Magelang (MAN 1 Yogya) — Memahami ibadah haji tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. Pengalaman mempraktikkan setiap tahapannya menjadi bagian penting agar murid dapat mengenal tata cara sekaligus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal inilah yang diwujudkan MAN 1 Yogyakarta melalui kegiatan praktik Manasik Haji Tamattu’ bagi murid kelas X di Masjid Agung An-Nuur, Kota Mungkid, Magelang, pada Rabu (04/11/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam pembelajaran kokurikuler lintas mata pelajaran agama ini memberikan kesempatan kepada murid untuk mempraktikkan rangkaian ibadah haji dan umrah secara langsung. Sebelum tiba di lokasi, murid putra terlebih dahulu mendapatkan arahan mengenai tata cara mengenakan kain ihram, penentuan miqat, pelafalan niat, hingga bacaan talbiyah. Pembekalan tersebut menjadi pengantar sebelum murid mengikuti setiap tahapan manasik.
Setibanya di Masjid Agung An-Nuur, murid mengikuti rangkaian praktik secara berkelompok dengan bimbingan pendamping. Simulasi diawali dengan rangkaian ibadah umrah, meliputi tawaf mengelilingi Ka’bah, salat sunah, minum air zamzam, sa’i antara Bukit Safa dan Marwah, serta tahallul. Setiap tahapan dilaksanakan secara berurutan agar murid dapat memahami keterkaitan antara satu rukun dengan tahapan ibadah berikutnya.
Pembelajaran kemudian berlanjut pada simulasi rangkaian ibadah haji. Murid diperkenalkan dengan tahapan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, serta pelaksanaan lempar jumrah di Mina. Mereka juga mempraktikkan tahapan lanjutan, seperti tahallul, tawaf ifadah, sa’i, hingga tawaf wada’. Melalui simulasi tersebut, murid memperoleh gambaran mengenai perjalanan ibadah haji sejak awal hingga akhir.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa praktik manasik haji memiliki nilai pembelajaran yang lebih luas daripada sekadar mengenalkan urutan pelaksanaan ibadah. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan karakter dan nilai-nilai keislaman dalam diri murid.
“Manasik haji bukan sekadar praktik untuk memahami tata cara ibadah, tetapi juga menjadi pembelajaran tentang kedisiplinan, kesabaran, kebersamaan, dan pengorbanan. Kami berharap murid tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu mengambil hikmah dari setiap rangkaian ibadah yang dipraktikkan,” ungkap Edi.
Selain memperdalam pemahaman fikih, kegiatan ini turut menghubungkan berbagai aspek pembelajaran agama, mulai dari sejarah Islam, akidah akhlak, hingga pengenalan doa dan istilah berbahasa Arab. Pendekatan tersebut menjadikan pembelajaran lebih kontekstual karena murid tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui praktik.
Melalui kegiatan manasik haji ini, MAN 1 Yogyakarta berharap murid dapat memahami ibadah haji secara lebih utuh, baik dari sisi tata cara maupun nilai spiritual yang menyertainya. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ibadah serta membentuk pribadi yang disiplin, sabar, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. (mut)




















