Di era sekarang, nongkrong sambil ngopi di coffee shop kekinian, checkout barang lucu saat flash sale, sampai berburu makanan viral sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Apalagi dengan adanya media sosial, rasanya selalu ada tren baru yang sayang untuk dilewatkan.
Masalahnya, pernah nggak sih merasa uang baru masuk, tetapi tiba-tiba sudah menipis sebelum akhir bulan? Awalnya cuma beli kopi Rp30.000, lanjut jajan Rp25.000, lalu checkout barang karena diskon. Kelihatannya kecil, tetapi kalau dilakukan terus-menerus, pengeluarannya bisa bikin saldo rekening menangis.
Menikmati masa muda tentu bukan hal yang salah. Namun, jangan sampai kita lebih rajin mengikuti tren daripada mempersiapkan masa depan. Apalagi kalau punya impian membeli rumah sendiri, membangun usaha, atau hidup mandiri tanpa terus bergantung pada orang lain.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2016), perencanaan keuangan membantu seseorang menentukan tujuan keuangan, memperkirakan kebutuhan pada masa mendatang, dan mengelola uang agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi. Artinya, melek finansial bukan soal menjadi pelit, melainkan belajar mengatur uang supaya bisa menikmati hidup sekarang tanpa mengorbankan masa depan.
Lalu, bagaimana caranya agar Gen Z tetap bisa menikmati hidup sekaligus punya tabungan untuk masa depan? Yuk, mulai dari tiga tips berikut!
1. Terapkan Rumus 50/30/20, Biar Uang Nggak Cuma Numpang Lewat
Salah satu cara sederhana untuk mengatur keuangan adalah metode 50/30/20. Prinsipnya, pendapatan dibagi menjadi tiga bagian:
- 50% untuk kebutuhan: makan, transportasi, tagihan, dan kebutuhan pokok lainnya.
- 30% untuk keinginan: nongkrong, kopi kekinian, hiburan, dan belanja barang yang disukai.
- 20% untuk tabungan dan tujuan finansial: dana darurat, tabungan rumah, atau investasi sesuai profil risiko.
Misalnya, kamu punya pendapatan Rp5.000.000 per bulan. Sebanyak Rp2.500.000 dialokasikan untuk kebutuhan, Rp1.500.000 untuk keinginan, dan Rp1.000.000 untuk tabungan serta tujuan keuangan.
Pembagian ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Jika biaya hidupmu cukup tinggi, porsi kebutuhan mungkin perlu lebih besar. Yang penting, jangan sampai semua uang habis untuk keinginan, sementara tabungan selalu menunggu sisa.
2. Jangan Kalah Sama FOMO, Bedakan Butuh dan Cuma Pengen
Lihat teman nongkrong di tempat estetik, langsung ingin ikut. Melihat barang viral di TikTok, rasanya harus checkout. Padahal, belum tentu barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
Mulai biasakan diri bertanya sebelum membeli: “butuh atau ingin ikut tren?”
Coba terapkan aturan menunda pembelian selama 24–48 jam untuk barang yang bukan kebutuhan mendesak. Manfaatkan juga fitur pencatatan pengeluaran di aplikasi keuangan atau spreadsheet sederhana agar tahu ke mana uangmu pergi.
Ingat, diskon bukan berarti hemat kalau barangnya sebenarnya tidak kamu perlukan. Jangan sampai demi terlihat up to date di media sosial, kondisi keuangan justru tertinggal jauh.
3. Ubah Tabungan Jadi Target Nyata, Bukan Sekadar Niat
Menabung akan terasa lebih mudah ketika kamu punya tujuan yang jelas. Jangan cuma bilang, “Bulan depan harus hemat,” tetapi tentukan berapa uang yang ingin dikumpulkan dan kapan target itu ingin dicapai.
Contohnya, jika target uang muka rumah adalah Rp100.000.000, kamu bisa mulai menyusun rencana menabung sesuai kemampuan. Dengan menyisihkan Rp1.000.000 setiap bulan, dalam satu tahun kamu sudah mengumpulkan Rp12.000.000. Target tersebut memang membutuhkan waktu, tetapi kamu sudah mengambil langkah nyata.
Supaya konsisten, pisahkan rekening tabungan dari rekening untuk kebutuhan sehari-hari. Atur transfer otomatis setiap kali menerima gaji atau pendapatan. Jika ada penghasilan tambahan, kamu juga bisa mengalokasikan sebagian untuk mempercepat target keuangan.
Tidak harus langsung punya tabungan puluhan juta. Mulai dari nominal yang realistis, bangun dana darurat terlebih dahulu, lalu tingkatkan tabungan secara bertahap.
Menjadi Gen Z yang melek finansial bukan berarti harus berhenti nongkrong, tidak boleh ngopi, atau dilarang membeli barang lucu. Kita tetap boleh menikmati hasil kerja keras, selama tahu batas dan prioritas.
Jangan sampai hari ini kita sibuk mengejar validasi dari tren, tetapi beberapa tahun ke depan justru bingung karena tidak punya simpanan. Ingat, jangan cuma punya wishlist barang impian, tetapi punya juga financial goals. Boleh healing, boleh checkout, tetapi jangan lupa menyiapkan masa depan.
Oleh : Indah Cahyu Handini/ Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen Sarjana
Dosen Pengampu : Siti Nur’aidawati, S.Sos., M.M
Tugas Mata Kuliah Manajemen Keuangan & Perbankan
———
Otoritas Jasa Keuangan. (2016). Buku 9: Perencanaan Keuangan — Seri Literasi Keuangan Perguruan Tinggi. Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan.
























