Yogyakarta – Keterampilan hidup (life skills) menjadi bekal penting bagi peserta didik berkebutuhan khusus agar mampu mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu keterampilan dasar yang perlu dikuasai adalah menyiapkan makanan sederhana, seperti menyeduh bubur siap saji. Keterampilan ini juga perlu dikenalkan kepada siswa dengan hambatan penglihatan dan intelektual (MDVI) melalui pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberikan pelatihan membuat bubur siap saji kepada siswa MDVI di SLB, Yogyakarta, pada Rabu, 16 September 2026. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Modul Ajar Praktik Ke 8 (Area Bekerja) dan berfokus pada pengenalan bahan, alat, serta praktik menyeduh bubur secara bertahap.
Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai bahan dan alat yang digunakan, seperti bubur instan, air panas, mangkuk, dan sendok. Siswa dikenalkan dengan benda-benda tersebut melalui sentuhan (kinestetik/taktil). Selain mendengarkan penjelasan, siswa juga diberi kesempatan untuk meraba kemasan bubur instan, mangkuk, dan sendok sebelum mengikuti praktik secara terbimbing.
“Bubur instan adalah bahan utama untuk membuat bubur siap saji, air panas digunakan untuk menyeduh; mangkuk sebagai wadah dan sendok untuk mengaduk” jelas Rizki Azizha Akmaluniza, salah satu mahasiswa PK UNY yang memberikan materi dalam pelatihan.
Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai bahan dan alat yang digunakan, seperti bubur instan, air panas, mangkuk, dan sendok. Siswa dikenalkan dengan benda-benda tersebut melalui sentuhan (kinestetik/taktil). Selain mendengarkan penjelasan, siswa juga diberi kesempatan untuk meraba kemasan bubur instan, mangkuk, dan sendok sebelum mengikuti praktik secara terbimbing.
“Bubur instan adalah bahan utama untuk membuat bubur siap saji, air panas digunakan untuk menyeduh, mangkuk sebagai wadah, dan sendok untuk mengaduk” jelas Rizki Azizha Akmaluniza, salah satu mahasiswa PK UNY yang memberikan materi dalam pelatihan.
Setelah mengenali bahan dan alat, siswa mempraktikkan pembuatan bubur siap saji secara bertahap. Praktik dimulai dengan mengambil mangkuk dan sendok. Selanjutnya, siswa membuka kemasan bubur instan dan menuangkannya ke dalam mangkuk. Siswa kemudian mempraktikkan penuangan air panas ke dalam mangkuk (dituangkan oleh guru), mengaduk bubur menggunakan sendok hingga mengental, menunggu bubur dingin, dan menambahkan toping di atasnya. Tahapan tersebut diakhiri dengan menyajikan bubur siap dimakan.
Kegiatan berlangsung dengan melibatkan siswa secara aktif melalui pendekatan pembelajaran multisensori yang memanfaatkan indra perabaan, pendengaran, dan gerak. Prinsip pembelajaran mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan juga diterapkan dalam kegiatan tersebut. Metode hand-under-hand (bimbingan tangan) dan task analysis (analisis tugas) digunakan untuk membantu siswa mengikuti setiap langkah dengan struktur yang jelas dan konsisten.
“Senang! Jadi bisa bikin bubur sendiri,” ungkap salah satu peserta didik SLB saat melakukan refleksi. Ibu Sri Wahyuni Endaryati, S.Pd. selaku guru pembimbing SLB turut memberikan tanggapan, “Bagus praktiknya, anak-anak jadi lebih mandiri.”
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pemberian pengetahuan dasar mengenai makanan bergizi untuk kesehatan tubuh. Kegiatan juga mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas karena proses pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa MDVI, serta memberikan keterampilan hidup yang praktis dan bermakna.
Pelatihan ini dilaksanakan oleh mahasiswa PK UNY yang terdiri atas Rizki Azizha Akmaluniza, dan tim mahasiswa PK UNY lainnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa PK UNY berharap siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang dapat menjadi bekal ketika menyiapkan makanan sederhana secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari.























