Contact Us
Login
Logout
Pelataran
Banner Publikasi Press Release Gratis
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Pelataran
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Kirim Tulisan
    • Login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Pelataran
No Result
View All Result
Home Opini

Kenapa Yang Kaya Semakin Kaya, Sementara Yang Miskin Sulit Beranjak?

Khairunnisa by Khairunnisa
21 September 2026
in Opini
A A
0
ilustrasi kesenjangan sosial 2mb1
852
SHARES
1.2k
VIEWS

 

Ketimpangan bukan sekadar soal jumlah uang, tetapi juga tentang akses terhadap aset, pendidikan, pekerjaan, dan peluang ekonomi.

Mengapa seseorang yang sudah memiliki banyak uang justru lebih mudah menambah kekayaannya, sementara orang yang penghasilannya pas-pasan sering kesulitan keluar dari kondisi yang sama? Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan gaya hidup atau kemampuan mengatur keuangan. Ada struktur ekonomi yang membuat kekayaan dapat berkembang lebih cepat bagi mereka yang sejak awal memiliki modal, aset, dan akses terhadap peluang.

Fenomena tersebut sering disebut sebagai ketimpangan ekonomi. Di Indonesia, persoalan ini masih terlihat dalam data terbaru. Badan Pusat Statistik mencatat **Gini Ratio Indonesia pada Maret 2026 sebesar 0,368**, naik dari 0,363 pada September 2025, meskipun masih lebih rendah dibanding 0,375 pada Maret 2025. Pada periode yang sama, proporsi pengeluaran yang dinikmati 40 persen penduduk terbawah mencapai 19,22 persen. ([Badan Pusat Statistik Indonesia][1])

Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan tidak otomatis membuat distribusi hasil ekonomi menjadi merata.

# Kekayaan Menghasilkan Kekayaan

Perbedaan paling mendasar terletak pada kepemilikan aset. Orang yang memiliki rumah, tanah, saham, usaha, atau aset produktif lainnya mempunyai peluang memperoleh pendapatan bukan hanya dari bekerja, tetapi juga dari aset yang mereka miliki.

Ketika nilai properti meningkat atau sebuah usaha berkembang, pemilik aset dapat memperoleh keuntungan tanpa harus menambah jam kerja secara proporsional. Sebaliknya, seseorang yang hampir seluruh pendapatannya berasal dari gaji harus mengandalkan tenaga dan waktunya untuk memperoleh penghasilan.

Pola ini menciptakan efek berantai. Pendapatan yang lebih besar memungkinkan seseorang menabung dan berinvestasi lebih banyak. Investasi kemudian menghasilkan pendapatan tambahan yang dapat kembali diinvestasikan. Dalam jangka panjang, modal dapat tumbuh secara berlipat.

Bank Dunia sebelumnya juga menyoroti bagaimana konsentrasi kepemilikan aset finansial dan fisik menjadi salah satu sumber ketimpangan di Indonesia. Menurut kajian Bank Dunia, rumah tangga kaya memiliki akses yang jauh lebih besar terhadap aset yang menghasilkan pendapatan. ([World Bank][2])

Sebaliknya, masyarakat berpenghasilan rendah sering kali tidak mempunyai ruang yang cukup untuk membangun aset. Sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika terjadi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, sakit, atau kebutuhan mendadak, tabungan yang sedikit bahkan bisa habis.

#Bukan Hanya Soal Kerja Keras

Ungkapan bahwa seseorang menjadi kaya hanya karena bekerja lebih keras terdengar sederhana, tetapi realitas ekonomi jauh lebih kompleks.

Dua orang dapat bekerja sama keras dengan hasil yang berbeda karena mereka memulai dari kondisi yang berbeda. Seseorang yang tumbuh dalam keluarga berkecukupan mungkin memiliki akses pendidikan lebih baik, lingkungan yang mendukung, modal untuk memulai usaha, atau jaringan yang membantu mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, seseorang dari keluarga miskin dapat menghadapi hambatan sejak awal, bahkan sebelum memasuki dunia kerja.

Akses terhadap pendidikan dan keterampilan juga memainkan peran penting. Pekerjaan dengan produktivitas dan upah tinggi umumnya membutuhkan keterampilan tertentu. Mereka yang tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan atau pelatihan berkualitas lebih berisiko bertahan pada pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan rendah.

