Pernah ngga, baru awal bulan saldo masih aman, tapi beberapa hari kemudian udah menipis karena terlalu sering checkout? Awalnya cuma ingin membeli satu barang yang sedang diskon. Namun, setelah melihat promo lain, gratis ongkir, dan cashback, akhirnya ada saja barang yang masuk ke keranjang belanja.
Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika terus dilakukan, pengeluaran bisa menjadi sulit dikendalikan. Apalagi sekarang transaksi semakin mudah melalui mobile banking, dompet digital, dan layanan paylater. Cukup menggunakan ponsel, kita sudah bisa membeli berbagai barang tanpa harus keluar rumah. Padahal, mengatur keuangan bukan hanya soal menyimpan uang, tetapi juga soal bagaimana menggunakan uang sesuai kebutuhan.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2017), literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai produk keuangan, tetapi juga sikap dan perilaku dalam menentukan tujuan serta mengambil keputusan keuangan. Artinya, memahami keuangan membantu kita lebih bijak menggunakan uang, bukan sekadar menahan diri untuk tidak berbelanja.

Lalu, bagaimana caranya agar tetap bisa menikmati kegiatan belanja tanpa membuat kondisi keuangan berantakan? Yuk, simak beberapa strategi berikut!
1. Jangan Asal Checkout, Kenali Prioritas Keuanganmu
Salah satu penyebab uang cepat habis adalah kebiasaan membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Diskon besar sering membuat kita merasa sedang berhemat, padahal sebenarnya kita mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak direncanakan.
Misalnya, membeli pakaian baru karena sedang tren, padahal pakaian di rumah masih banyak yang layak digunakan. Meskipun harganya murah, pengeluaran tersebut tetap bisa mengganggu anggaran bulanan jika dilakukan berulang kali.
Karena itu, penting untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan meliputi makanan sehari-hari, transportasi, biaya kuliah, dan keperluan penting lainnya. Sementara itu, keinginan bisa berupa membeli aksesori tambahan, mengikuti tren fashion, atau nongkrong di tempat yang sedang populer.
Bukan berarti semua keinginan harus dihindari. Kita tetap boleh menikmati uang yang dimiliki, asalkan kebutuhan utama sudah terpenuhi. Salah satu caranya adalah membuat anggaran bulanan dan menentukan batas pengeluaran untuk setiap kebutuhan.
Salah satu cara sederhana agar uang bulanan tidak cepat habis karena terlalu sering checkout adalah dengan menerapkan metode pembagian anggaran 55/30/15. Metode ini merupakan alternatif untuk membantu kita mengatur uang berdasarkan kebutuhan, tabungan, dan keinginan. Dengan pembagian yang jelas, kita tetap bisa menikmati kegiatan belanja tanpa mengabaikan kebutuhan penting dan tujuan keuangan di masa depan.
Dalam metode 55/30/15, uang bulanan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
• 55% untuk kebutuhan utama, seperti makan sehari-hari, transportasi, biaya kuliah, internet, dan keperluan penting lainnya.
• 30% untuk tabungan, yang dapat digunakan sebagai dana darurat, persiapan kebutuhan mendadak, atau mencapai tujuan keuangan di masa depan.
• 15% untuk keinginan, seperti membeli pakaian, nongkrong bersama teman, hiburan, atau checkout barang yang disukai.
Misalnya, seorang mahasiswa memiliki uang bulanan sebesar Rp2.000.000. Dengan menerapkan pembagian anggaran 55/30/15, perhitungannya menjadi:
• 55% × Rp2.000.000 = Rp1.100.000 untuk kebutuhan utama.
• 30% × Rp2.000.000 = Rp600.000 untuk tabungan.
• 15% × Rp2.000.000 = Rp300.000 untuk keinginan dan hiburan.
Melalui pembagian tersebut, kebutuhan sehari-hari tetap menjadi prioritas, sementara sebagian uang sudah disisihkan untuk tabungan. Kita juga masih memiliki anggaran untuk membeli barang yang diinginkan, tetapi jumlahnya dibatasi agar tidak berlebihan. Pembagian ini dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing, terutama jika kebutuhan utama lebih besar dari anggaran yang tersedia.
Jadi, sebelum tergoda diskon, cashback, atau promo gratis ongkir, pastikan pengeluaran masih sesuai dengan anggaran yang sudah dibuat. Jangan sampai keinginan checkout sesaat justru menghabiskan uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting atau tabungan.
2. Manfaatkan Layanan Perbankan, Jangan Cuma Buat Transfer
Di era digital, bank bukan hanya tempat menyimpan uang atau menerima penghasilan. Perbankan juga menyediakan berbagai layanan yang membantu masyarakat melakukan transaksi, menabung, dan memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan dapat membantu masyarakat memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan serta memahami manfaat, biaya, dan risikonya. Hal ini penting karena setiap produk perbankan memiliki fungsi dan ketentuan yang berbeda.
Salah satu layanan yang banyak digunakan adalah mobile banking. Melalui aplikasi ini, kita bisa memeriksa saldo, melakukan transfer, membayar tagihan, dan melihat riwayat transaksi dengan mudah. Jika dimanfaatkan dengan baik, riwayat tersebut bisa membantu kita mengetahui kebiasaan pengeluaran setiap bulan.
Selain mobile banking, ada beberapa produk perbankan yang perlu dikenal. Tabungan dapat digunakan untuk menyimpan uang dan memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari. Deposito bisa menjadi pilihan untuk menyimpan dana dalam jangka waktu tertentu sesuai ketentuan bank. Sementara itu, kredit bank menyediakan fasilitas pembiayaan yang harus dibayar kembali sesuai perjanjian.
