang, turun 920 ribu orang dibandingkan setahun sebelumnya. ([Badan Pusat Statistik Indonesia][3])
Namun, seseorang yang sudah keluar dari garis kemiskinan belum tentu memiliki kondisi ekonomi yang aman. Penghasilan yang sedikit lebih tinggi dari kebutuhan minimum masih dapat membuat seseorang rentan ketika menghadapi kenaikan biaya hidup, kehilangan pekerjaan, atau keadaan darurat.
BPS sendiri mencatat garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Sementara itu, Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional yang berbeda untuk membandingkan kondisi antarnegara. Perbedaan metode ini menghasilkan angka yang berbeda dan tidak boleh disamakan begitu saja. ([Badan Pusat Statistik Indonesia][4])
Karena itu, persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari berapa banyak orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Perlu dilihat pula apakah masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendapatan, mengumpulkan aset, memperoleh pendidikan berkualitas, dan menghadapi risiko ekonomi tanpa kembali jatuh miskin.
#Memutus Rantai Ketimpangan
Jika kekayaan semakin mudah berkembang bagi mereka yang sudah memiliki modal, sementara masyarakat berpenghasilan rendah kesulitan mengumpulkan aset, maka persoalannya bukan sekadar bagaimana orang miskin harus bekerja lebih keras. Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Pendidikan yang berkualitas, lapangan kerja produktif, akses pembiayaan yang wajar, perlindungan sosial, pelayanan kesehatan, serta kesempatan memiliki dan mengembangkan aset merupakan bagian dari upaya memperbesar mobilitas ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi tetap penting karena menciptakan pekerjaan dan pendapatan. Namun, pertumbuhan yang tidak disertai kesempatan yang cukup luas dapat membuat sebagian masyarakat tertinggal dari manfaat perkembangan ekonomi.
Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin?” tidak memiliki satu jawaban sederhana. Kekayaan dapat berkembang karena kepemilikan aset, investasi, pendidikan, jaringan, dan peluang yang saling memperkuat. Kemiskinan pun dapat bertahan karena pendapatan rendah, keterbatasan aset, serta kerentanan terhadap berbagai guncangan.
Ketimpangan bukan berarti setiap orang harus memiliki jumlah kekayaan yang sama. Persoalan utamanya adalah apakah seseorang, terlepas dari tempat dan kondisi ketika ia dilahirkan, memiliki kesempatan yang cukup untuk memperbaiki kehidupannya. Di situlah kualitas sebuah perekonomian tidak hanya diukur dari seberapa besar kekayaan yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari seberapa luas kesempatan untuk meraihnya.
Oleh : Fahmi Susanti, SKM,. M.M. (dosen02024@unpam.ac.id)
Alisa Febriyanti (Alisafebriyanti1402@gmail.com)
Khairunnisa (khrnnsa62@gmail.com)
Nazwa Azizah .R. (ramamazdaazizah@gmail.com)
Robby Fadlan .R. (robbyfadlan06@gmail.com)



















