Musim kemarau tahun ini datang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar berarti cucian lebih cepat kering atau perlu sedia payung untuk berteduh dari terik. Namun di balik itu, kemarau panjang membawa efek domino yang jauh lebih serius: kualitas udara memburuk, tempat pembuangan sampah rawan terbakar, sumber air bersih menipis, dan penyakit menular justru mengintai. Inilah saatnya masyarakat memahami bahwa menjaga lingkungan dan menjaga kesehatan sebenarnya adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan.
Lingkungan yang Kian Tertekan
Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari sepuluh negara penghasil sampah terbesar di dunia dan berada di posisi ketiga sebagai penyumbang sampah plastik ke laut. Banyak Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di berbagai daerah pun sudah berusia tua — sebagian bahkan mendekati 20 tahun, batas maksimal operasional yang dianjurkan — sehingga rawan mengalami kebakaran saat musim kering tiba. Sepanjang tahun ini, setidaknya belasan TPA di berbagai kota, mulai dari Batam, Tangerang, Bekasi, Depok, hingga Surabaya, dilaporkan terbakar. Kebakaran ini bukan hanya soal kerugian material, tetapi juga melepaskan gas metana dan partikel berbahaya ke udara yang dihirup warga sekitar.
Sumber: JawaPos.com – “15 TPA Terbakar Sepanjang 2026, WALHI Soroti Ancaman Metana dan Polusi Udara” (jawapos.com); Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH RI – “Indonesia Selesaikan Praktik Open Dumping di 2026” (kemenlh.go.id)
Di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, dan Medan, kualitas udara juga terus menjadi sorotan. Konsentrasi partikel halus (PM2.5) kerap melonjak ke kategori “Tidak Sehat” hingga “Sangat Tidak Sehat”, terutama saat musim kemarau ketika aktivitas pembakaran sampah, emisi kendaraan, dan asap kebakaran hutan dan lahan menumpuk bersamaan. Beberapa wilayah bahkan tercatat berada dalam kategori udara tidak sehat hampir sepanjang tahun.
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH RI – “Jabodetabek Alarm Polusi: KLH/BPLH Bergerak Serentak” (kemenlh.go.id); IQAir Indonesia – “Informasi Indeks Kualitas Udara (AQI) dan Polusi Udara di Indonesia” (iqair.com)
Kabar baiknya, pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menargetkan penghentian total praktik open dumping — pembuangan sampah terbuka tanpa pengolahan — pada tahun ini, setelah sebelumnya menekan praktik tersebut dari 95 persen menjadi sekitar 63 persen dari total TPA yang ada. Anggaran lingkungan hidup juga dinaikkan cukup signifikan tahun ini, meski para pemerhati lingkungan menilai porsi anggaran untuk pengendalian pencemaran udara masih jauh dari memadai dibanding luasnya wilayah yang perlu diawasi.
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH RI – “Indonesia Selesaikan Praktik Open Dumping di 2026” (kemenlh.go.id); AFU.id – “Polusi Udara Kepung Indonesia, Semua Kota Terpapar” (afu.id)
Ketika Lingkungan Buruk Berdampak ke Kesehatan
Kaitan antara lingkungan dan kesehatan bukan sekadar teori. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa musim kemarau yang berkepanjangan meningkatkan risiko berbagai gangguan, mulai dari dehidrasi, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga penyakit yang ditularkan lewat nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Menurunnya kualitas sanitasi dan keterbatasan air bersih di sejumlah daerah juga membuka peluang munculnya diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis.
Sumber: Tribunjatim.com – “Daftar Penyakit dan Gangguan Kesehatan Rentan Muncul di Musim Kemarau 2026” (jatim.tribunnews.com), mengutip akun resmi @kemenkes_ri
Kasus DBD sendiri masih menjadi perhatian serius. Hingga pertengahan tahun ini, Kemenkes mencatat puluhan ribu kasus DBD dengan lebih dari seratus kematian, dan angka tersebut berpotensi terus bertambah seiring perubahan pola cuaca yang membuat siklus perkembangbiakan nyamuk semakin tidak menentu. Sebagai gambaran, pada periode Januari–Oktober tahun sebelumnya, jumlah kasus dengue di seluruh Indonesia bahkan menembus lebih dari 130 ribu kasus dengan ratusan kematian, tersebar di ratusan kabupaten/kota. Dari sisi ekonomi, beban penanganan dengue juga tidak kecil — BPJS Kesehatan pernah mencatat pengeluaran hampir Rp3 triliun dalam setahun hanya untuk biaya medis langsung akibat penyakit ini.