Kita juga bisa memanfaatkan layanan perbankan untuk memisahkan uang kebutuhan seharihari dan uang tabungan. Dengan begitu, dana yang sudah disisihkan tidak mudah terpakai untuk belanja impulsif.
Namun, kemudahan transaksi digital tetap harus disertai kehati-hatian. Bank Indonesia mengingatkan masyarakat agar menjaga kerahasiaan PIN, kata sandi, dan kode OTP serta memeriksa tujuan pembayaran sebelum bertransaksi. Jadi, layanan perbankan sebaiknya tidak hanya digunakan untuk mempermudah belanja, tetapi juga membantu kita mengatur uang dengan lebih teratur dan aman.
3. PayLater Bukan Uang Tambahan, Jangan Sampai Terjebak Cicilan
Layanan paylater atau beli sekarang bayar nanti memang menawarkan kemudahan. Kita bisa membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, jika digunakan tanpa perhitungan, layanan ini bisa membuat pengeluaran semakin sulit dikendalikan.
Misalnya, seseorang membeli pakaian seharga Rp200.000, sepatu Rp350.000, dan aksesori Rp150.000 menggunakan paylater. Tanpa disadari, total pembeliannya sudah mencapai Rp700.000, belum termasuk biaya lain jika berlaku. Ketika tagihan jatuh tempo, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari akhirnya harus dialihkan untuk membayar cicilan.
Sebelum menggunakan paylater, pastikan barang yang dibeli memang diperlukan, periksa total tagihan, pahami biaya dan tanggal jatuh tempo, serta hitung kemampuan membayar.
Jangan menganggap fasilitas tersebut sebagai uang tambahan karena tetap ada kewajiban yang harus dilunasi.
OJK juga menekankan pentingnya memahami manfaat dan risiko produk keuangan sebelum menggunakannya. Karena itu, jangan mudah tergiur kemudahan pinjaman tanpa membaca ketentuan dan memastikan penyedia layanan memiliki izin yang sesuai.
Menggunakan paylater bukan berarti selalu salah, tetapi keputusan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Jangan sampai kesenangan membeli barang hari ini justru menjadi beban pada bulan berikutnya.
4. Healing Tetap Jalan, Tabungan Jangan Dilupakan
Mengatur keuangan bukan berarti harus berhenti menikmati hidup. Kita tetap boleh pergi bersama teman, menonton film, membeli makanan favorit, atau sesekali membeli barang yang diinginkan. Yang perlu dihindari adalah mengorbankan kebutuhan penting hanya demi memenuhi keinginan sesaat.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menyediakan anggaran khusus untuk hiburan. Misalnya, jika anggaran hiburan ditetapkan sebesar Rp150.000 per bulan, gunakan uang tersebut sesuai batas yang sudah ditentukan. Jika anggarannya habis, sebaiknya tunda pengeluaran tambahan sampai periode berikutnya.
Selain mengatur pengeluaran, biasakan menyisihkan uang untuk tabungan sejak awal menerima uang bulanan. Jangan selalu menunggu ada sisa karena sering kali uang sudah habis digunakan untuk berbagai keperluan.
Menurut OJK, dalam materi edukasi perencanaan keuangannya, perencanaan keuangan membantu seseorang menetapkan tujuan, memperkirakan kebutuhan mendatang, dan mengelola dana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan perencanaan yang baik, kita bisa memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus mempersiapkan kebutuhan di masa depan.
Contohnya, jika kita menyisihkan Rp100.000 setiap bulan, dalam satu tahun tabungan dapat terkumpul sebesar Rp1.200.000, tanpa memperhitungkan bunga atau biaya administrasi. Jumlah tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan mendadak atau tujuan keuangan lainnya.
Jadi, menikmati hidup dan menabung sebenarnya bisa berjalan bersama. Kuncinya adalah mengetahui batas pengeluaran dan membiasakan diri menyisihkan uang secara rutin.
5. Bijak Mengatur Uang, Biar Nggak Boncos di Akhir Bulan
Pada akhirnya, mengelola keuangan bukan berarti tidak boleh berbelanja atau harus selalu menghemat setiap rupiah. Kita tetap bisa menikmati promo, membeli barang yang disukai, dan menggunakan layanan perbankan selama memahami kemampuan keuangan sendiri.
Hal yang perlu dibiasakan adalah membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat anggaran, menggunakan layanan keuangan dengan bijak, serta menghindari utang yang tidak diperlukan. Jangan lupa menjaga keamanan transaksi digital dan menyisihkan sebagian uang untuk tabungan.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten, dampaknya bisa membantu kita menjadi lebih disiplin dalam menggunakan uang. Kita juga bisa lebih siap menghadapi kebutuhan mendadak tanpa harus selalu bergantung pada pinjaman.
Jadi, checkout boleh, menikmati promo juga tidak masalah. Namun, sebelum menekan tombol pembayaran, pastikan barang tersebut memang diperlukan dan uangnya sudah tersedia. Karena keuangan yang sehat bukan soal seberapa sering kita bisa membeli sesuatu, melainkan bagaimana kita mengatur uang agar kebutuhan hari ini terpenuhi dan masa depan tetap terencana.
Oleh : Siti Zahra / Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen Sarjana
Dosen Pengampu : Siti Nur’aidawati, S.Sos., M.M
Tugas Mata Kuliah Manajemen Keuangan & Perbankan
———
Otoritas Jasa Keuangan. (2017, 11 April). Siaran Pers: OJK Dorong Masyarakat Punya Sikap Keuangan (Financial Attitudes). Otoritas Jasa Keuangan.





















