Ketika orang membicarakan biaya kuliah, UKT atau uang semesteran biasanya muncul terlebih dahulu. Mahasiswa dan keluarga menimbang angka itu sebelum memilih perguruan tinggi.
Namun kuliah memerlukan uang di luar awal semester. Setiap hari mahasiswa mengeluarkan biaya untuk pergi ke kampus, makan, membeli kuota internet, dan mencetak tugas. Mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga menambah biaya kos dan kebutuhan sehari-hari ke daftar itu. Biaya kuliah, dengan begitu, mencakup lebih banyak hal daripada yang dibayarkan ke kampus.
Biaya Kecil yang Terus Berjalan
Satu per satu, pengeluaran mahasiswa terlihat kecil. Ongkos perjalanan mungkin hanya belasan ribu rupiah. Makan dan kebutuhan tugas juga begitu.
Tapi pengeluaran ini berulang setiap minggu. Transportasi dan makan yang keluar beberapa kali seminggu bertambah jadi pengeluaran rutin bulanan. Tambahkan internet dan kebutuhan akademik, dan jumlahnya membengkak tanpa mahasiswa menyadarinya.
Mahasiswa mengetahui pengeluaran ini ada. Yang sering hilang dari perhitungan adalah statusnya sebagai bagian dari biaya pendidikan, di situlah biaya hidup jadi beban tersembunyi.
Tanpa transportasi, mahasiswa tidak bisa datang ke kampus. Tanpa internet, tugas dan komunikasi akademik terganggu. Tanpa biaya makan, mahasiswa sulit menjalani aktivitas perkuliahan.
Setiap Mahasiswa Memiliki Beban yang Berbeda
Biaya hidup tidak sama bagi setiap mahasiswa. Mahasiswa yang tinggal bersama orang tua menghadapi kondisi berbeda dari mahasiswa perantauan yang membayar kos. Mahasiswa dengan kendaraan pribadi punya pengeluaran transportasi berbeda dari mahasiswa yang naik transportasi umum.
Dua mahasiswa dengan UKT yang sama bisa memikul beban keuangan yang jauh berbeda. Mahasiswa perantauan menghitung kos, makan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga sekaligus. Mahasiswa yang tinggal bersama keluarga hanya menanggung transportasi dan kebutuhan kuliah tertentu.
Nominal UKT saja tidak menggambarkan kondisi keuangan mahasiswa.
Semakin Kompleks Ketika Mahasiswa Juga Bekerja
Mahasiswa yang bekerja sambil kuliah merasakan persoalan ini lebih berat. Mereka membagi pendapatan terbatas untuk kuliah, transportasi, makan, kebutuhan pribadi, tabungan, dan kadang kebutuhan keluarga.
Ketika satu pengeluaran naik, mahasiswa memotong pos lain. Mengatur keuangan berubah dari sekadar menabung menjadi memilih kebutuhan mana yang didahulukan.
Di tengah itu, mereka tetap menghadiri kuliah, mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan kampus, dan mengejar kelulusan tepat waktu. Kesulitan finansial mahasiswa bukan selalu soal kurang pintar mengatur uang. Kadang kebutuhan memang lebih banyak dari uang yang tersedia.
Biaya Kuliah Perlu Dilihat Secara Lebih Luas
Kebutuhan setiap mahasiswa berbeda, dan sebagian pengeluaran memang bersifat pribadi, bukan berarti semua biaya hidup mahasiswa harus dihitung sebagai biaya kampus. Tapi biaya kuliah dan biaya untuk bisa terus kuliah adalah dua hal berbeda.
Mahasiswa membayar UKT beberapa kali dalam setahun. Mereka membayar makan, transportasi, internet, dan tempat tinggal setiap bulan. Keluarga perlu menyiapkan uang semesteran sekaligus menghitung kebutuhan hidup selama masa kuliah berlangsung.
Penutup
Kuliah bukan hanya soal membayar biaya semesteran. Pengeluaran lain muncul di belakangnya dan berjalan setiap hari, seperti biaya transportasi, makanan, internet, tempat tinggal, kebutuhan akademik. Satu per satu, semua itu terlihat sederhana. Dikumpulkan selama berbulan-bulan, semuanya membentuk beban finansial mahasiswa yang nyata.
“Berapa biaya kuliah?” bukan lagi pertanyaan yang cukup. Mahasiswa dan keluarga perlu bertanya: berapa biaya yang sebenarnya dibutuhkan agar seorang mahasiswa bisa kuliah sampai selesai?
Pendidikan tinggi tidak berhenti setelah UKT dibayar. Ia berlangsung setiap hari, dan setiap hari itu punya biayanya sendiri.






















