JEMBER – Warga Krajan, Ampel, Wuluhan, Jember, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW lewat pengajian umum pada Ahad (25/10/2026). Pesan sang kiai terdengar sederhana: jangan tinggalkan salat berjamaah, dan jangan bosan mendoakan anak. Acara bertajuk Pengajian Umum Istighotsah Dzikrussyafa’ah dan Pengajian Kitab Ihya’ Ulumiddin Juz 3 itu digelar Alumni Asuhan Darussalam Blokagung “Al Adab” Jember bersama masyarakat setempat. Pengajian diisi oleh KH. Moh. Hasyim Syafa’at.
Menurut Kiai Hasyim, peringatan maulid Nabi ibarat jagong bayi, tradisi berkumpul bersama keluarga dan tetangga untuk bersyukur atas lahirnya seorang bayi. Bedanya, yang dirayakan kali ini adalah kelahiran Nabi Muhammad. Ia mengajak jamaah bertanya pada diri sendiri: dari sekian banyak pengajian yang pernah diikuti, apa yang benar-benar sudah dijalankan? Kepada para santri, Kiai Hasyim mengingatkan agar tidak memutus sanad, yaitu mata rantai keilmuan yang tersambung kepada guru. Hubungan itu perlu dirawat supaya selalu ada pegangan, seperti anak yang terus dibacakan Fatihah oleh orang tuanya.
Anak diibaratkan barang yang diikat
Soal anak, Kiai Hasyim menyarankan orang tua rajin mendoakan dan menirakati buah hatinya. Anak dibacakan Fatihah sebanyak-banyaknya, ibarat barang yang diikat dengan tali supaya tidak hilang. Jika suatu hari anak mulai sulit diatur, kata beliau, Fatihah yang terus dibaca insyaAllah akan membuatnya kembali baik. Ia juga mengijazahkan bacaan Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun sebanyak tiga kali setiap selesai salat, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan patuh kepada Allah, Rasul, dan orang tua. Kiai Hasyim menambahkan, lebih baik orang tua yang repot asalkan anak hidup nyaman, daripada orang tua nyaman tetapi anaknya yang tidak nyaman. Suasana rumah pun ikut disinggung. Makan bersama keluarga, menurutnya, ikut menjaga keharmonisan rumah tangga.
Jamaah, dari Subuh sampai Isya
Kiai Hasyim menegaskan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah meninggalkan salat berjamaah. Meneruskan pesan gurunya, Mbah Yai Syafa’at, ia berpesan agar siapa pun yang mondok dan menjadi santri di sana tidak sekali-kali meninggalkan jamaah. Kalau jamaah dianggap enteng, silakan tanggung sendiri akibatnya. Salat tanpa jamaah, ujarnya, sering hanya menjadi cara untuk menggugurkan kewajiban. Beliau lalu menyebut pesan para guru tentang akibat meninggalkan jamaah di tiap waktu salat: Subuh: wajahnya tidak bersinar. Orang yang berjamaah Subuh berada dalam tanggungan Allah, dan meninggalkannya berarti menyia-nyiakan tanggungan itu. Zuhur: rezekinya kurang berkah. Ashar: badannya mudah ringkih dan sakit. Maghrib: anak-anaknya sulit diatur. Isya: tidurnya tidak membawa istirahat yang nyaman.
Berkah itu rasa cukup
Tentang rezeki, Kiai Hasyim mengutip ungkapan barokah iku ziyadatul khoir. Berkah, katanya, tidak selalu menambah jumlah, tetapi menambah rasa cukup. Bagi yang ingin melakukan riyadah agar rezeki lapang, ia mengijazahkan amalan setelah salat Subuh di tempat yang sama selama 41 hari tanpa terputus: Fatihah 7 kali, Al-Ikhlas 10 kali, Al-Waqi’ah 1 kali, dan Ya Karim Ya Wadud 1.000 kali. Untuk keseharian, ia menganjurkan tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali setelah salat, digenapkan dengan la haula wala quwwata illa billah hingga 100 kali. Dosa-dosa, kata beliau, akan diampuni sebanyak buih di lautan dan rezeki dimudahkan. Khusus alumni Blokagung, ia berpesan agar tidak lupa beristigfar 100 kali dalam sehari supaya hidup terasa lebih tenteram.
Ikhtiar batin untuk badan dan niat ke Tanah Suci
Untuk menjaga kesehatan, jamaah dianjurkan membaca ayat laqad ja’akum setidaknya sekali setiap selesai salat, dan lebih baik tujuh kali. Setelahnya dilanjutkan doa Allahummasyfi shudurana wa thahhir qulubana, yang oleh Kiai Hasyim diijazahkan sebagai amalan agar tubuh tetap sehat dan tidak mudah terserang stroke. Ada pula bacaan Ya Qawiyyu Ya Matin sebanyak 313 kali agar badan kuat dan sehat.
Bagi yang menyimpan keinginan berziarah ke Makkah dan Madinah, Kiai Hasyim mengijazahkan doa Allahummarzuqna nazuruhu wa balligna nazuruhu. Doa itu dibaca sekali pada sujud terakhir di rakaat terakhir salat Subuh, agar dimudahkan menuju Haramain.
Menghidupkan kembali Ihya’
Pengajian ditutup dengan kajian Kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Kiai Hasyim mengajak jamaah menghidupkan kitab itu dalam keseharian, bukan sekadar menamatkannya. Tidak harus khatam, ujarnya, yang terpenting mau terus mengaji, supaya kelak diakui sebagai murid Imam Ghazali.
Penulis: Muhammad Syarofi (Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur)






















