Malang, 03 April 2026 – Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali memperkuat komitmennya dalam membangun budaya riset mahasiswa melalui kegiatan Upgrading Research Skills 2026. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 03 April 2026 di Aula Masjid Ulul Albab tersebut diikuti oleh 30 peserta dengan mengusung tema “Upgrading Research Skills: Penguatan Kapasitas Riset Anggota UKM LKP2M dalam Mewujudkan Generasi Intelektual yang Kritis, Adaptif, dan Produktif.”
Kegiatan ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan pemahaman teknis mengenai penelitian, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membentuk karakter intelektual anggota LKP2M. Kemampuan riset dipandang sebagai salah satu fondasi penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, beradaptasi dengan perkembangan keilmuan, sekaligus menghasilkan karya yang produktif dan memiliki kebermanfaatan.
Di tengah perkembangan pendidikan tinggi yang semakin menuntut mahasiswa menghasilkan karya berbasis penelitian dan publikasi ilmiah, kemampuan memahami dan menjalani proses penelitian menjadi kebutuhan yang semakin penting. Mahasiswa tidak lagi cukup menempatkan diri sebagai penerima informasi, tetapi dituntut mampu mengidentifikasi persoalan, membaca literatur, mengonstruksi gagasan, menentukan metode, menganalisis data, hingga mengomunikasikan hasil penelitian secara akademik.
Namun, proses tersebut membutuhkan keterampilan yang tidak selalu diperoleh secara utuh melalui pembelajaran formal di ruang kelas. Karena itu, LKP2M menghadirkan Upgrading Research Skills sebagai ruang belajar tambahan yang mempertemukan pengetahuan metodologis dengan pengalaman praktis dari para pemateri yang memiliki latar belakang dalam kegiatan penelitian dan akademik.
Kegiatan berlangsung melalui empat sesi utama yang dirancang secara berkesinambungan. Sesi pertama menghadirkan Saniya Alin Salsabila, Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2026 yang menyampaikan materi mengenai pengantar penelitian. Materi tersebut menjadi fondasi awal bagi peserta untuk memahami konsep dasar penelitian, urgensi penelitian bagi mahasiswa, serta aspek etika yang harus menjadi perhatian dalam proses penelitian.
Pembahasan pengantar penelitian memberikan pemahaman bahwa riset tidak semata-mata dimulai ketika mahasiswa menyusun proposal. Penelitian berawal dari kemampuan melihat persoalan, membangun pertanyaan, dan mengembangkan rasa ingin tahu terhadap fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Dengan cara pandang tersebut, mahasiswa didorong untuk membangun kepekaan akademik terhadap berbagai persoalan yang dapat dikembangkan menjadi objek kajian.
Sesi berikutnya diisi oleh Ahmad Royhan Firdaus, Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2025 sekaligus Wakil Direktur LKP2M Periode 2026, yang membawakan materi mengenai standar publikasi ilmiah. Peserta diajak memahami bahwa proses penelitian tidak berhenti pada diperolehnya data maupun tersusunnya laporan penelitian.
Hasil penelitian perlu dikomunikasikan melalui tulisan ilmiah agar dapat menjadi bagian dari perkembangan pengetahuan. Karena itu, peserta memperoleh gambaran mengenai pentingnya penulisan akademik, strategi pengembangan naskah, serta berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan karya untuk publikasi ilmiah.
Pembahasan kemudian berlanjut pada dua pendekatan penelitian yang umum digunakan dalam penelitian mahasiswa. Rifka Arifatul Choridah, S.Pd., Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2024 sekaligus Pelatih LKP2M Periode 2026 menyampaikan materi mengenai penelitian kualitatif, sedangkan Edvin Eka Nur Rochim, S.Psi., Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2023 sekaligus Pelatih LKP2M Periode 2026 menyampaikan materi mengenai penelitian kuantitatif.
Kedua materi tersebut memberikan perspektif kepada peserta mengenai karakteristik, teknik, pendekatan, serta analisis data dalam penelitian. Peserta tidak hanya dikenalkan dengan konsep dasar masing-masing pendekatan, tetapi juga diarahkan untuk memahami bagaimana menentukan pendekatan yang sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian.
Keberadaan materi kualitatif dan kuantitatif dalam satu rangkaian kegiatan juga menjadi ruang bagi peserta untuk melihat penelitian secara lebih komprehensif. Perbedaan karakteristik kedua pendekatan tidak semestinya menjadi batas yang memisahkan proses belajar, tetapi justru menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif metodologis mahasiswa.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme melalui diskusi dan keterlibatan aktif dalam berbagi pengalaman penelitian. Interaksi tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran riset tidak hanya terjadi melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui pertukaran pengalaman antara pemateri dan peserta.
Salah satu refleksi menarik disampaikan oleh Rifka Arifatul Choridah, S.Pd., Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2024 yang memiliki pengalaman mengikuti Upgrading Research Skills selama empat tahun. Ia mengikuti kegiatan tersebut dalam dua posisi yang berbeda, yakni dua kali sebagai peserta dan dua kali sebagai pemateri.
