Pelataran, Sumedang, (5/10/2026) — Perjalanan seseorang dalam membangun karier tidak selalu bergerak dalam satu garis lurus. Ada kalanya langkah dimulai dari pekerjaan sederhana, berpindah ke bidang yang berbeda, kemudian kembali menemukan arah melalui pengalaman yang pernah dilewati. Kisah tersebut tergambar dalam perjalanan Dede Rini Sulastri, perempuan asal Sumedang yang pernah menjalankan usaha makanan dari rumah, berkeliling menitipkan produk ke warung dan rumah makan, terjun ke dunia marketing, bekerja sebagai admin di Yogyakarta, mengelola kafe, hingga akhirnya dikenal sebagai foodies creator dan membangun KIRI PROJECT.
Dede Rini Sulastri adalah ibu rumah tangga asal Sumedang, Jawa Barat, yang kini aktif sebagai foodies creator sekaligus founder KIRI PROJECT. Melalui aktivitas content creation, Derini, sapaan yang telah melekat sejak kecil, mengangkat berbagai pengalaman seputar kuliner, kafe, lifestyle, dan traveling. Bersama Kiki Sri Hastuti, ia juga membangun KIRI PROJECT pada pertengahan 2025 sebagai creator network dan collaboration platform yang mempertemukan creator dengan brand, UMKM, komunitas, media partner, dan strategic partner. Saat ini, ekosistem tersebut telah menghimpun sekitar 1.000 creator dan terlibat dalam lebih dari 50 kolaborasi dengan brand maupun pelaku usaha.
Sebelum dikenal melalui konten kuliner dan aktivitasnya bersama KIRI PROJECT, Derini telah melewati perjalanan yang cukup panjang. Setiap fase membawanya pada lingkungan dan peran yang berbeda. Keluarga mengenalnya sebagai Derini, sementara sejumlah orang memanggilnya Teh Derini, Teh Rini, atau Teh Dede. Ketika berada di Yogyakarta, ia lebih akrab dengan panggilan Mbak Der. Ada pula masa ketika dirinya dikenal sebagai Ummu Nadia, panggilan yang diberikan para member karena anak pertamanya bernama Nadia.
Berbagai panggilan tersebut seperti mengikuti perubahan kehidupan yang dijalaninya. Ada masa ketika Derini lebih banyak berada di dapur sebagai pelaku UMKM, ada fase ketika aktivitasnya berhubungan dengan marketing dan administrasi, hingga periode ketika dirinya semakin dekat dengan dunia kuliner dan content creation. Kecintaan Derini terhadap makanan sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum dirinya mengenal dunia digital. Sejak kecil, ia senang mencoba berbagai makanan dan memiliki rasa ingin tahu terhadap beragam bahan serta olahan. Kebiasaan mencoba tersebut kemudian berkembang menjadi kegemaran bereksperimen di dapur.
Sekitar 2015, ketertarikannya terhadap makanan mulai diarahkan menjadi usaha. Derini membangun Nadiya Home, sebuah usaha rumahan yang memproduksi emping dan makanan ringan. Nama Nadiya diambil dari nama anak pertamanya, bahkan foto Nadia ketika masih kecil digunakan sebagai ikon produk. Produk tersebut kemudian dipasarkan dengan cara dititipkan ke sekitar 20 warung dan rumah makan di kawasan Paseh, Conggeang, dan sekitarnya. Salah satu tempat yang menerima produk Nadiya Home adalah Rumah Makan Mah Nini. Setiap dua minggu, Derini berkeliling untuk mengambil produk yang telah terjual sekaligus mengisi kembali stok.
Pendapatan dari kegiatan tersebut berada di kisaran Rp250 ribu hingga Rp500 ribu dalam satu kali periode keliling, tergantung pada jumlah produk yang terjual. Hampir seluruh proses dikerjakan sendiri, mulai dari membeli bahan, memproduksi, mengemas, mencari tempat penitipan, melakukan pemasaran, hingga mendistribusikan produk. Ketika permintaan meningkat, terutama menjelang Lebaran, satu atau dua tetangga terkadang ikut membantu proses produksi. Kesibukan tersebut membuat Derini mulai memahami bahwa menjalankan usaha makanan membutuhkan lebih dari kemampuan membuat produk. Produksi, stok, pemasaran, distribusi, hingga pengaturan waktu harus berjalan secara bersamaan.
