Yogyakarta, 25 September 2026— Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghidupkan kembali pojok baca yang berada di ruang tunggu SLB A Yaketunis, Jumat (25/9/2026). Kegiatan ini dilakukan dengan menata kembali area pojok baca sekaligus menambah koleksi buku awas dan Braille agar lebih mudah dikenali dan dimanfaatkan oleh pengunjung.
Pojok baca tersebut sebenarnya telah tersedia sebelumnya. Namun, keberadaannya belum banyak dimanfaatkan. Rak yang tersedia hanya berisi sekitar lima buku yang diletakkan berjajar tanpa pengelompokan khusus. Penanda pojok baca yang berukuran kecil juga membuat keberadaan fasilitas tersebut kurang terlihat dari area ruang tunggu.
Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian mahasiswa PK yang bertugas di SLB A Yaketunis. Sebanyak 10 mahasiswa terlibat langsung dalam menghidupkan kembali pojok baca tersebut, mulai dari mengambil koleksi dari perpustakaan sekolah, memilih buku, membersihkan rak, mengelompokkan bacaan, hingga menata kembali buku dan area di sekitarnya.

Koleksi yang disediakan terdiri atas buku fiksi dan nonfiksi. Selain buku dengan huruf awas, mahasiswa juga menempatkan buku Braille di rak tersebut. Penyediaan kedua jenis bahan bacaan ini disesuaikan dengan pengguna ruang tunggu yang memiliki kebutuhan akses bacaan yang beragam.
Ruang tunggu menjadi lokasi yang dipilih karena cukup sering digunakan orang tua murid ketika menunggu anak mereka mengikuti pembelajaran. Di antara orang tua yang menunggu, terdapat pula orang tua dengan hambatan penglihatan yang menggunakan ruang tunggu tersebut. Keberadaan buku Braille menjadi salah satu cara agar pojok baca dapat dimanfaatkan oleh mereka, sementara buku awas tetap dapat digunakan oleh pengunjung lainnya.
“Dengan adanya buku-buku bacaan di pojok baca ini, harapannya ya bisa dibaca dan dimanfaatkan oleh orang tua murid di sini,” ujar Fauzan, selaku ketua kelompok PK SLB A Yaketunis.
Meskipun orang tua murid menjadi sasaran utama, pojok baca tersebut tidak diperuntukkan secara eksklusif bagi orang tua. Murid, anak-anak, maupun pengunjung lain yang berada di lingkungan sekolah juga dapat memanfaatkan koleksi yang tersedia.
Selain menata buku, mahasiswa PK juga merencanakan penambahan ornamen berbahan kertas pada area pojok baca. Hiasan tersebut ditujukan untuk membuat tampilan pojok baca lebih menarik sekaligus membantu memperjelas keberadaannya di ruang tunggu.
Penataan kembali pojok baca juga membuka peluang bagi orang tua untuk memanfaatkan waktu menunggu dengan kegiatan membaca. Kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari budaya literasi yang tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dapat terbawa ke lingkungan keluarga.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya untuk mengoptimalkan fasilitas yang telah tersedia di SLB A Yaketunis. Dengan koleksi yang lebih beragam, penataan yang lebih teratur, serta tersedianya bahan bacaan awas dan Braille, pojok baca diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang literasi yang lebih terbuka dan mudah dimanfaatkan.
Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui dukungan terhadap akses bahan bacaan dan budaya literasi. Penyediaan buku awas dan Braille juga berkaitan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, terutama dalam memperluas akses terhadap bahan bacaan bagi pengguna dengan kebutuhan akses yang berbeda.
Melalui pengaktifan kembali pojok baca ini, ruang tunggu SLB A Yaketunis tidak hanya menjadi tempat untuk menanti waktu pembelajaran selesai. Ruang tersebut juga dapat menjadi ruang literasi yang dapat dimanfaatkan bersama oleh orang tua, murid, dan pengunjung sekolah.






