“Saya mengikuti program ini selama empat tahun, dari peserta hingga pemateri. Program ini sangat bermanfaat dalam membangun dasar penelitian mahasiswa. Bahkan, pemahaman saya tentang penelitian terbentuk dari program ini sebelum saya mendapatkannya di kelas formal.”
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebuah program pengembangan mahasiswa dapat menjadi bagian dari proses kaderisasi keilmuan. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi memiliki peluang untuk berkembang dan pada akhirnya menjadi bagian dari proses berbagi pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Hal serupa juga tercermin dari refleksi Ahmad Royhan Firdaus, Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2025 sekaligus Wakil Direktur LKP2M Periode 2026 mengenai perjalanan mengikuti Upgrading Research Skills. Menurutnya, kegiatan yang telah diikuti berulang kali tersebut memiliki makna yang berbeda pada setiap pelaksanaannya.
“Uprading Research Skills ini menjadi gerbang awal menuju Intensive Research Class and Intensive Writing Class di LKP2M. Alhamdulillah sudah empat kali mengikuti kegiatan ini, dua kali menjadi peserta dan dua kali menjadi pemateri.”
Menurut Royhan, materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mungkin memiliki tema yang relatif serupa dari tahun ke tahun. Namun, keberadaan pemateri yang berbeda menjadikan setiap penyelenggaraan memiliki perspektif tersendiri.
“Topik pembahasannya mungkin tidak jauh berbeda. Namun, ketika materi dengan tema yang sama dibawakan oleh para pemateri yang berbeda di setiap tahunnya akan melahirkan perspektif baru dan pemahaman yang lebih komprehensif.”
Refleksi tersebut menjadi penting dalam melihat keberadaan Upgrading Research Skills bukan sekadar sebagai kegiatan yang berulang setiap tahun. Keberulangan program justru dapat menjadi ruang untuk memperbarui perspektif dan memperkuat kesinambungan pembelajaran. Setiap generasi membawa pengalaman, cara pandang, dan kebutuhan yang berbeda sehingga pengetahuan yang sama dapat terus dikembangkan dalam konteks yang baru.
Dalam konteks tema kegiatan, kemampuan tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk generasi intelektual yang kritis, adaptif, dan produktif. Karakter kritis dibangun melalui kemampuan mempertanyakan persoalan dan menguji informasi secara akademik. Karakter adaptif dibutuhkan agar mahasiswa mampu mengikuti perkembangan metodologi, teknologi, dan dinamika penelitian. Sementara karakter produktif diwujudkan melalui kemampuan mengubah gagasan menjadi karya ilmiah yang dapat memberikan kontribusi.
Upgrading Research Skills juga menjadi salah satu gerbang awal menuju Intensive Research Class dan Intensive Writing Class di LKP2M. Program tersebut diharapkan dapat menjadi tahapan lanjutan bagi anggota yang ingin memperdalam kemampuan penelitian dan penulisan secara lebih intensif.
Lebih dari sekadar penguasaan metode, budaya riset membutuhkan kebiasaan intelektual yang terus dipelihara. Membaca, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, mempresentasikan gagasan, menerima kritik, dan memperbaiki karya merupakan rangkaian proses yang membentuk seorang mahasiswa menjadi pembelajar yang mandiri.
Melalui kegiatan ini, LKP2M kembali menunjukkan perannya sebagai ruang pengembangan kapasitas mahasiswa di bidang kajian dan penelitian. Upgrading Research Skills menjadi salah satu ikhtiar untuk memastikan bahwa kultur riset tidak berhenti pada teori, tetapi diterjemahkan ke dalam praktik dan karya nyata.
Keberlanjutan program dari tahun ke tahun juga memperlihatkan bahwa budaya akademik dibangun melalui proses yang panjang. Dari seseorang yang awalnya hadir sebagai peserta, kemudian berkembang menjadi pemateri, hingga akhirnya turut membimbing generasi berikutnya. Siklus tersebut menjadi salah satu bentuk keberlanjutan pengetahuan yang penting dalam kehidupan organisasi mahasiswa.
Dengan terselenggaranya Upgrading Research Skills 2026, LKP2M berharap anggota tidak hanya semakin memahami penelitian, tetapi juga memiliki keberanian untuk memulai, kemampuan untuk mengembangkan gagasan, dan konsistensi untuk menghasilkan karya. Sebab, riset bukan hanya tentang menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan, tetapi juga tentang membangun cara berpikir yang mampu membaca perubahan dan menghadirkan solusi.
Pada akhirnya, penguatan kapasitas riset merupakan investasi jangka panjang bagi mahasiswa dan organisasi. Ketika kemampuan berpikir kritis bertemu dengan kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk berkarya, mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari ekosistem akademik, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai produsen pengetahuan.
Dari peserta menjadi pemateri, dari belajar menjadi berbagi, dan dari satu generasi menuju generasi berikutnya, Upgrading Research Skills menjadi bagian dari perjalanan LKP2M dalam merawat budaya riset dan melahirkan generasi intelektual yang kritis, adaptif, dan produktif.























