LAMONGAN – SUKODADI – MENONGO – 29/07/2026 Di tengah padatnya jadwal pembelajaran akademik, MTs Muhammadiyah 20 Menongo Sukodadi memiliki satu tradisi unggulan yang terus dijaga dan dilestarikan turun-temurun: kegiatan Muhadhoroh. Bukan sekadar kegiatan tambahan atau rutinitas biasa, di madrasah ini Muhadhoroh telah tumbuh menjadi budaya wajib, ruh pembinaan karakter, serta ciri khas utama yang membedakan lembaga ini dengan institusi pendidikan lainnya. Melalui kegiatan ini, seluruh peserta didik mulai dari kelas 7, 8, hingga 9 dilatih secara bertahap agar terbiasa tampil percaya diri, berani menyampaikan pendapat, dan mampu menyajikan gagasan yang bermanfaat di hadapan khalayak ramai.
1. Makna dan Filosofi Muhadhoroh bagi Warga Madrasah
Secara bahasa, Muhadhoroh berarti latihan pidato atau ceramah. Dalam tradisi pendidikan pesantren dan madrasah, kegiatan ini menjadi media paling efektif untuk mengasah tiga pilar utama: kelancaran lisan, kekuatan mental, dan kedalaman ilmu.
Namun di MTs Muhammadiyah 20 Menongo, makna Muhadhoroh dirasakan jauh lebih dalam, yakni sebagai “Panggung Latihan Hidup”. Kami meyakini sepenuhnya bahwa anak-anak yang dididik di sini adalah calon pemimpin masa depan—kelak mereka akan menjadi guru, ustadz, tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, bahkan orator yang dipercaya di tengah masyarakat luas. Oleh sebab itu, keberanian berdiri di depan umum, menyuarakan kebenaran, dan didengar dengan penuh hormat harus dibangun dan dibiasakan sejak usia dini.
Tujuan utama pelaksanaan kegiatan ini adalah:
– Melatih kemampuan public speaking atau berbicara di depan umum;
– Membangun keberanian dan kepercayaan diri yang kuat;
– Menumbuhkan kefasihan berbahasa Indonesia maupun Arab;
– Memperkaya wawasan keagamaan, pengetahuan umum, sosial, dan motivasi diri.
2. Sistem Pelaksanaan: Rutin, Tertib, dan Berkeadilan
Keistimewaan Muhadhoroh di madrasah ini terletak pada manajemennya yang sangat terstruktur, rapi, dan merata bagi seluruh siswa.
Waktu dan Tempat
Kegiatan dilaksanakan setiap hari segera setelah Sholat Dzuhur berjamaah. Usai beribadah, seluruh siswa dan guru langsung berkumpul di mushola madrasah. Suasananya sederhana namun sangat khidmat: dinding yang bersih, lantai keramik yang rapi, serta mimbar kayu yang telah menjadi saksi perjalanan karakter siswa selama bertahun-tahun. Dalam dokumentasi kegiatan terlihat jelas kedisiplinan siswa: duduk bersila tertib, mengenakan seragam lengkap—putra dengan batik biru khas madrasah dan bawahan putih, putri dengan jilbab putih—tampil tenang dan menghargai acara.
Peserta: Semua Mendapat Bagian Giliran
Prinsip keadilan menjadi landasan utama. Tidak ada siswa yang hanya menjadi penonton pasif. Seluruh peserta didik kelas 7 hingga 9 masuk dalam jadwal giliran yang disusun sistematis. Setiap anak pasti akan merasakan dan menguasai empat peran vital: sebagai Pembawa Acara (MC), sebagai Penyampai Materi Muhadhoroh, sebagai Penyimpul/Pengulas, serta sebagai audiens yang aktif menyimak dan menghargai teman.
