Kita sering mengira komunikasi selesai ketika sebuah kalimat telah disampaikan. Padahal, komunikasi baru benar-benar terjadi ketika pesan yang disampaikan dapat dipahami dalam konteks yang tepat.
Satu kata bisa terdengar biasa bagi seseorang, tetapi terasa merendahkan bagi orang lain. Sebuah candaan dapat dianggap ringan dalam satu lingkungan, tetapi menjadi penghinaan ketika dibawa ke ruang sosial yang berbeda. Bahkan sapaan yang menurut kita menunjukkan keakraban bisa dipahami sebagai bentuk ketidaksopanan oleh orang lain.
Di sinilah bahasa memperlihatkan hakikatnya, bahasa bukan sekadar kumpulan kata, melainkan bagian penting dari proses komunikasi yang selalu berhubungan dengan konteks sosial, budaya, pengalaman, dan relasi antarmanusia.
Karena itu, kemampuan berkomunikasi tidak cukup hanya dengan mengetahui apa yang hendak dikatakan. Kita juga perlu memahami kepada siapa kita berbicara, dalam situasi apa, dengan cara bagaimana, dan kemungkinan makna apa yang muncul dari pesan tersebut?
Bahasa, Identitas, dan Relasi Kuasa
Bahasa bukan sekadar alat untuk memindahkan informasi dari satu kepala ke kepala yang lain. Di dalamnya terdapat identitas, nilai, kebiasaan, bahkan relasi kuasa.
Dell Hymes, melalui gagasannya tentang ethnography of communication dan communicative competence, menunjukkan bahwa kompetensi berkomunikasi tidak hanya menyangkut kemampuan menggunakan bahasa secara gramatikal. Seseorang juga perlu mengetahui kapan harus berbicara, kepada siapa, dalam situasi apa, serta bagaimana cara menyampaikan sesuatu.
Artinya, kalimat yang secara bahasa benar belum tentu tepat secara komunikasi.
Cara seseorang menyapa orang lain, misalnya, dapat menunjukkan jarak sosial, kedekatan, penghormatan, atau bahkan posisi kekuasaan. Pilihan kata seperti “kamu”, “Anda”, “Bapak”, “Ibu”, “Pak”, atau “Bu” bukan hanya persoalan kosakata. Di dalamnya terdapat pesan sosial.
Karena itu, memahami bahasa berarti juga memahami manusia yang menggunakan bahasa tersebut.
Konteks Budaya Menentukan Makna
Persoalan menjadi semakin kompleks ketika komunikasi berlangsung di antara orang-orang dengan latar budaya berbeda.
Indonesia sendiri merupakan ruang komunikasi yang sangat beragam. Cara berbicara masyarakat Jawa belum tentu sama dengan masyarakat Sunda, Batak, Minangkabau, Bugis, Papua, atau kelompok budaya lainnya.
Perbedaan itu tidak selalu tampak dalam bahasa formal, tetapi dapat terlihat dalam cara menyampaikan kritik, menunjukkan rasa hormat, menolak permintaan, atau mengungkapkan ketidaksetujuan.
Edward T. Hall memperkenalkan gagasan mengenai budaya high-context dan low-context untuk menjelaskan bahwa masyarakat dapat memiliki cara berbeda dalam membangun dan memahami pesan.
Dalam komunikasi dengan konteks tinggi, sebagian makna dapat berada di luar kata-kata yang diucapkan. Nada suara, hubungan sosial, situasi, ekspresi, bahkan siapa yang berbicara dapat memengaruhi pemaknaan.
Karena itu, salah memahami sebuah pesan tidak selalu berarti seseorang memiliki niat buruk. Bisa jadi, mereka menggunakan kode komunikasi yang berbeda. Di sinilah sensitivitas sosial menjadi penting.
Kita tidak hanya perlu bertanya, “Apa yang saya maksud?” tetapi juga, “Bagaimana pesan saya mungkin dipahami oleh orang lain?”
Menjaga Muka, Menjaga Hubungan
Komunikasi pada dasarnya bukan hanya pertukaran pesan, tetapi juga pengelolaan hubungan. Deborah Tannen menunjukkan bahwa gaya percakapan dapat dipengaruhi oleh latar sosial, pengalaman hidup, serta kebiasaan komunikasi seseorang. Perbedaan gaya tersebut dapat menyebabkan pesan yang sama menghasilkan respons yang berbeda.
Seseorang mungkin merasa sedang bercanda, sementara orang lain merasa sedang dipermalukan. Seseorang merasa sedang berbicara terus terang, sementara lawan bicaranya merasakan serangan pribadi. Masalahnya menjadi lebih rumit ketika komunikasi berlangsung di ruang digital.
Media sosial memungkinkan sebuah kalimat berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain dalam hitungan detik. Pesan yang semula ditujukan kepada beberapa orang dapat dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang dengan latar belakang berbeda.
Pada saat yang sama, komunikasi digital sering kehilangan sebagian tanda nonverbal yang biasanya membantu manusia memahami maksud sebuah pesan: intonasi, ekspresi wajah, gestur, dan situasi langsung.
Akibatnya, ruang untuk salah tafsir menjadi semakin besar. Karena itu, semakin luas ruang komunikasi kita, semakin besar pula kebutuhan untuk berhati-hati dalam memilih kata.
Sensitivitas Bukan Berarti Takut Berbicara
Sensitivitas sosial dalam berbahasa bukan berarti kita harus takut berbicara. Bukan pula berarti semua orang harus selalu menggunakan bahasa yang steril dari perbedaan pendapat, kritik, atau ketegasan.
Komunikasi yang sehat justru membutuhkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu secara jujur. Namun kejujuran tidak harus menghilangkan penghormatan.
Kita dapat mengkritik gagasan tanpa merendahkan manusia.
Kita dapat berbeda pendapat tanpa menganggap orang lain bodoh.
Kita dapat bercanda tanpa menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan hiburan.
Dan ketika kata-kata kita ternyata melukai seseorang, kemampuan untuk mendengarkan dan mengakui dampaknya jauh lebih dewasa daripada sibuk mempertahankan niat. Sebab dalam komunikasi, niat memang penting. Tetapi dampak pesan juga penting.
Bahasa yang Merawat, Bukan Melukai
Pada akhirnya, kualitas komunikasi tidak hanya dapat diukur dari seberapa jelas pesan disampaikan. Ia juga dapat dilihat dari bagaimana komunikasi tersebut memperlakukan manusia yang menerima pesan.
Bahasa memiliki kemampuan untuk mendekatkan sekaligus menjauhkan. Ia dapat membangun kepercayaan, tetapi juga dapat menciptakan luka. Ia dapat membuka dialog, tetapi dapat pula menutup percakapan sebelum benar-benar dimulai.
Karena itu, sensitivitas dalam berbahasa bukan sekadar persoalan sopan santun. Ia merupakan bagian dari etika komunikasi. Kita perlu belajar mendengarkan sebelum menilai. Memahami konteks sebelum bereaksi.
Mengakui ketika sebuah kata ternyata melukai. Dan yang tidak kalah penting, menyadari bahwa orang lain membawa sejarah, pengalaman, luka, identitas, dan harga dirinya sendiri ke dalam setiap percakapan.
Bahasa pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang kita katakan. Bahasa adalah tentang bagaimana kita memperlakukan manusia melalui apa yang kita katakan. Di situlah komunikasi menemukan makna yang lebih dalam, bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi membangun jembatan antarmanusia.





















