Pelayanan kesehatan pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada kemampuan memberikan tindakan medis, tetapi juga perlu memiliki sisi kemanusiaan terhadap pasien. Selayaknya seorang yang datang kerumah sakit pasti memilki keluhan, rasa khawatir, serta mengharapkan pertolongan yang tepat dan layak. Namun, fenomena Yurizal yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial menjadi pengingat bahwa Emotional Intelligence memiliki peran penting dalam kehidupan setiap individu, terutama dalam mengelola emosi, memahami kondisi orang lain, serta menyampaikan respons atau komentar secara bijaksana dan penuh empati.
Berawal dari unggahan di akun Threads milik Yurizal pada 22 Juli 2026, yang mengungkapkan keluhannya ketika di rumah sakit telah menunggu selama delapan jam namun belum mendapatkan ruangan untuk rawat inap yang menyatakan bahwa dirinya  menggunakan layanan BPJS. Keluhan tersebut pun menarik perhatian publik dan memicu beragam respons, baik yang mendukung maupun yang menyayangkan keluhan Yurizal. Perbincangan semakin ramai setelah muncul sejumlah komentar yang menunjukkan tidak berempati, yang belakangan ternyata diketahui sebagian berasal dari sejumlah tenaga kesehatan.
Selang beberapa hari setelah unggahan tersebut, sepupu dari Yurizal memberikan komentar terhadap Threads Yurizal dan menyampaikan bahwa Yurizal sudah meninggal pada tanggal 31 Juli 2026. Yang kemudian membuat sejumlah tenaga kesehatan tersebut membuat video permintaan maaf dengan menunjukkan kebersediaan menerima segala sanksi yang ada sebagai bentuk dari sikap bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan.
Pelayanan Kesehatan dengan Emotional Intelligence
Menurut Daniel Goleman, emotional intelligence adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi, yaitu menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Kemampuan ini sangat penting dalam lingkungan pelayanan kesehatan karena tenaga kesehatan berhadapan langsung dengan pasien yang memiliki kondisi rentan.
Tenaga kesehatan tentu juga memiliki berbagai tekanan pekerjaan, seperti jumlah pasien yang banyak, beban pekerjaan, serta tuntutan memberikan pelayanan yang cepat dan tepat. Namun kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan perasaan dan martabat pasien. Sebaliknya, pasien juga dapat mengalami tekanan karena harus menunggu, menghadapi ketidakpastian serta merasakan sakit. Apabila emosi kedua belah pihak tidak dikelola dengan baik, situasi tersebut dapat berkembang menjadi konflik.
Di dalam kasus ini menunjukkan adanya pasien yang mengeluhkan kelelahannya yang kemudian direspons emosional oleh beberapa tenaga kerja yang juga merasa mendapatkan tekanan dalam pekerjaannya. Di sinilah kemampuan self-awareness dan self-regulation diperlukan. Rasa marah, lelah, tersinggung atau frustasi sebaiknya tidak langsung diwujudkan dalam perkataan yang dapat memperburuk keadaan. Sejumlah tenaga kesehatan tersebut dapat tetap memberikan penjelasan dengan bahasa yang sopan dan dapat diterima, seperti memberikan penjelasan terjadinya keterlambatan serta informasi mengenai langkah lain yang dapat dilakukan. Sehingga, dapat lebih membangun kepercayaan dalam memberikan pelayanan terhadap pasien.
Media Sosial dan Pentingnya Emotional Intelligence
Pada dasarnya isi unggahan Yurizal hanya berisi keluhan yang wajar tanpa menjatuhkan atau menyalahkan pihak tenaga kesehatan. Namun, akibat tindakan impulsif sejumlah tenaga kesehatan yang juga merasa lelah atas tekanan pekerjaan sehingga melontarkan komentar yang emosional, justru menjadi memperkeruh situasi dan kondisi yang semakin buruk, serta membuat citra diri tenaga kesehatan menjadi kurang baik.
Di lihat dalam sisi humanisme, fenomena tersebut menunjukkan peran penting kemampuan kecerdasan emosional dalam segala aspek kehidupan baik di kehidupan nyata maupun dalam bersosial media. Sebelum memberikan komentar, seseorang perlu kritis, mengendalikan emosi, memahami perspektif orang lain, serta mempertimbangkan dampaknya. Dengan hal ini menjadi pengingat bagi semua untuk lebih bijak dalam bermedia sosial agar terhindar dari kejadian yang serupa.
Merespon Konflik dengan Emotional Intelligence
Tindakan tenaga kesehatan yang menyampaikan permintaan maaf melalui video menunjukkan bahwa konflik tidak selalu harus berakhir dengan terus saling menyalahkan. Tindakan tersebut menunjukkan bentuk penerapan emotional intelligece ketika merespons sebuah konflik. Dengan menyadari bahwa suatu perkataan dapat menimbulkan dampak bagi orang lain, kemudian berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, serta menyatakan kesediaannya menerima segala konsekuensi yang ada, merupakan bagian dari kesadaran dan pengelolaan diri. Dalam situasi konflik, kecerdasan emosional tidak hanya ditunjukkan dengan mempertahankan pendapatnya, tetapi juga melalui kesediaan mengevaluasi kembali tindakan dan perkataan, serta mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan.
Fenomena Yurizal pada akhirnya bukan hanya tentang keluhan seorang pasien, komentar sejumlah tenaga kesehatan ataupun permintaan maaf yang muncul setelahnya. Peristiwa ini menjadi sebuah refleksi mengenai bagaimana emosi, empati, dan kemampuan seseorang dalam merespons konflik dapat memberikan dampak yang besar terhadap orang lain. Tindakan permintaan maaf yang dilakukan menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menyadari kesalahan, melakukan evaluasi diri, dan memperbaiki diri.
Oleh karena itu, kasus Yurizal seharusnya dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Termasuk tenaga kesehatan yang perlu terus membangun kemampuan mengelola emosi dan berkomunikasi secara empatik, Â serta masyarakat yang juga perlu menyampaikan kritik dan keluhan secara tepat dan menghargai pihak lain. Sehingga, tercipta pelayanan kesehatan yang sesuai, cepat, tepat dan memanusiakan manusia.
Penulis : Adiva Kintan Chairunissa – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Referensi:
Materi Mata Kuliah Estetika Humanisme, Universitas Siber Asia
Iswandi, Z.A. (2025). Tenaga Kesehatan Fokus Pada Pelayanan Kemanusiaan. Diakses dari scribd.com
Nauval, I. (2026). Viral Komentar Sadis soal Pasien BPJS, Para Dokter Minta Maaf Akui Kurang Empati. Diakses dari inilah.com

