Pengalaman lain kemudian datang ketika Derini mencoba memproduksi bakso jumbo dengan ukuran sekitar dua kepalan tangan. Produk tersebut sempat mendapatkan banyak pesanan. Rutinitasnya bahkan dimulai sekitar pukul tiga pagi ketika ia harus pergi ke pasar untuk mengantre menggiling bahan bakso sebelum melanjutkan proses produksi dan pemasaran. Selama sekitar tiga bulan, hampir seluruh pekerjaan masih ditangani sendiri. Ketika beban kerja semakin besar, usaha tersebut akhirnya dihentikan. Keputusan itu justru memberikan pelajaran penting bagi Derini mengenai kapasitas kerja, pembagian tugas, sistem, dan delegasi.
Pengalaman tersebut kelak menjadi salah satu bekal yang kembali muncul dalam perjalanan berikutnya. Setelah menjalani usaha makanan, Derini memasuki dunia marketing melalui PT Natural Nusantara di Sumedang. Aktivitas tersebut dijalaninya di bawah bimbingan Coach Muhammad Diana Mufti, C.HT., C.Herb., Crown Diamond Director PT Natural Nusantara sekaligus praktisi Terapi Langit. Kemampuannya dalam menjalankan aktivitas marketing kemudian membuka kesempatan baru. Coach Mufti menawarkan Derini peluang untuk tinggal di Yogyakarta dan menjalankan peran sebagai admin official sekaligus asisten konsultan. Lingkungan kerja yang baru tersebut membuat Derini semakin banyak berhadapan dengan administrasi, komunikasi, pelayanan, serta koordinasi dengan para member.

Kurang lebih dua tahun fase tersebut dijalaninya. Pada masa itu, Nadia masih kecil sehingga para member terbiasa memanggilnya Ummu Nadia. Penghasilan yang diperolehnya juga berubah sesuai periode dan aktivitas, pernah berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp7 juta pada periode tertentu, meskipun tidak diterima secara tetap setiap bulan. Pengalaman di Yogyakarta memperluas kemampuan yang sebelumnya dimiliki Derini. Ia semakin terbiasa menangani pekerjaan administratif, berkomunikasi dengan banyak orang, memberikan pelayanan, dan menjaga hubungan dengan para member. Kemampuan tersebut kemudian menjadi bekal yang kembali berguna ketika dirinya memasuki lingkungan yang berbeda.
Pada 2022, Derini mendapat kesempatan untuk ikut mengelola Kafe Satu Tujuan di Yogyakarta pada bagian akhir operasional kafe tersebut. Keterlibatan itu kembali mendekatkannya dengan dunia makanan dan tempat nongkrong. Ia juga semakin sering mengeksplorasi berbagai kafe bersama teman-temannya. Pengalaman sebagai pengelola kafe membuat Derini mulai memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman pengunjung. Menu, konsep tempat, suasana, pelayanan, hingga cara sebuah tempat membangun daya tarik mulai menjadi bagian dari pengamatannya. Pada fase tersebut, panggilan Mbak Der semakin dikenal di lingkungan Yogyakarta.
Ada pengalaman dari masa pengelolaan kafe yang baru terasa relevansinya setelah Derini memasuki dunia content creation. Ketika berada di sisi pengelola usaha, ia pernah memahami kebutuhan sebuah bisnis terhadap influencer atau content creator untuk membantu memperkenalkan produk dan tempat kepada masyarakat. Beberapa waktu kemudian, posisi tersebut berubah. Derini justru berada di sisi creator yang datang ke berbagai tempat, mencoba makanan, membuat review, lalu membagikan pengalaman kepada audiens. Pengalaman sebagai pelaku usaha membuatnya memahami kebutuhan promosi, sementara pengalaman sebagai creator memberinya sudut pandang mengenai bagaimana kerja sama tersebut dijalankan dari sisi kreator.
Derini menikah pada 2013 dan tetap menjalankan berbagai aktivitas tersebut sebagai seorang istri dan ibu. Pernikahan tidak membuatnya berhenti belajar maupun mencoba kesempatan baru. Dukungan pasangan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Keduanya terbiasa berdiskusi, bertukar pandangan, dan saling mendukung dalam mengambil keputusan. Bagi Derini, menikah muda tidak berarti kesempatan untuk berkembang harus berhenti. Kehidupan keluarga dapat berjalan berdampingan dengan keinginan untuk belajar, berkarya, dan membangun masa depan.
Memasuki awal 2025, perjalanan Derini kembali menemukan bentuk baru ketika ia mulai merintis aktivitas sebagai affiliate. Makanan menjadi salah satu topik yang paling dekat dengan dirinya. Konten yang pada awalnya banyak berkaitan dengan kuliner kemudian berkembang menjadi review tempat makan, kafe, lifestyle, hingga traveling. Sumedang dan Bandung menjadi bagian dari perjalanan awalnya sebagai foodies creator. Sejumlah brand seperti Burger King, Momoyo, dan Domino’s pernah hadir dalam konten yang dibuatnya, berdampingan dengan rumah makan lokal serta berbagai tempat kuliner yang sedang ramai diperbincangkan.