Struktur Acara yang Jelas dan Lengkap
Jadwal kegiatan disusun satu semester penuh dan ditempel di papan informasi madrasah agar dapat dipantau bersama. Satu rangkaian acara Muhadhoroh memuat unsur:
– Hari, tanggal pelaksanaan, dan waktu;
– Pembawa Acara (MC): bertugas membuka, memandu alur, dan menutup acara dengan bahasa yang runtut dan santun;
– Penyampai Materi: menyampaikan pidato/ceramah selama 5–10 menit sesuai tema yang dipilih;
– Tema/Judul: mencakup keagamaan, akhlak mulia, pendidikan, kepemimpinan, motivasi, hingga isu sosial aktual;
– Penyimpul: merangkum poin-poin penting agar pesan tersampaikan utuh;
– Pesan & Kesan Guru Pembina: ditutup dengan apresiasi, koreksi halus, serta motivasi membangun dari pendamping.
Melalui struktur ini, siswa belajar sekaligus tentang tata krama, kepemimpinan, berpikir sistematis, serta keterbukaan menerima masukan.
3. Suasana dan Proses Pembinaan yang Hangat
Saat kegiatan berlangsung, mushola berubah menjadi ruang pendidikan karakter yang hidup. Suasana tenang, penuh rasa hormat, dan bebas dari kegaduhan. Guru pembina duduk menyatu di tengah barisan siswa, bukan memisahkan diri di depan—sebagai wujud kesetaraan dan keakraban.
Setelah siswa selesai tampil, momen evaluasi berjalan hangat: ada tepuk tangan penghargaan, pujian atas kelebihan yang ditunjukkan, serta saran perbaikan yang membina. Materi yang disampaikan pun beragam: mulai kisah keteladanan sahabat Nabi, pentingnya berbakti pada orang tua, bahaya narkoba, hingga semangat meraih cita-cita. Semua dibawakan dengan gaya bahasa yang lugas, jujur, dan penuh kejujuran khas pelajar madrasah.
4. Manfaat Nyata dan Sistem Penilaian
Muhadhoroh di MTs Muhammadiyah 20 tidak berhenti sekadar “bisa naik mimbar”. Kegiatan ini mengemban empat pilar besar pembentukan diri:
Mental & Keberanian: Melatih siswa menaklukkan rasa takut dan grogi sejak awal, dari tampil di depan teman sekelas hingga siap di hadapan banyak orang;
Bahasa & Wawasan: Memperkaya kosakata, melatih kefasihan berbahasa, serta membiasakan menggali referensi dari Al-Qur’an, Hadits, dan sumber terpercaya;
Keterampilan Organisasi & Kepemimpinan: Belajar tanggung jawab waktu, memandu jalannya acara, hingga merangkum gagasan secara kritis;
Karakter & Akhlak: Melatih menghargai orang lain, mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, dan berbicara dengan adab yang luhur.
Lebih dari itu, Muhadhoroh di madrasah ini memiliki bobot akademik yang jelas. Materi dan kemampuan yang ditampilkan diuji dalam Ujian Sumatif di akhir semester, dengan penilaian mencakup isi materi, kefasihan bahasa, etika tampil, dan penguasaan panggung. Hal ini menegaskan bahwa Muhadhoroh adalah bagian penting dari kurikulum pembentukan diri, bukan kegiatan pelengkap semata.
Investasi Masa Depan
Tradisi Muhadhoroh ini menjadi salah satu keunggulan utama sekaligus identitas tak terpisahkan dari MTs Muhammadiyah 20 Menongo Sukodadi. Dari kegiatan sederhana yang berlangsung sekitar 15 menit setiap hari, kami sedang mencetak generasi yang tangguh dan berkualitas.
Hari ini mereka berlatih di podium kayu sederhana di mushola madrasah. Namun kami berkeyakinan: 10 tahun ke depan, merekalah yang akan berdiri tegap di mimbar masjid, di panggung seminar, di forum desa, bahkan memimpin bangsa ini dengan amanah.
Pendidikan karakter tidak harus selalu megah dan mahal. Seringkali hal besar bermula dari langkah kecil: keberanian satu anak maju ke depan, membuka suara, dan berbagi kebaikan.
Muhadhoroh bukan sekadar kegiatan. Ia adalah proses pembentukan jiwa.
Diterbitkan oleh: Tim Dokumentasi & Informasi MTs Muhammadiyah 20 Menongo Sukodadi

























