LKS Digital Marketing bukan sekadar lomba membuat desain atau video. Kompetisi ini menguji kemampuan riset pasar, komunikasi, pelayanan pelanggan, penjualan, live selling, penggunaan teknologi, adaptabilitas, dan problem solving.
BANDAR LAMPUNG, 20 Agustus 2026 — Guru-guru yang tergabung dalam MGMP Pemasaran Kota Bandar Lampung mengikuti kegiatan “Digital Marketing Unlocked: Strategi Pendampingan Guru Pemasaran Membedah Modul dan Kisi-kisi LKS Digital Marketing” di SMK Negeri 1 Bandar Lampung, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB tersebut menghadirkan Ahmad Madani, Sekretaris Jenderal KOMISI dan Juri LKS Nasional bidang Pemasaran Digital, serta Witoni, S.T., M.M. dari Yamaha School Lampung.
Apa yang Sebenarnya Dinilai dalam LKS Digital Marketing?
LKS Digital Marketing masih kerap dipandang sebagai kompetisi membuat desain paling estetik, video paling menarik, atau konten paling kreatif.
Pandangan tersebut belum menggambarkan keseluruhan kompetensi yang diuji.
Kemampuan menggunakan Canva, aplikasi editing, kamera, dan Artificial Intelligence memang membantu produksi konten. Namun, seluruh teknologi tersebut hanyalah alat.
Digital marketing menuntut kemampuan memahami pasar, menentukan audiens, menarik perhatian, mengomunikasikan nilai, membangun hubungan, melayani pelanggan, dan menghasilkan tindakan.
LKS Digital Marketing adalah Miniatur Dunia Kerja
Ahmad Madani menjelaskan bahwa modul dan kisi-kisi LKS sebaiknya dibaca sebagai peta kompetensi, bukan bank soal yang harus dihafalkan.
“Masalah pelanggan berubah, produk berubah, platform berubah, dan perilaku konsumen juga berubah. Karena itu, siswa jangan hanya dilatih menjawab kasus tertentu. Mereka harus dilatih menyelesaikan masalah,” ujar Ahmad Madani.
Kompetensi dalam LKS Digital Marketing mencakup organisasi kerja, riset pasar, pengembangan bisnis, komunikasi, pelayanan pelanggan, penjualan digital, dan live selling.
Karena itu, LKS dapat dipandang sebagai miniatur dunia kerja dan laboratorium kesiapan industri.
Desain Menarik, tetapi Apa Strateginya?
Dalam sesi tersebut, Ahmad Madani memberikan contoh latihan sederhana yang dapat dilakukan guru.
Siswa diajak mengamati berbagai display produk di showroom, kemudian memilih display yang paling menarik perhatian.
Ketika siswa menjawab, “Karena bagus,” proses pembelajaran belum selesai.
Guru perlu menggali lebih jauh:
- Apakah karena warnanya?
- Apakah posisi produk berada pada eye level?
- Apakah terdapat kontras?
- Apakah pencahayaannya kuat?
- Apakah ada focal point?
- Apakah pesannya mudah dilihat?
Dari latihan tersebut, siswa tidak hanya membicarakan estetika. Mereka mulai memahami konsep attention dan alasan strategis di balik sebuah visual.
“Desain bukan tujuan akhir. Desain merupakan alat untuk menghasilkan respons,” jelas Ahmad Madani.
Komunikasi dan Penjualan Memiliki Peran Dominan
Berdasarkan materi pendampingan, Modul 3 tentang Komunikasi dan Layanan Pelanggan mempunyai bobot 25 persen. Modul 7 tentang Penjualan, Layanan Digital, dan Live Selling mempunyai bobot 40 persen.
Artinya, sekitar 65 persen kompetensi berada pada area komunikasi dan penjualan.
Angka tersebut perlu menjadi perhatian guru pendamping. Apabila sebagian besar waktu latihan hanya digunakan untuk desain, editing, warna, dan layout, sementara komunikasi baru dilatih menjelang lomba, strategi pendampingannya menjadi tidak seimbang.
Siswa Digital Marketing perlu mampu:
- bertanya dan mendengarkan;
- melakukan presentasi;
- menjelaskan manfaat;
- merespons pelanggan;
- menangani keberatan;
- membangun kepercayaan;
- melakukan live selling;
- serta mengarahkan pelanggan menuju tindakan.
Live Selling sebagai Ujian Kompetensi Terintegrasi
Ahmad Madani menyebut live selling sebagai “The Final Boss” dalam Digital Marketing karena hampir seluruh kompetensi bertemu dalam satu sesi.
Saat melakukan live, siswa membutuhkan product knowledge, komunikasi, storytelling, improvisasi, kemampuan membaca audiens, mental, customer handling, dan penjualan.
Tidak tersedia tombol undo. Siswa harus tetap melanjutkan ketika lupa script, menerima komentar, atau menghadapi pertanyaan yang tidak diperkirakan.
Karena itu, live selling dapat memperlihatkan apakah siswa benar-benar memahami pemasaran atau hanya menghafalkan materi.
Kompetensi Lebih Penting daripada Medali
LKS tetap merupakan kompetisi dan setiap peserta tentu ingin memperoleh prestasi. Namun, tujuan pendampingan tidak boleh berhenti pada medali.
Selama proses latihan, siswa belajar disiplin, riset, komunikasi, menerima feedback, mengelola tekanan, menggunakan teknologi, dan beradaptasi.
“Trofi dapat disimpan di lemari. Namun, kemampuan public speaking, customer handling, live selling, AI, storytelling, dan problem solving akan dibawa siswa ke dalam kariernya,” kata Ahmad Madani.
Ia mengajak guru mengembalikan tujuan pendampingan pada satu pertanyaan:
“Apakah kita sedang melatih siswa untuk memenangkan lomba satu hari atau memenangkan karier mereka selamanya?”
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, serta Juri LKS-Dikmen bidang Pemasaran Digital tingkat nasional.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.
























