Ambarawa (MAN 1 Yogya) — Belajar sejarah tidak selalu harus melalui buku dan ruang kelas. Menyaksikan langsung bangunan peninggalan masa lampau memberikan pengalaman tersendiri bagi murid untuk mengenal lebih dekat peristiwa dan jejak kehidupan pada masa lalu. Pengalaman tersebut diperoleh murid kelas X MAN 1 Yogyakarta melalui kunjungan edukatif ke Fort Willem I atau yang dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa, Rabu (04/11/2026).
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kokurikuler kelas X setelah pelaksanaan praktik Manasik Haji di Masjid Agung An-Nuur, Kota Mungkid, Magelang. Melalui kegiatan tersebut, murid diajak memperluas wawasan sejarah sekaligus mengenal salah satu bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.
Didampingi pemandu wisata, murid menyusuri kawasan benteng dan mendapatkan penjelasan mengenai sejarah serta fungsi bangunan pada masa lalu. Mereka juga mengamati arsitektur khas Eropa yang tampak dari susunan bata merah, dinding bangunan yang tebal, serta bentuk konstruksi yang masih memperlihatkan karakter bangunan pertahanan pada zamannya.
Sepanjang kunjungan, murid diperkenalkan dengan sejumlah bagian kompleks benteng, mulai dari barak pasukan, rumah petinggi, bekas rumah sakit, hingga menara pengawas. Penjelasan dari pemandu membantu murid memahami bahwa setiap bagian bangunan memiliki fungsi dan cerita sejarah tersendiri. Murid juga berkesempatan membaca berbagai informasi sejarah yang tersedia di kawasan tersebut.
Fort Willem I kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Ambarawa. Sebagian kawasan yang telah direstorasi dimanfaatkan untuk kegiatan wisata dan ruang publik, sementara bangunan serta komponen bersejarahnya tetap menyimpan nilai penting sebagai warisan budaya. Keberadaan benteng ini menjadi pengingat bahwa peninggalan sejarah tidak hanya dapat dinikmati dari sisi arsitekturnya, tetapi juga dipelajari melalui kisah dan perjalanan zaman yang menyertainya.

Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kunjungan edukatif semacam ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi murid. Menurutnya, mengenal sejarah secara langsung dapat membantu murid memahami materi secara lebih utuh sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap peninggalan budaya.
“Pembelajaran sejarah tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafal peristiwa. Murid perlu melihat secara langsung bukti-bukti sejarah agar dapat memahami nilai dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Kami berharap melalui kegiatan ini, murid semakin menghargai warisan budaya serta mampu mengambil hikmah dari perjalanan sejarah untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ungkap Edi.
Melalui kunjungan ini, murid memperoleh kesempatan untuk menghubungkan materi sejarah yang dipelajari di sekolah dengan bukti peninggalan masa lalu yang masih dapat dijumpai hingga sekarang. Pengalaman tersebut juga menumbuhkan kesadaran bahwa bangunan bersejarah bukan sekadar peninggalan fisik, melainkan sumber pengetahuan yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Kegiatan kokurikuler ini diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar murid melalui interaksi langsung dengan lingkungan sejarah dan budaya. Dengan mengenal jejak masa lalu, murid diharapkan tidak hanya memahami perjalanan sejarah, tetapi juga mampu mengambil pelajaran darinya untuk membangun wawasan dan cara pandang yang lebih luas terhadap masa depan. (mut)



















