Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Kapan sebuah kelas dapat dikatakan hidup? Apakah ketika guru berhasil menyampaikan seluruh materi, atau ketika murid benar-benar terlibat dan membangun pemahamannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari refleksi dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Pembelajaran Berpusat pada Murid dalam Praktik Pembelajaran Bahasa Inggris di Madrasah Aliyah yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Inggris DIY di MAN 2 Yogyakarta, Selasa (08/09/2026).
Mengusung semangat ‘Your Classroom, Your Experience’, kegiatan MGMP ini berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 14.30 WIB di Aula lantai 3 MAN 2 Yogyakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah materi dari para dosen UNY, di antaranya Dr. Nunik Sugesti, S.Pd., M.Hum., Dr. Rozanah Katrina Herda, S.Pd., M.Pd., Dr. Nuriska Noviantoro, S.Pd., M.Pd., serta Dr. Amri Bekti Utami, S.Pd., M.A. Para peserta tidak hanya memperoleh penguatan konsep, tetapi juga mengikuti sesi penyusunan skenario pembelajaran berpusat pada murid.
Dalam sambutannya, ketua MGMP Bahasa Inggris MA Nur Widyatuti, S. Pd., M. Pd menjelaskan bahwa pelatihan tersebut menjadi ruang bagi para guru Bahasa Inggris Madrasah Aliyah di DIY untuk tidak hanya mempelajari berbagai konsep pembelajaran, tetapi juga merefleksikan pengalaman nyata yang mereka hadapi di dalam kelas.” Melalui kegiatan ini, kami berharap guru tidak hanya pulang membawa pemahaman baru, tetapi juga memiliki ruang untuk melihat kembali pengalaman mengajarnya,” terang Nur.
Di tempat terpisah, Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengatakan pembelajaran yang baik tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan guru. Menurutnya, keterlibatan murid menjadi salah satu tanda bahwa proses pembelajaran benar-benar berlangsung.
“Guru tentu punya target materi, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana murid mengalami proses belajarnya. Kalau mereka aktif bertanya, berdiskusi, mencoba, bahkan menemukan cara berpikirnya sendiri, berarti kelas itu hidup,” ujar Edi.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelatihan tersebut adalah bagaimana menciptakan kelas yang benar-benar hidup. Kelas yang hidup tidak hanya ditandai oleh suasana yang ramai, tetapi oleh adanya konsentrasi dan keterlibatan penuh murid dalam proses pembelajaran. Ketika murid terlibat aktif dengan materi yang disampaikan, bertanya, berdiskusi, dan berusaha memahami, proses belajar pun tidak lagi hanya berlangsung satu arah. Pemateri, Dr. Nunik Sugesti, S.Pd., M.Hum., menegaskan bahwa yang perlu diperhatikan adalah apakah murid benar-benar terlibat dalam proses belajarnya atau sekedar beraktifitas. “Ketika mereka berkonsentrasi, merespons, bertanya, dan membangun pemahaman terhadap apa yang dipelajari, di situlah proses belajar sedang berlangsung,” jelas Nunik.
Dalam materi tentang pembelajaran berpusat pada murid, para peserta diajak melihat kembali perubahan peran guru di dalam kelas. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membantu murid menemukan, mengembangkan, dan mengonstruksi pengetahuannya sendiri. Dalam proses tersebut, murid juga perlu memiliki student’s agency, yaitu kesempatan untuk mengambil peran dan memiliki keterlibatan dalam proses belajarnya.
Berbagai tantangan yang sering muncul dalam kelas juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Salah satunya adalah ketika terdapat murid yang terlalu dominan, sementara murid lain cenderung pasif. Kondisi tersebut dapat direspons melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi, baik dalam aspek konten, proses, maupun produk pembelajaran, sehingga setiap murid memperoleh ruang yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Karena itu, “Your Classroom, Your Experience” bukan sekadar tema, melainkan pengingat bahwa pengalaman nyata guru di dalam kelas merupakan bagian penting dari proses belajar. Pembelajaran berpusat pada murid pada akhirnya bukan tentang menerapkan satu strategi yang sama untuk seluruh kelas, tetapi tentang bagaimana guru memahami muridnya dan terus belajar dari pengalaman yang mereka hadapi setiap hari. (luf)Yogyakarta (MAN 1 Yogya) – Kapan sebuah kelas dapat dikatakan hidup? Apakah ketika guru berhasil menyampaikan seluruh materi, atau ketika murid benar-benar terlibat dan membangun pemahamannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari refleksi dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Pembelajaran Berpusat pada Murid dalam Praktik Pembelajaran Bahasa Inggris di Madrasah Aliyah yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Inggris DIY di MAN 2 Yogyakarta, Selasa (08/09/2026).
