Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali mengingat keberanian para pemuda yang pada 1928 bersepakat untuk mempersatukan Indonesia. Kita mengenang semangat mereka melalui upacara, diskusi, tulisan, dan berbagai kegiatan yang mengangkat pentingnya peran generasi muda. Ada kebanggaan yang selalu hadir saat membicarakan Sumpah Pemuda, sebab sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai oleh orang-orang muda yang mempunyai keberanian dan tujuan bersama.
Namun, hampir satu abad setelah peristiwa bersejarah itu, barangkali kita perlu mengajukan pertanyaan yang berbeda. Bukan lagi sekadar bagaimana anak muda harus meneladani keberanian pendahulunya, melainkan bagaimana generasi yang lebih dewasa memperlakukan anak muda hari ini. Kita terus meminta mereka menjadi generasi unggul, menguasai teknologi, siap bekerja, berani berwirausaha, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Tetapi apakah kita sudah menyediakan kesempatan yang cukup untuk membantu mereka mewujudkannya?
Dalam berbagai pertemuan dengan siswa SMK, mahasiswa, dan santri, saya kerap menjumpai semangat yang mengesankan. Banyak di antara mereka memiliki rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan keinginan untuk menghasilkan sesuatu. Tidak sedikit pula yang mulai memikirkan masa depan keluarganya, mencari pilihan karier, atau mencoba memahami bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.
Sayangnya, potensi tersebut tidak selalu tumbuh dalam kondisi yang sama. Sebagian anak muda mempunyai akses terhadap perangkat teknologi, pembimbing yang mendukung, dan informasi karier yang melimpah. Sementara sebagian lainnya harus berusaha lebih keras hanya untuk memperoleh pengalaman yang bagi kelompok lain mungkin dianggap biasa. Keadaan ini mengingatkan kita bahwa kemampuan individu memang penting, tetapi lingkungan tempat seseorang tumbuh tidak boleh diabaikan.
Kesempatan adalah bagian dari keadilan
Selama ini kita cukup akrab dengan nasihat tentang kerja keras. Anak muda diminta tidak malas, tidak mudah menyerah, dan berani mengambil risiko. Pesan-pesan itu tetap diperlukan, tetapi menjadi tidak lengkap apabila kita melupakan bahwa seseorang juga memerlukan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Seorang siswa yang belum pernah mendapatkan pengalaman praktik tentu menghadapi tantangan berbeda dibandingkan siswa yang sejak awal mempunyai akses terhadap industri. Begitu pula seorang santri yang ingin mengembangkan kemampuan digital atau mahasiswa yang sedang membangun portofolio profesional. Mereka membutuhkan ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan dengan kenyataan.
Memberikan kesempatan bukan berarti menjanjikan keberhasilan. Kesempatan justru memungkinkan seseorang belajar dari pengalaman, menghadapi kesulitan, dan memahami tanggung jawab. Kita perlu memberikan kepercayaan bahwa anak muda mampu berkembang melalui proses, bukan menuntut mereka menunjukkan hasil sempurna sejak kesempatan pertama.
Dari nasihat menuju pendampingan
Banyak hal sebenarnya dapat dilakukan tanpa menunggu program besar. Seorang profesional dapat menyisihkan waktu untuk berbagi pengalaman di sekolah. Pelaku usaha bisa membuka kesempatan belajar tentang operasional bisnis. Seorang guru dapat membantu siswa menyusun portofolio, sedangkan komunitas dapat menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak muda bertanya tanpa takut dianggap tidak mampu.
Langkah-langkah semacam itu mungkin tampak sederhana, tetapi tidak selalu sederhana bagi orang yang menerimanya. Satu pertemuan dapat memperkenalkan sebuah profesi yang sebelumnya tidak dikenal. Sebuah kesempatan praktik dapat menumbuhkan keberanian untuk mencoba. Pendampingan yang konsisten dapat membantu seseorang melihat potensi dirinya dengan lebih jelas.
Di era kecerdasan buatan, kebutuhan terhadap pendampingan bahkan semakin penting. Teknologi menyediakan pengetahuan secara cepat, tetapi tidak selalu menyediakan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Anak muda tetap membutuhkan manusia lain yang dapat membantu mereka memahami konteks, menilai informasi, dan membangun tanggung jawab sosial.
Makna persatuan yang perlu diperluas
Bagi saya, semangat Sumpah Pemuda hari ini juga dapat dimaknai sebagai keberanian membangun kesempatan bersama. Persatuan tidak hanya berbicara tentang kesediaan menerima perbedaan, tetapi juga tentang kemauan memastikan kemajuan bangsa tidak meninggalkan sebagian generasinya.
Kita tentu berharap anak muda Indonesia mempunyai kemampuan yang semakin baik. Namun, harapan itu harus disertai kesediaan untuk memperbaiki lingkungan belajar, memperluas akses, dan memberikan kepercayaan. Tidak seharusnya kita terlalu cepat menyalahkan mereka karena belum berhasil, sementara jalan menuju keberhasilan belum benar-benar terbuka.
Hari Sumpah Pemuda bukan hanya undangan bagi anak muda untuk berani melangkah. Ia juga merupakan panggilan bagi kita yang lebih dahulu memperoleh pengalaman untuk membuka pintu bagi mereka yang sedang mencari jalan.
Sebab bangsa yang sungguh-sungguh percaya kepada generasi mudanya tidak hanya pandai menyebut mereka sebagai masa depan. Bangsa itu juga berusaha memastikan masa depan tersebut dapat mereka perjuangkan dengan kesempatan yang lebih adil.
























