SEMARANG – Menghitung keuntungan, menentukan harga jual, hingga mempertimbangkan potongan harga merupakan bagian dari aktivitas ekonomi yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Situasi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari Aritmetika Sosial, terutama ketika murid tidak hanya mengerjakan soal, tetapi juga terlibat langsung dalam simulasi kegiatan jual beli.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui MATHROLE (Hybrid Role-Play Learning Kit), sebuah perangkat pembelajaran yang mengintegrasikan metode bermain peran (role-playing) dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Inovasi ini dikembangkan oleh Firdivana Aliffia Maulana, Fahmi Husaini, Muhammad Tabriz Dzikra, Okan Restu Saputra, dan Muhammad Irsyadul Wavi, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), di bawah bimbingan Bapak Adi Satrio Ardiansyah, S.Pd., M.Pd.
Menghubungkan Konsep Matematika dengan Situasi Nyata
MATHROLE membawa aktivitas bazar ke dalam pembelajaran melalui skenario yang menempatkan murid sebagai pelaku kegiatan jual beli. Dalam prosesnya, murid bekerja sama dengan kelompok, mencermati kondisi yang dihadapi, menghitung berdasarkan informasi yang tersedia, serta menentukan langkah yang dianggap tepat.
Kegiatan tersebut memberi ruang bagi murid untuk memahami bahwa keputusan dalam transaksi memiliki konsekuensi matematis. Perhitungan tidak hanya digunakan untuk mendapatkan hasil akhir, tetapi juga menjadi dasar dalam mempertimbangkan pilihan dan menilai strategi yang telah dilakukan.
Integrasi pendekatan STEM turut memperkuat hubungan antara pembelajaran matematika dan persoalan kontekstual. Konteks bazar digunakan sebagai situasi utama, sedangkan teknologi digital mendukung penyajian skenario pembelajaran. Murid kemudian memanfaatkan informasi yang tersedia untuk menyusun strategi dan melakukan perhitungan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Dengan pola tersebut, pembelajaran Aritmetika Sosial memberikan kesempatan kepada murid untuk menghubungkan konsep yang dipelajari dengan proses pengambilan keputusan dalam aktivitas ekonomi sederhana.
Simulasi Bazar dalam Pembelajaran di Sekolah
Penerapan MATHROLE dilaksanakan di SMP Negeri 39 Semarang pada 28 September dan 1 Oktober 2026. Pembelajaran berlangsung dalam dua pertemuan dengan skenario jual beli yang memiliki karakteristik berbeda.
Pada pertemuan pertama, murid berhadapan dengan transaksi tanpa diskon. Mereka perlu mempertimbangkan informasi mengenai modal dan harga jual untuk menjalankan skenario yang diberikan. Sementara itu, pertemuan kedua menghadirkan situasi yang melibatkan diskon sehingga murid perlu memperhitungkan perubahan kondisi sebelum menentukan strategi penjualan.
Pergantian skenario tersebut memberikan pengalaman belajar yang bervariasi. Murid dapat menelaah kembali perhitungan yang digunakan, membandingkan situasi transaksi, serta mendiskusikan alasan di balik keputusan kelompoknya. Proses bermain peran juga membuka kesempatan untuk mengevaluasi strategi berdasarkan hasil yang diperoleh selama simulasi.
Melalui rangkaian kegiatan itu, pemecahan masalah matematis ditempatkan sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran. Murid tidak hanya berhadapan dengan angka dan rumus, tetapi juga berlatih memahami situasi, memilih informasi yang relevan, melakukan perhitungan, dan meninjau kembali hasil pekerjaannya.
Pengembangan MATHROLE menunjukkan salah satu upaya menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari. Perpaduan simulasi jual beli, permainan peran, dan pendekatan STEM dapat menjadi alternatif untuk membantu murid memaknai Aritmetika Sosial melalui aktivitas yang menuntut keterlibatan dan pertimbangan matematis.





