Mengusung semangat ‘Your Classroom, Your Experience’, kegiatan MGMP ini berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 14.30 WIB di Aula lantai 3 MAN 2 Yogyakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah materi dari para dosen UNY, di antaranya Dr. Nunik Sugesti, S.Pd., M.Hum., Dr. Rozanah Katrina Herda, S.Pd., M.Pd., Dr. Nuriska Noviantoro, S.Pd., M.Pd., serta Dr. Amri Bekti Utami, S.Pd., M.A. Para peserta tidak hanya memperoleh penguatan konsep, tetapi juga mengikuti sesi penyusunan skenario pembelajaran berpusat pada murid.
Dalam sambutannya, ketua MGMP Bahasa Inggris MA Nur Widyatuti, S. Pd., M. Pd menjelaskan bahwa pelatihan tersebut menjadi ruang bagi para guru Bahasa Inggris Madrasah Aliyah di DIY untuk tidak hanya mempelajari berbagai konsep pembelajaran, tetapi juga merefleksikan pengalaman nyata yang mereka hadapi di dalam kelas.” Melalui kegiatan ini, kami berharap guru tidak hanya pulang membawa pemahaman baru, tetapi juga memiliki ruang untuk melihat kembali pengalaman mengajarnya,” terang Nur.
Di tempat terpisah, Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengatakan pembelajaran yang baik tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan guru. Menurutnya, keterlibatan murid menjadi salah satu tanda bahwa proses pembelajaran benar-benar berlangsung.
“Guru tentu punya target materi, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana murid mengalami proses belajarnya. Kalau mereka aktif bertanya, berdiskusi, mencoba, bahkan menemukan cara berpikirnya sendiri, berarti kelas itu hidup,” ujar Edi.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelatihan tersebut adalah bagaimana menciptakan kelas yang benar-benar hidup. Kelas yang hidup tidak hanya ditandai oleh suasana yang ramai, tetapi oleh adanya konsentrasi dan keterlibatan penuh murid dalam proses pembelajaran. Ketika murid terlibat aktif dengan materi yang disampaikan, bertanya, berdiskusi, dan berusaha memahami, proses belajar pun tidak lagi hanya berlangsung satu arah. Pemateri, Dr. Nunik Sugesti, S.Pd., M.Hum., menegaskan bahwa yang perlu diperhatikan adalah apakah murid benar-benar terlibat dalam proses belajarnya atau sekedar beraktifitas. “Ketika mereka berkonsentrasi, merespons, bertanya, dan membangun pemahaman terhadap apa yang dipelajari, di situlah proses belajar sedang berlangsung,” jelas Nunik.
Dalam materi tentang pembelajaran berpusat pada murid, para peserta diajak melihat kembali perubahan peran guru di dalam kelas. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membantu murid menemukan, mengembangkan, dan mengonstruksi pengetahuannya sendiri. Dalam proses tersebut, murid juga perlu memiliki student’s agency, yaitu kesempatan untuk mengambil peran dan memiliki keterlibatan dalam proses belajarnya.
Berbagai tantangan yang sering muncul dalam kelas juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Salah satunya adalah ketika terdapat murid yang terlalu dominan, sementara murid lain cenderung pasif. Kondisi tersebut dapat direspons melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi, baik dalam aspek konten, proses, maupun produk pembelajaran, sehingga setiap murid memperoleh ruang yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Karena itu, “Your Classroom, Your Experience” bukan sekadar tema, melainkan pengingat bahwa pengalaman nyata guru di dalam kelas merupakan bagian penting dari proses belajar. Pembelajaran berpusat pada murid pada akhirnya bukan tentang menerapkan satu strategi yang sama untuk seluruh kelas, tetapi tentang bagaimana guru memahami muridnya dan terus belajar dari pengalaman yang mereka hadapi setiap hari. (luf)





