Sumber: RRI.co.id – “Kemenkes Catat Puluhan Ribu Kasus DBD Tahun 2026” (rri.co.id); FK Universitas Airlangga – “Dukung Kemenkes dalam Kewaspadaan Peningkatan Kasus Dengue (DBD) di Indonesia” (fk.unair.ac.id)
Untuk merespons hal ini, Kemenkes menjalankan beberapa strategi, termasuk memperluas program nyamuk ber-Wolbachia — teknik yang terbukti mampu menekan angka kejadian dengue hingga sekitar 70 persen di lokasi uji coba — serta mendorong vaksinasi dengue bagi anak sekolah, meski cakupannya saat ini masih terbatas di sebagian kecil kabupaten/kota.
Sumber: RRI.co.id – “Kemenkes Catat Puluhan Ribu Kasus DBD Tahun 2026” (rri.co.id)
Contoh Nyata: Saat Sampah dan Kesehatan Bertemu
Kasus kebakaran TPA yang meningkat setiap musim kemarau menjadi contoh konkret bagaimana pengelolaan sampah yang buruk langsung berdampak ke kesehatan warga sekitar. Asap dari tumpukan sampah yang terbakar membawa partikel halus dan gas metana yang bisa memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru kronis. Di sisi lain, genangan air di sekitar area permukiman yang tidak terkelola dengan baik — termasuk dari sampah plastik yang menyumbat saluran air — menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penularan DBD di lingkungan yang sama.
Sumber: JawaPos.com – “15 TPA Terbakar Sepanjang 2026, WALHI Soroti Ancaman Metana dan Polusi Udara” (jawapos.com)
Contoh lain datang dari kota-kota dengan kualitas udara buruk seperti wilayah Jabodetabek, di mana peningkatan kasus gangguan pernapasan pada anak-anak kerap sejalan dengan periode ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menyentuh level tidak sehat. Ini menunjukkan bahwa kualitas udara bukan sekadar angka statistik, melainkan berhubungan langsung dengan jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan.
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH RI – “Jabodetabek Alarm Polusi: KLH/BPLH Bergerak Serentak” (kemenlh.go.id)
Langkah Sederhana yang Bisa Dimulai dari Rumah
Menjaga lingkungan dan kesehatan tidak harus menunggu kebijakan besar. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan setiap individu dan keluarga:
Untuk menjaga lingkungan:
Pilah sampah organik dan anorganik dari rumah, serta hindari membakar sampah sendiri karena justru memperburuk kualitas udara.
Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, terutama kantong belanja dan kemasan makanan.
Manfaatkan sampah organik menjadi kompos sederhana untuk mengurangi volume yang berakhir di TPA.
Laporkan tumpukan sampah liar atau saluran air yang tersumbat kepada RT/RW atau dinas terkait agar tidak menjadi sarang nyamuk maupun sumber pencemaran.
Untuk menjaga kesehatan keluarga:
Terapkan gerakan 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan, ditambah langkah tambahan seperti menaburkan larvasida dan memelihara ikan pemakan jentik.
Pantau informasi kualitas udara harian di aplikasi resmi sebelum beraktivitas di luar ruangan, dan gunakan masker saat kualitas udara memburuk.
Perbanyak minum air putih dan jaga asupan cairan selama cuaca panas untuk mencegah dehidrasi.
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi mendadak disertai nyeri sendi atau ruam, mengingat gejala DBD dapat memburuk dengan cepat.
Bagi orang tua, pertimbangkan konsultasi mengenai vaksinasi dengue untuk anak apabila layanan tersebut tersedia di wilayah setempat.
Sumber: Kemenkes RI – “Waspada Penyakit di Musim Hujan” (kemkes.go.id); Tribunjatim.com – “Daftar Penyakit dan Gangguan Kesehatan Rentan Muncul di Musim Kemarau 2026” (jatim.tribunnews.com)
Menjaga Lingkungan Berarti Menjaga Diri Sendiri
Krisis sampah, buruknya kualitas udara, dan lonjakan penyakit menular sesungguhnya adalah tiga wajah dari satu persoalan yang sama: bagaimana manusia memperlakukan lingkungan tempat tinggalnya. Pemerintah telah menetapkan sejumlah target dan program, mulai dari penghentian open dumping, penguatan pengendalian dengue, hingga peningkatan anggaran lingkungan hidup. Namun keberhasilan program-program tersebut tetap bergantung pada partisipasi aktif masyarakat di tingkat paling dasar — rumah tangga, RT/RW, hingga sekolah.
Menjaga kebersihan lingkungan bukan lagi sekadar slogan, melainkan bentuk investasi kesehatan jangka panjang. Semakin cepat kebiasaan baik ini diterapkan secara kolektif, semakin besar peluang untuk menekan angka penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

