Eksplorasinya kemudian meluas ke Cianjur, Cirebon, dan Yogyakarta. Madasari, Pangandaran, juga menjadi salah satu tujuan ketika Derini berburu seafood sekaligus mendokumentasikan perjalanan tersebut. Kamera menjadi medium yang mempertemukan kegemarannya terhadap makanan, kebiasaan menulis, ketertarikan terhadap perjalanan, dan keinginannya untuk berbagi pengalaman. Bagi Derini, menjadi foodies creator bukan sekadar datang ke sebuah tempat lalu memberikan penilaian. Ada pengalaman yang ingin disampaikan kepada audiens, mulai dari makanan yang dicoba, suasana tempat, perjalanan menuju lokasi, hingga kesan yang diperoleh setelah berada di sana.
Cara pandang tersebut membuat konten Derini berkembang secara alami. Kuliner tetap menjadi bagian utama, tetapi kafe, lifestyle, dan traveling ikut menjadi bagian dari cerita yang dibangunnya. Perjalanan sebagai creator juga membuat Derini melihat bahwa peluang tidak selalu ditentukan oleh jumlah pengikut yang besar. Sebagai nano creator, ia mulai mempelajari karakter berbagai platform, mengembangkan akun, melakukan pitching kepada brand, berkomunikasi dengan pemilik usaha, serta melakukan negosiasi untuk kebutuhan kolaborasi. Pengalaman marketing yang pernah dijalani sebelumnya kembali menemukan manfaatnya. Kemampuan membaca kebutuhan, membangun komunikasi, menyampaikan penawaran, dan menjaga hubungan dengan pihak lain menjadi bekal ketika Derini mulai membangun kerja sama sebagai creator.
Perhatian tersebut kemudian berkembang. Derini mulai membantu teman-teman yang juga ingin mengembangkan diri sebagai creator. Dari aktivitas tersebut muncul gagasan untuk membangun ruang yang dapat mempertemukan lebih banyak creator dengan peluang kolaborasi. Bersama Kiki Sri Hastuti, Derini kemudian membangun KIRI PROJECT pada pertengahan 2025. KIRI PROJECT hadir sebagai creator network dan collaboration platform yang mempertemukan creator dengan brand, UMKM, komunitas, media partner, serta strategic partner.
Kehadiran KIRI PROJECT membawa pengalaman Derini dari berbagai bidang ke dalam satu ruang. Ia pernah menjadi pelaku UMKM yang harus memikirkan pemasaran, pernah berada di lingkungan marketing, memahami pekerjaan administrasi dan pelayanan, pernah berada di sisi pengelola kafe yang membutuhkan promosi, dan kemudian menjalani sendiri aktivitas sebagai creator. Berbagai pengalaman tersebut membuat Derini memiliki pemahaman dari beberapa sisi ketika membangun KIRI PROJECT. Ia mengetahui kebutuhan pelaku usaha sekaligus memahami posisi creator yang membutuhkan akses terhadap peluang kerja sama.
Perkembangan KIRI PROJECT kemudian terus berjalan. Sekitar 1.000 creator telah bergabung dalam ekosistem tersebut dan lebih dari 50 kolaborasi bersama brand maupun pelaku usaha telah dilakukan. Angka tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang bermula dari pengalaman Derini membantu beberapa orang di sekitarnya untuk berkembang sebagai creator. KIRI PROJECT menjadi ruang yang lebih luas bagi gagasan tersebut. Creator dapat bertemu dengan brand dan pelaku usaha, sementara bisnis memperoleh kesempatan untuk menemukan creator yang sesuai dengan kebutuhan kolaborasi mereka.
Bagi Derini, pengalaman masa lalu menjadi bagian penting dari cara ia melihat perkembangan tersebut. Pengalaman menjalankan Nadiya Home memberinya pemahaman mengenai produksi, distribusi, pemasaran, dan kebutuhan UMKM. Usaha bakso mengajarkannya tentang keterbatasan tenaga dan pentingnya delegasi. Dunia marketing membantunya memahami komunikasi dan peluang. Pekerjaan administrasi memperkuat kemampuan koordinasi dan pelayanan. Pengalaman di kafe membuatnya memahami kebutuhan promosi dari sisi bisnis.

Ketika masuk ke dunia content creation, seluruh pengalaman tersebut seperti menemukan ruang untuk saling terhubung. Kegemaran terhadap makanan menjadi bahan cerita, pengalaman marketing membantu membangun kerja sama, kemampuan komunikasi mendukung proses negosiasi, sementara pengalaman sebagai pelaku usaha membuatnya memahami kebutuhan pihak yang menjadi mitra. Cara pandang mengenai bekerja bersama orang lain juga ikut berkembang. Jika pada masa awal usaha Derini terbiasa menangani hampir semua pekerjaan sendiri, perjalanan yang dilaluinya membuat ia semakin memahami pentingnya sistem, pembagian peran, dan kerja tim.
