Bantul. Tradisi panjang produksi mie lethek di Bantul kini mulai bersentuhan dengan teknologi otomasi. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI), mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan NoodLeTech, sebuah sistem yang dirancang untuk membantu UMKM Mie Lethek Cap Garuda menghadapi persoalan kapasitas produksi, tingginya residu bahan, hingga keterbatasan pemantauan hasil produksi.
Program yang diketuai Mulisa Kusuma Wardani dari Program Studi Teknologi Informasi ini melibatkan Adit Setiyo Nugroho dari Pendidikan Teknik Elektro, Adrianus Fanny Setya Pradana dan Ahmad Danil dari Teknik Manufaktur, serta Yackia Zahra Nurachma dari Manajemen. Tim berada di bawah bimbingan Ir. Susilo Romadhon, S.Kom., M.Cs. Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan produksi mitra
Hasil observasi tim menunjukkan bahwa salah satu hambatan utama berada pada tahapan setelah mie dikukus hingga sebelum memasuki proses penjemuran. Pada bagian ini, proses pengacakan, pencetakan, dan penggulungan mie masih dilakukan secara manual dengan melibatkan sekitar 12 pekerja. Ketergantungan pada proses manual membuat pekerjaan membutuhkan tenaga yang relatif besar dan waktu yang lebih panjang. Di sisi lain, jumlah produksi masih dicatat secara manual sehingga pemantauan hasil produksi belum dapat dilakukan secara optimal.
Persoalan tidak berhenti pada efisiensi tenaga kerja. Proses pengacakan dan pencetakan manual juga menghasilkan residu dalam jumlah cukup besar. Dalam satu siklus produksi, residu dapat mencapai sekitar 85 kilogram. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu fokus utama dalam perancangan NoodLeTech.
NoodLeTech dikembangkan sebagai sistem otomasi yang menggabungkan beberapa mekanisme dalam satu rangkaian. Sistem tersebut terdiri atas mixer pengacak mie, mekanisme pencetakan dengan sistem linier aktuator, dua conveyor, serta sensor proximity yang digunakan untuk membantu pendataan produksi.
Integrasi tersebut membuat NoodLeTech tidak hanya berfungsi sebagai mesin mekanis. Sistem juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan data produksi dipantau secara real-time melalui dashboard berbasis web. Dengan pendekatan tersebut, aktivitas produksi dapat dipantau tidak hanya melalui proses fisik di lapangan, tetapi juga melalui data yang dihasilkan sistem.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam penerapan NoodLeTech adalah pemanfaatan bahan baku. Sebelum penerapan sistem, residu dari proses pengacakan dan pencetakan dapat mencapai sekitar 85 kilogram per siklus.
Dengan NoodLeTech, jumlah residu tersebut ditargetkan turun hingga sekitar 2 kilogram per siklus. Pengurangan residu memungkinkan lebih banyak bahan baku yang sebelumnya terbuang untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk mie lethek.
Efisiensi material tersebut juga memiliki hubungan langsung dengan potensi peningkatan hasil produksi. Semakin kecil bahan yang terbuang selama proses, semakin besar peluang bahan baku dikonversi menjadi produk. Karena itu, pengurangan residu menjadi salah satu bagian penting dari strategi peningkatan efisiensi produksi mitra.
Penerapan otomasi juga diarahkan untuk mengubah pola kerja pada tahapan produksi yang sebelumnya sangat bergantung pada tenaga manusia.
Rangkaian pengacakan, pencetakan, dan pendataan yang sebelumnya melibatkan sekitar 12 pekerja ditargetkan dapat dilakukan dengan sekitar 2 orang operator. Tenaga kerja yang tidak lagi berfokus pada tahapan tersebut dapat dialihkan untuk membantu bagian produksi lainnya sehingga pemanfaatan sumber daya manusia menjadi lebih optimal.
Pengembangan NoodLeTech dilakukan oleh tim mahasiswa lintas program studi. Tim diketuai Mulisa Kusuma Wardani dari Program Studi Teknologi Informasi, dengan anggota Adit Setiyo Nugroho dari Pendidikan Teknik Elektro, Adrianus Fanny Setya Pradana dan Ahmad Danil dari Teknik Manufaktur, serta Yackia Zahra Nurachma dari Manajemen. Program ini berada di bawah bimbingan Ir. Susilo Romadhon, S.Kom., M.Cs.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem karena NoodLeTech tidak hanya membutuhkan rancangan mekanis. Sistem juga membutuhkan pengendalian elektronik, pemantauan berbasis IoT, serta pendekatan manajemen agar teknologi yang dibuat dapat benar-benar menyesuaikan kebutuhan mitra.
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap, mulai dari identifikasi permasalahan, perancangan blok diagram, sistem elektronik, dan mekanis, hingga proses pembuatan serta perakitan alat di Fakultas Teknik UNY. Setelah menjalani pengujian fungsional, alat kemudian diimplementasikan di lokasi mitra melalui instalasi, pelatihan, pendampingan operasional, monitoring, dan evaluasi selama delapan minggu. Bagi tim, pengembangan NoodLeTech tidak berhenti pada keberhasilan membuat sebuah alat. Sistem tersebut diarahkan agar teknologi yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi dapat memberikan manfaat langsung terhadap persoalan produksi UMKM.
Ketua Tim PKM-PI UNY, Mulisa Kusuma Wardani, menyampaikan harapannya agar NoodLeTech dapat memberikan dampak bagi mitra sekaligus menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna.
“Kami berharap NoodLeTech tidak hanya mampu membantu meningkatkan optimalisasi produksi di UMKM Mie Lethek Cap Garuda, tetapi juga menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang dapat mendukung penguatan daya saing UMKM lokal secara berkelanjutan.”
Ke depan, keberlanjutan program akan didukung melalui pelatihan penggunaan alat, buku panduan, video tutorial, pendampingan teknis, serta evaluasi berkala. Tim juga membuka peluang pengembangan melalui pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan kemungkinan penerapan sistem serupa pada sentra UMKM mie lethek lainnya di Kabupaten Bantul. NoodLeTech pada akhirnya memperlihatkan bagaimana persoalan sederhana di lantai produksi dapat menjadi titik awal sebuah inovasi. Dengan menggabungkan otomasi mekanis dan IoT, tim PKM-PI UNY berupaya membawa proses produksi mie lethek menuju sistem yang lebih efisien, terukur, dan mampu memanfaatkan bahan baku secara lebih optimal, sekaligus tetap mempertahankan keberadaan produk tradisional sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat lokal.


















