BENGKULU – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Bengkulu memperkuat sinergi lintas sektor melalui Focus Group Discussion (FGD) Kelayan Binter di Kelurahan Kebun Keling, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu, Kamis (29/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Adeeva Kota Bengkulu ini menjadi langkah untuk membangun keterlibatan masyarakat dalam mendukung pembimbingan dan reintegrasi sosial Klien Pemasyarakatan.
FGD tersebut melibatkan Kepala Bapas Kelas I Bengkulu Aidil Jumidi, Camat Teluk Segara, jajaran Bapas, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat kelurahan, forum RT/RW, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, Tim Penggerak PKK, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Pertemuan ini menjadi ruang bersama untuk menyamakan pemahaman mengenai tugas Bapas sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam menjawab persoalan sosial di lingkungan masyarakat.
Dalam sambutannya, Kepala Bapas Kelas I Bengkulu Aidil Jumidi menekankan pentingnya membangun kerja sama antara Bapas, pemerintah daerah, aparat kewilayahan, dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pembimbingan Klien Pemasyarakatan tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan tugas petugas, tetapi juga membutuhkan dukungan lingkungan sosial agar proses kembali ke masyarakat dapat berjalan dengan baik.
“Kelayan Binter harus menjadi ruang kolaborasi yang nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Kami ingin membangun kepedulian bersama agar Klien Pemasyarakatan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri, menjalankan tanggung jawab sosial, dan kembali menjadi bagian dari masyarakat,” demikian pesan yang dapat dirangkum dari tujuan kegiatan. Pernyataan ini merupakan rumusan narasi, bukan kutipan langsung Kepala Bapas.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Kepala Seksi Bimbingan Klien Anak, Herman Suryadi, yang menjelaskan tugas dan fungsi Bapas dalam penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pendampingan, serta pengawasan Klien Pemasyarakatan. Materi berikutnya disampaikan Pembimbing Kemasyarakatan Madya, Beben Kurdiono, mengenai Kelayan Binter dan peran masyarakat dalam memperkuat jejaring sosial serta mendukung reintegrasi sosial.
Diskusi berlangsung dengan sejumlah masukan dari peserta. Perwakilan Kecamatan Teluk Segara mengharapkan agar forum Kelayan Binter ditindaklanjuti melalui kerja sama nyata dan keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat. Sementara itu, pendamping PKH Kelurahan Kebun Keling menyampaikan kebutuhan koordinasi dengan Bapas untuk mendukung penanganan warga penerima manfaat yang memerlukan pendampingan lintas sektor sesuai kewenangan masing-masing.
Peserta dari LPM juga meminta penjelasan mengenai prosedur Pembebasan Bersyarat (PB) serta penanganan anak yang berhadapan dengan hukum agar tidak selalu berujung pada pidana penjara. Pertanyaan tersebut menjadi masukan penting bagi peningkatan pemahaman masyarakat mengenai hak integrasi dan mekanisme penanganan perkara anak yang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak sesuai ketentuan hukum.
Berbagai masukan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Kelayan Binter perlu ditopang oleh komunikasi yang terbuka, koordinasi yang terarah, dan tindak lanjut yang dapat dirasakan masyarakat. Kolaborasi dengan perangkat kelurahan, RT/RW, tokoh masyarakat, aparat keamanan, serta pendamping sosial berpotensi membantu Bapas memahami kebutuhan lingkungan sekaligus memperkuat dukungan bagi Klien Pemasyarakatan.
Melalui FGD ini, Bapas Kelas I Bengkulu mendorong agar Kelayan Binter berkembang menjadi jejaring kemasyarakatan yang aktif dan berkesinambungan. Harapannya, pembimbingan tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban administratif, tetapi turut membuka ruang bagi penerimaan sosial, pemberdayaan, dan kesempatan kedua bagi Klien Pemasyarakatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat.


