Pelajaran tersebut menjadi semakin relevan ketika dirinya membangun KIRI PROJECT. Sebuah ekosistem creator membutuhkan lebih dari satu orang yang bekerja sendiri. Ada komunikasi, koordinasi, hubungan dengan brand, kebutuhan creator, serta berbagai proses yang harus berjalan bersama. Perjalanan Derini akhirnya mempertemukan dua ruang yang saling berkaitan. Sebagai foodies creator, ia terus mengeksplorasi kuliner, kafe, lifestyle, dan traveling. Sebagai founder KIRI PROJECT, ia membangun ruang kolaborasi yang mempertemukan creator dengan berbagai pihak.
Kesibukan tersebut tetap berjalan berdampingan dengan perannya sebagai ibu. Bagi Derini, berbagai peran dalam kehidupan tidak harus saling meniadakan. Menjadi ibu, menjalankan aktivitas sebagai creator, dan membangun sebuah project dapat berjalan dalam satu perjalanan yang sama selama ada kemauan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Kini, apa yang dilakukan Derini telah jauh berkembang dari aktivitasnya ketika masih menjalankan usaha makanan dari rumah. Namun, kecintaannya terhadap kuliner tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya. Ia masih menikmati makanan, mencoba tempat baru, melakukan perjalanan, menulis, dan mengubah pengalaman tersebut menjadi cerita untuk audiens.
Perbedaannya, cerita tersebut kini memiliki jangkauan yang lebih luas. Kamera ponsel menjadi ruang untuk membagikan pengalaman, platform digital menjadi tempat untuk membangun komunikasi, sementara KIRI PROJECT menjadi ruang yang mempertemukan lebih banyak creator dengan peluang kolaborasi. Perjalanan Dede Rini Sulastri menunjukkan bahwa pengalaman yang pernah dijalani tidak harus hilang ketika seseorang berganti bidang. Pengalaman tersebut justru dapat menjadi modal untuk memahami persoalan dari sudut yang berbeda dan menemukan bentuk baru dalam perjalanan berikutnya.
Dari usaha Nadiya Home, Derini belajar tentang ketekunan menjalankan UMKM. Dari usaha bakso, ia belajar mengenai batas kemampuan dan pentingnya delegasi. Dari marketing, ia belajar membaca peluang. Dari administrasi, ia mengasah komunikasi dan pelayanan. Dari kafe, ia kembali menemukan kedekatan dengan dunia kuliner. Dari content creation, ia menemukan ruang untuk bercerita sekaligus membangun hubungan dengan berbagai pihak. Kini, pengalaman tersebut bertemu dalam dua identitas yang melekat pada dirinya sebagai foodies creator dan founder KIRI PROJECT. Perjalanan yang bermula dari dapur rumahan tersebut telah membawanya melewati banyak tempat, pekerjaan, dan peran. Dari Sumedang hingga Yogyakarta, dari usaha makanan hingga dunia digital, setiap fase memberikan pengalaman yang kemudian dibawa menuju langkah berikutnya.
Sekitar 1.000 creator yang kini berada dalam ekosistem KIRI PROJECT dan lebih dari 50 kolaborasi yang telah dijalankan menjadi bagian dari perkembangan perjalanan tersebut. Namun, bagi Derini, perjalanan itu masih jauh dari selesai. Masih ada makanan yang ingin dicoba, tempat yang ingin dikunjungi, cerita yang ingin ditulis, creator yang ingin berkembang, serta peluang kolaborasi yang dapat dipertemukan. Dari dapur tempat ia dahulu memproduksi makanan sendiri hingga layar ponsel yang kini menjadi ruang untuk bercerita, Dede Rini Sulastri terus membawa pengalaman lama menuju kesempatan baru. Perjalanan itu tidak dibangun dalam satu malam, melainkan melalui keberanian mencoba, kesediaan belajar dari kegagalan, dan kemauan untuk terus bergerak ketika satu jalan ternyata membawa pada jalan lainnya.
Kini, Derini bukan lagi hanya seseorang yang gemar mencoba makanan. Ia telah menjadikan kegemarannya sebagai bagian dari karya, membangun identitas sebagai foodies creator, sekaligus menciptakan ruang kolaborasi melalui KIRI PROJECT. Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sesuatu yang bermula dari hal sederhana dapat berkembang menjadi langkah yang lebih besar ketika pengalaman terus dikumpulkan dan diolah menjadi bekal untuk masa depan.





















