Sleman (MAN 1 Yogya) – Menghafal Al-Qur’an bukanlah garis akhir perjalanan seorang penghafal, melainkan awal tanggung jawab untuk menghidupkan nilai-nilainya dalam perilaku dan kehidupan sosial. Kedekatan dengan Al-Qur’an semestinya tercermin dalam akhlak yang luhur, sikap adil, penghargaan terhadap perbedaan, serta kepedulian terhadap sesama.
Pesan tersebut disampaikan Dr. KH. Moch. Taufiq Ridho, M.Pd., Al-Hafidz, Pengasuh PPTQ Al-Hadi Kompleks Al-Hamra Krapyak, dalam Studium Generale Moderasi Beragama pada rangkaian Apresiasi Tahfiz MAN 1 Yogyakarta Tahun 2026 di Grha Bina Husada, Poltekkes Yogyakarta, Selasa (27/10/2026).
Di hadapan para murid dan tamu undangan, ia menekankan bahwa Al-Qur’an harus menjadi pedoman yang mengarahkan tujuan hidup sekaligus membentuk karakter pemeluknya. Hafalan yang tidak diiringi pengamalan berisiko berhenti sebagai capaian personal tanpa memberikan dampak nyata bagi lingkungan.
“Kita tidak akan memiliki tujuan hidup tanpa adanya Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya sekadar dihafalkan, tetapi juga harus dihidupkan,” tegasnya.

Menurut Taufiq, semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semestinya semakin baik pula akhlaknya. Perubahan tersebut harus terlihat dalam kesantunan bertutur, sikap menghormati orang lain, dan perilaku sehari-hari. Dengan demikian, kualitas seorang penghafal Al-Qur’an tidak hanya tercermin dari kuatnya hafalan, tetapi juga dari nilai-nilai yang diwujudkan dalam kehidupannya.
Ia mengibaratkan Al-Qur’an sebagai kitab pusaka yang harus dirawat. Merawat Al-Qur’an bukan sekadar menjaga hafalan agar tidak terlupakan, melainkan juga memelihara ajarannya melalui pemahaman dan pengamalan yang berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Taufiq mengaitkan penghayatan Al-Qur’an dengan moderasi beragama. Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai moderasi telah ditunjukkan melalui ajaran Al-Qur’an sejak diturunkan sekitar 1.400 tahun lalu, ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial dan keagamaan.
Ia menguraikan sejumlah nilai yang perlu menjadi pegangan generasi Qurani. Pertama, tawassuth, yakni sikap tengah yang tidak berlebihan, disertai kesediaan menghargai perbedaan. Kedua tasamuh, penghormatan terhadap keberagaman sebagai kenyataan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia dalam keadaan yang tidak selalu sama. Ketiga Al ‘adalah, yaitu menempatkan segala sesuatu secara proporsional dan bersikap adil dalam berbagai aspek kehidupan. Keempat, kasih sayang yang tidak terbatas pada sesama manusia, tetapi juga mencakup seluruh alam semesta.
Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan menjadi perilaku konkret. Moderasi beragama bukan sekadar pemahaman konseptual, melainkan sikap yang tampak ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain, menyikapi perbedaan pendapat, dan menjalankan tanggung jawab sosialnya.
Bagi para penghafal Al-Qur’an, tantangan ini semakin besar di tengah perkembangan era digital. Arus informasi yang cepat, beragamnya pandangan di ruang publik, serta interaksi melalui media digital menuntut kemampuan untuk menjaga prinsip keagamaan sekaligus bersikap bijaksana dalam menyikapi perbedaan.
Karena itu, hafalan Al-Qur’an perlu berjalan beriringan dengan keluasan wawasan dan kematangan dalam bersikap. Para hafiz dan hafizah diharapkan tidak hanya mampu menjaga ayat-ayat yang telah dihafalkan, tetapi juga memahami bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam kehidupan masyarakat yang beragam.
Taufiq menyampaikan enam pesan bagi para hafiz dan hafizah agar mampu menjadi generasi Qurani yang moderat dan memberikan manfaat nyata. Mereka harus kuat dalam ibadah, tetapi luas dalam pergaulan; benar dalam beribadah; luhur dalam akhlak; luas dalam wawasan; bijaksana dalam menyikapi perbedaan; serta bermanfaat bagi masyarakat.
Enam karakter tersebut menempatkan penghafal Al-Qur’an tidak hanya sebagai penjaga hafalan, tetapi juga sebagai teladan dalam kehidupan sosial. Kesalehan personal perlu berjalan bersama kepedulian sosial, sedangkan keteguhan dalam beragama harus disertai sikap santun dan penghormatan terhadap sesama.
Pada akhir pemaparannya, Taufiq mengapresiasi upaya MAN 1 Yogyakarta dalam mengembangkan pendidikan berbasis Al-Qur’an yang berpadu dengan nilai moderasi beragama.
“Selamat MAN 1 Yogyakarta berhasil menjadi laboratorium Qurani yang moderat,” ungkapnya.
Melalui Studium Generale Moderasi Beragama, rangkaian Apresiasi Tahfiz MAN 1 Yogyakarta Tahun 2026 tidak hanya memberikan ruang penghargaan bagi capaian hafalan murid, tetapi juga memperkuat pesan bahwa keberhasilan pendidikan Al-Qur’an perlu tercermin dalam akhlak mulia, sikap moderat, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. (dee)




















