Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Fosil, tulang, dan artefak menjadi sumber belajar bagi 23 murid MAN 1 Yogyakarta dalam Pembelajaran Luar Kelas (PLK) Antropologi, Rabu (16/9/2026). Mengunjungi Museum Bio-Paleoantropologi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), murid kelas Antropologi mempelajari asal usul manusia dan ciri fisiknya melalui pengamatan langsung terhadap koleksi museum.
Kegiatan yang dipandu guru Antropologi, Masayu Nurul Ana, S.Ant., M.Pd., tersebut berkaitan dengan materi Antropologi Ragawi. Pembelajaran dirancang agar murid tidak hanya memahami konsep melalui buku atau video, tetapi juga berinteraksi langsung dengan objek yang menjadi sumber kajian antropologi.
Setibanya di museum, murid menerima Lembar Kerja Murid (LKM) yang harus diselesaikan selama kegiatan berlangsung. Mereka kemudian mendapatkan pengarahan dari narasumber museum, Dismas Lienthar, sebelum mengikuti sesi tanya jawab dan mengeksplorasi koleksi yang tersedia.
Kesempatan mengamati, menyentuh, dan mengeksplorasi sejumlah koleksi menjadi bagian penting dalam pengalaman belajar tersebut. Murid dapat menghubungkan materi yang dipelajari di kelas dengan objek nyata, sekaligus menggali pemahaman melalui pertanyaan dan pengamatan.

Koleksi Museum Bio-Paleoantropologi mencakup fosil manusia purba, artefak, tulang sub-recent, tumbuhan, serta spesimen avertebrata dan vertebrata. Beragam koleksi itu memberikan konteks untuk mempelajari asal usul dan evolusi manusia, yang menjadi pokok bahasan Antropologi Ragawi.
Selain itu, murid juga memperoleh gambaran mengenai cabang antropologi ragawi, antara lain antropologi forensik dan antropologi gizi. Materi tersebut memperlihatkan bagaimana kajian tentang tubuh manusia dapat digunakan untuk memahami berbagai persoalan, mulai dari identifikasi manusia hingga hubungan antara kondisi tubuh dan asupan gizi.
Pengalaman eksplorasi semakin menarik dengan kehadiran teknologi digital di museum. Fasilitas seperti televisi layar sentuh dan layar interaktif yang dapat menirukan gerakan pengunjung menghadirkan cara baru dalam mengakses informasi dan berinteraksi dengan materi pameran.
Pemanfaatan teknologi tersebut memberi ruang bagi murid untuk belajar secara lebih aktif. Mereka tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga dapat mengeksplorasi informasi melalui fasilitas yang tersedia.
Guru Antropologi MAN 1 Yogyakarta, Masayu Nurul Ana, membawa pembelajaran keluar dari ruang kelas agar murid memperoleh pengalaman yang lebih konkret dalam memahami materi. Melalui pengamatan langsung dan interaksi dengan koleksi, konsep Antropologi Ragawi diharapkan lebih mudah dipahami dan diingat.
Sebagai tindak lanjut, murid diminta membuat video atau vlog yang mendokumentasikan pengalaman PLK. Kegiatan refleksi akan dilaksanakan saat kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, sehingga pengalaman di museum dapat kembali dibahas dan dihubungkan dengan materi pembelajaran.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., mengapresiasi pembelajaran luar kelas yang memberi kesempatan kepada murid untuk memperluas pengalaman belajar melalui lingkungan nyata.
“Pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Pengalaman mengamati objek secara langsung dapat membantu murid membangun pemahaman yang lebih konkret, mengembangkan rasa ingin tahu, dan menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata,” tutur Edi.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran yang mendorong keaktifan, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis murid.
Melalui kunjungan ke Museum Bio-Paleoantropologi UGM, pembelajaran Antropologi Ragawi menjadi kesempatan bagi murid untuk melihat lebih dekat jejak kehidupan manusia sekaligus memahami bagaimana ilmu antropologi membantu menjelaskan manusia dan perkembangannya. (dee)





