Baca Juga

WhatsApp Image 2026 09 19 at 20.18.11

Stok Kebanyakan Bikin Rugi, Stok Kekurangan Bikin Lari: Mengelola Persediaan dengan Pendekatan Akuntansi Manajemen

20 September 2026
IMG 20260919 WA0013

Di Antara Ragu dan Keberanian

20 September 2026
WhatsApp Image 2026 09 19 at 08.38.35

Pemetaan Risiko sebagai Instrumen Manajemen Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

20 September 2026
Ilustrasi seorang perempuan diantara SMS dan AI dalam dunia digital (Generate AI)

Dari SMS ke AI, Evolusi Komunikasi Manusia

17 September 2026

Ketimpangan juga dapat diwariskan. Anak dari keluarga yang memiliki aset tidak hanya berpotensi menerima warisan dalam bentuk uang atau properti, tetapi juga memperoleh lingkungan yang memberikan kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan. Sebaliknya, keluarga miskin dapat mengalami situasi sebaliknya ketika sumber daya terbatas membuat mereka sulit berinvestasi dalam pendidikan, kesehatan, maupun usaha.

#Kemiskinan Menurun, tetapi Kerentanan Tetap Ada

Penting untuk membedakan antara kemiskinan dan ketimpangan. Keduanya berkaitan, tetapi bukan hal yang sama.

Data BPS menunjukkan kondisi kemiskinan Indonesia membaik. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin turun menjadi **8,07 persen**, dibandingkan 8,47 persen pada Maret 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat 22,93 juta orang, turun 920 ribu orang dibandingkan setahun sebelumnya. ([Badan Pusat Statistik Indonesia][3])

Namun, seseorang yang sudah keluar dari garis kemiskinan belum tentu memiliki kondisi ekonomi yang aman. Penghasilan yang sedikit lebih tinggi dari kebutuhan minimum masih dapat membuat seseorang rentan ketika menghadapi kenaikan biaya hidup, kehilangan pekerjaan, atau keadaan darurat.

BPS sendiri mencatat garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Sementara itu, Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional yang berbeda untuk membandingkan kondisi antarnegara. Perbedaan metode ini menghasilkan angka yang berbeda dan tidak boleh disamakan begitu saja. ([Badan Pusat Statistik Indonesia][4])

Karena itu, persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari berapa banyak orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Perlu dilihat pula apakah masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendapatan, mengumpulkan aset, memperoleh pendidikan berkualitas, dan menghadapi risiko ekonomi tanpa kembali jatuh miskin.

#Memutus Rantai Ketimpangan

Jika kekayaan semakin mudah berkembang bagi mereka yang sudah memiliki modal, sementara masyarakat berpenghasilan rendah kesulitan mengumpulkan aset, maka persoalannya bukan sekadar bagaimana orang miskin harus bekerja lebih keras. Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas.

Pendidikan yang berkualitas, lapangan kerja produktif, akses pembiayaan yang wajar, perlindungan sosial, pelayanan kesehatan, serta kesempatan memiliki dan mengembangkan aset merupakan bagian dari upaya memperbesar mobilitas ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi tetap penting karena menciptakan pekerjaan dan pendapatan. Namun, pertumbuhan yang tidak disertai kesempatan yang cukup luas dapat membuat sebagian masyarakat tertinggal dari manfaat perkembangan ekonomi.

Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin?” tidak memiliki satu jawaban sederhana. Kekayaan dapat berkembang karena kepemilikan aset, investasi, pendidikan, jaringan, dan peluang yang saling memperkuat. Kemiskinan pun dapat bertahan karena pendapatan rendah, keterbatasan aset, serta kerentanan terhadap berbagai guncangan.

Ketimpangan bukan berarti setiap orang harus memiliki jumlah kekayaan yang sama. Persoalan utamanya adalah apakah seseorang, terlepas dari tempat dan kondisi ketika ia dilahirkan, memiliki kesempatan yang cukup untuk memperbaiki kehidupannya. Di situlah kualitas sebuah perekonomian tidak hanya diukur dari seberapa besar kekayaan yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari seberapa luas kesempatan untuk meraihnya.

Oleh : Fahmi Susanti, SKM,. M.M. (dosen02024@unpam.ac.id)

Alisa Febriyanti (Alisafebriyanti1402@gmail.com)

Khairunnisa (khrnnsa62@gmail.com)

Nazwa Azizah .R. (ramamazdaazizah@gmail.com)

Robby Fadlan .R. (robbyfadlan06@gmail.com)

    Tags: kayaKenapa Yang Kaya Semakin KayamiskinSementara Yang Miskin Sulit Beranjak
    Share341Tweet213Share60Pin77SendShare
    Banner Publikasi Press Release Gratis
    Previous Post

    Waka Humas MAN 1 Yogyakarta Tancap Gas ‘Begal’ Akses Literasi Moderasi di Kemenag Pusat

    Khairunnisa

    Khairunnisa

      A student of the Faculty of Economics and Business at Pamulang University.

