Banyak desa di Indonesia yang memiliki banyak rumpun bambu yang tumbuh di tepi kebun, di pinggir sungai, atau di belakang rumah. Bambu sering kali dimanfaatkan untuk membuat pagar, tangga dan anyaman. Namun agenda perubahan iklim mengajak kita bertanya apakah tanaman yang bergitu akrab ini menyimpan peran yang lebih besar dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.
Pertanyaan itu layak diajukan dengan bukti dan data yang nyata. Bambu memang tumbuh cepat, tetapi kecepatan tumbuh saja tidak otomatis emisi berkurang, yang perlu kita ketahui bagaimana bambu ditanam, dipanen, diolah dan dipakai, serta bagaimana kebijakan negara memperlakukannya.
Indonesia menargetkan penurunan emisi  dengan upaya sendiri sebesar 31,89% dan 43,20% dengan dukungan internasional pada 2030 yang dijelaskan dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC). Sektor Kehutanan dan penggunaan lahan (Forestry and other land use/FOLU) memiliki peran penting dalam pencapaian target tersebut karena memberikan kontribusi sekitar 60%. Untuk mendukung pencapaian target, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, yaitu kondisi ketika sekor kehutanan dan penggunaan lahan mampu menyerap karbon lebih banyak dibandingkan jumlah karbon yang dilepaskan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah rehabilitasi lahan terdegradasi untuk meningkatkan cadangan karbon.
Dalam konteks tersebut, bambu memiliki potensi untuk mendukung upaya pencapaian target FOLU Net Sink 2030. Bambu memiliki pertumbuhan yang relatif cepat, dapat ditanam dilahan terdegradasi, serta dapat dipanen tanpa barus membuka atau menghilangkan seluruh tutupan lahannya.
Bambu menyerap CO2 melalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk biomassa. Potensi tersebut sejalan dengan gagasan pemanfaatan lahan dan perhutanan sosial untuk pengembangan bambu. Dalam diskusi kebijakan pada tahun 2020 oleh wakil Mentri LHK yang menyamapaikan bahwasannya lahan perhutanan sosial dengan target nasional sebesar 12,7 juta hektar dapat dimanfaatkan untuk penanaman bambu melalui pola agroforestri sebagai bagian dari gagasan pengembangan 1.000 desa bambu. Bambu juga disebut memiliki manfaat lingkungan, termasuk dalam menyerap karbon dioksida, menjaga ketersediaan sumber air, serta mendukung penyedia jasa lingkungan lainnya.
Kementrian Perindustrian menyebutkan bahwa bambu memiliki peluang untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, mulai dari kerajinan dan furnitur hingga kontruksi dan bioindustri. Pemanfaatan bambu sebagai bahan baku anyaman dan berbagai peralatan rumah tangga dapat menjadi alternatif pokok yang selama ini menggunakan plastik. Selain itu, bambu juga dapat diolah menjadi arang dan briket yang berpotensi sebagai sumber energi alternatif. Meskipun demikian, kontibusi bambu dalam mengurangi emisi melalui kedua bentuk pemanfaatan tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut.
Bambu sudah lama diakui sebagai komoditas penting. Bambu termasuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan menurut beberapa kejian kebijakan sejak tahun 2009 bambu sudah ditetapkan sebagai HHBK unggulan nasional. Menurut Kementrian Perindustrian, pengembangan bambu kini menjadi program lintas kementrian, berdasarkan peraturan presiden tentang Strategi Nasional Bambu Terintegrasi Hulu-Hilir yang berlaku sejak tahun 2022. Sebagai upaya tindak lanjut kementrian ini menyusun peta jalan ekosistem industri bambu yang mencakup penguatan agroforestri atau penanaman bambu bersama tanaman lain, teknologi pascapanen, pembentukan sentra bambu, dan pusat logistik bambu untuk menjamin pasokan bahan baku. Mentri perindustrian menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 125 jenis bambu dan menempati peringkat ketiga dunia sebagai sumber bahan baku bambu.
Fakta Ilmiah: Cadangan Karbon Tegakan Bambu di Tanah Toraja, Maros, dan Sleman
Sejumlah penelitian di Indonesia sudah mengukur cadangan karbon tegakan bambu, dan hasilnya sangat beragam. Pada tegakan bambu betung (Dendrocalamus asper) di hutan rakyat Tanah Toraja dengan umur rata-rata tiga tahun dengan kerapatan sekitar 4.134 batang per hektar, memiliki biomassa sebesar 225 ton perhektar dan cadangan karbonnya 111 ton C per hektar. Di Maros tegakn bambu Parring (Gigantochloa atter) menyimpan sekitar 34,6 ton C per hektar, sedangkan di hutan rakyat dengan ebberapa jenis bambu di Sleman, Yogyakarta tercatat menyimpan sekitar 37,7 ton C per hektar.
Angka- angka tersebut tidak bisa langsung dibandingkan karena umur tegakan, kerapatan, kondisi tapak, dan metode pengukurannya yang berbeda. Perlu dipahami bahwasannya angka itu menunjukan karbon yang tersimpan pada tegakan bambu. Bukan serapan per tahun dan bukan penurunan emisi bersih.
Bambu tidak akan menyelamatkan iklim seorang diri, Namun bambu yang ditanam di lahan kisis, dipanen secara lestari, diawetkan dan diolah menjadi produk bernilai tinggi dan dihitung karbonnya secara terukur dapat menjadi bagain dari ekonomi rendah karbon. Bambu layak dipandang lebih dari sekedar pagar kebun, tetapi hanya bila kita mau mengukurnya.
Â
Oleh : Hafizah Arinah (Mahasiswa Program Doktpral Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University)
























