Tidak semua siswa datang ke sekolah dengan kesempatan yang sama untuk memiliki buku. Ada yang bisa membeli novel dan berbagai bacaan tambahan, tetapi ada pula yang cukup mengandalkan buku paket dan LKS. Kondisi sederhana seperti inilah yang kemudian mendorong SMPN 35 Surabaya menghadirkan program pojok baca di setiap kelas.
Gagasan tersebut sebenarnya sederhana. Setiap kelas menyediakan tempat khusus untuk menyimpan berbagai bacaan, mulai dari novel, buku pengetahuan umum, hingga buku pelajaran. Koleksinya dikumpulkan dari uang kas kelas dan sumbangan siswa maupun guru. Buku yang sudah terkumpul kemudian dapat dibaca dan dipinjam oleh siapa saja.
Di balik kegiatan membaca tersebut, ada pelajaran ekonomi yang menarik. Buku tidak diperlakukan sebagai barang milik pribadi, tetapi sebagai sumber daya yang bisa digunakan bersama. Siswa yang mungkin tidak mampu membeli buku tambahan tetap mempunyai kesempatan untuk membaca buku yang sama dengan teman-temannya.
Jika dilihat dari perspektif ekonomi sosialis, pola seperti ini memiliki semangat yang serupa dengan gagasan pemanfaatan sumber daya secara kolektif. Sesuatu yang dikumpulkan melalui kontribusi bersama kemudian digunakan kembali untuk kepentingan bersama. Tujuannya bukan mencari keuntungan, melainkan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh sebanyak mungkin anggota kelompok.
Contohnya terlihat ketika sebagian uang kas kelas sebesar Rp100.000 digunakan untuk membeli beberapa buku. Keputusan tersebut tidak dibuat oleh satu orang. Penggunaannya dibicarakan bersama agar buku yang dibeli benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa. Setelah dibeli, buku tersebut juga tidak menjadi milik siswa yang mengusulkan atau membayarnya. Semua siswa memiliki hak yang sama untuk membaca dan meminjamnya.
Menurut pandangan ini, uang kas bukan sekadar kumpulan uang milik kelas. Ada tanggung jawab di baliknya. Uang yang berasal dari kontribusi bersama harus kembali memberikan manfaat kepada anggota kelompok. Karena itu, keputusan menggunakan dana kas untuk membeli buku menjadi contoh kecil bagaimana sumber daya bersama dikelola untuk memenuhi kebutuhan bersama.
Yang menarik, program ini juga tidak berhenti pada urusan buku. Ada kerja sama yang tumbuh di dalamnya. Guru dan siswa ikut menjaga keberadaan pojok baca. Siswa mendapat tanggung jawab untuk merapikan buku, mencatat peminjaman, dan memastikan koleksi tetap terawat.
Pembagian tugas tersebut menunjukkan bahwa fasilitas bersama membutuhkan kepedulian bersama pula. Tidak cukup hanya menikmati manfaatnya, setiap siswa juga memiliki kewajiban untuk menjaga agar fasilitas tersebut tetap bisa digunakan oleh teman-teman yang lain.
Di sinilah nilai solidaritas sosial terlihat. Program pojok baca tidak dirancang untuk menghasilkan keuntungan finansial. Orientasinya adalah memperluas akses terhadap sumber belajar dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan. Kepentingan bersama menjadi alasan utama mengapa sumber daya yang terbatas tetap diusahakan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Bila dibandingkan dengan sistem ekonomi yang lebih menekankan kepemilikan individu, pola seperti ini memperlihatkan sisi lain dalam mengelola sumber daya. Ada ruang untuk berbagi, ada keputusan yang dibuat melalui musyawarah, dan ada kesadaran bahwa fasilitas yang digunakan bersama harus dijaga bersama.
Pada akhirnya, pojok baca bukan hanya tempat menyimpan buku di sudut kelas. Dari sana, siswa belajar sesuatu yang lebih besar: bahwa tidak semua hal harus dimiliki sendiri untuk bisa dinikmati. Ada kalanya sebuah buku justru menjadi lebih berarti ketika dibaca bersama, dirawat bersama, dan manfaatnya bisa dirasakan oleh semua.
Penulis: Muhammad Syarofi dan Musyaffa Zahid Ahmad.I (Dosen dan Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur)



