    Related Posts

    WhatsApp Image 2026 09 19 at 20.18.11

    Stok Kebanyakan Bikin Rugi, Stok Kekurangan Bikin Lari: Mengelola Persediaan dengan Pendekatan Akuntansi Manajemen

    20 September 2026
    IMG 20260919 WA0013

    Di Antara Ragu dan Keberanian

    20 September 2026
    WhatsApp Image 2026 09 19 at 08.38.35

    Pemetaan Risiko sebagai Instrumen Manajemen Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

    20 September 2026
    Ilustrasi seorang perempuan diantara SMS dan AI dalam dunia digital (Generate AI)

    Dari SMS ke AI, Evolusi Komunikasi Manusia

    17 September 2026
    Please login to join discussion
    Square Media Wanita

    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR
    Berita Utama

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR

    by Redaksi
    27 August 2026
    0

    Demo 27 Agustus: Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Sekitar Gedung DPR Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyiapkan...

    Read moreDetails
    IMG 20260813 WA0042

    Pilar Saga Ultimatum Provider: Jangan Lagi Pasang Kabel Fiber Optik di Atas Jalan

    14 August 2026
    Banjir di Suwawa Selatan. (foto BPBD PROV. Gorontalo)

    BPBD Imbau Warga Gorontalo Waspadai Hujan Lebat

    12 June 2026
    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    Presiden Prabowo Didampingi Menteri Trenggono Tinjau KNMP Leato Selatan

    15 May 2026
    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

    15 May 2026
    Rumah Prabu Half Page

    Berita Terkait

    ilustrasi kesenjangan sosial 2mb1

    Kenapa Yang Kaya Semakin Kaya, Sementara Yang Miskin Sulit Beranjak?

    21 September 2026
    WhatsApp Image 2026 09 21 at 9.12.24 AM

    Waka Humas MAN 1 Yogyakarta Tancap Gas ‘Begal’ Akses Literasi Moderasi di Kemenag Pusat

    21 September 2026
    20241011 1 putra

    Menepis Stigma Kampus Murah: Deretan Prestasi Mahasiswa Unpam di Tingkat Nasional

    21 September 2026
    WhatsApp Image 2026 09 20 at 7.16.55 PM

    Tampil Impresif di Depok, Waka Humas MAN 1 Yogyakarta Tebar Dampak dan Sabet Penghargaan

    20 September 2026
    IMG 3408

    Dinamika Ilmu Ekonomi: Konsep Dasar Hingga Perkembangan Modern

    20 September 2026
    WhatsApp Image 2026 09 20 at 4.21.15 PM

    Bangkit dari Kekalahan, Abel MAN 1 Yogyakarta Raih Juara 1 Pidato Bahasa Inggris PKM

    20 September 2026
    Pelataran

    Pelataran.com adalah portal media berita online yang terbuka untuk umum dan menerima kontribusi tulisan dari berbagai penulis. Tulisan yang dimuat dapat berupa berita, press release, opini, maupun bentuk tulisan lainnya.

    Segala konten yang dipublikasikan di Pelataran.com merupakan tanggung jawab penuh dari masing-masing penulis. Hak cipta atas isi tulisan, gambar, maupun video yang ditayangkan di situs ini sepenuhnya menjadi milik penulis atau pengunggah konten.

    Follow Us

    Pelataran.com

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 redaksi@pelataran.com

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Penting!

    Tulisan yang tidak disertai dengan foto atau gambar atau ilustrasi tidak akan dipublikasikan dan akan langsung dihapus oleh Redaksi. Gambar harus ada hubungannya dengan tulisan ya dan bukan foto selfie penulis

    Pemberitahuan!

    Pelataran.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan Pelataran.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    Iklan Banner Ucapan Selamat

    Pasang Iklan Banner Ucapan Selamat, Kenaikan Pangkat, Pelantikan dan Lain-Lain

    Iklan MC DSA Square
    • Privacy Policy
    • Panduan Komunitas Pelataran
    • Syarat dan Ketentuan Pelataran
    • Disclaimer
    • Mengapa Tulisan Belum Ditayangkan?
    • Contact Us

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Ekonomi & Bisnis
    • Internasional
    • Nasional
    • Properti
    • SBTV
    • Lainnya
      • Gaya Hidup
      • Teknologi
      • Otomotif
      • English
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Pariwisata
      • Pendidikan
      • Product Review
      • Sorot
      • Sport
      • Event
      • Opini
      • Profil
    • Kirim Tulisan
      • Login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita