“Ku bertamu ke rumah barumu, tak ada kamu, hanya papan dan namamu.”
Hanya sepenggal lirik lagu Sesi Potret — Ari Lesmana membuat saya merasa masuk kembali ke dalam kenangan yang selalu ditutup rapat. Hal ini membuat saya sadar bahwa beberapa rasa kehilangan ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Kita hanya belajar menjalani hidup berdampingan dengan rindu yang kadang datang dari hal sederhana. Kadang hanya karena mendengar lagu, melihat foto lama, atau bahkan kejadian sederhana bisa saja tiba-tiba mengingatkan pada seseorang yang sudah tidak ada.
Menurut saya, proses kehilangan memang tidak mudah dijelaskan. Ada orang yang mampu mengekspresikan kesedihannya, tetapi ada juga yang memilih untuk memendam semuanya sendiri. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk berproses, sembuh dari luka, dan berdamai dengan keadaan entah cepat atau lambat berjalannya waktu.
Yang menarik, lagu seringkali menjadi media paling sederhana yang mampu mengingatkan kembali masa lalu seseorang. Banyak orang merasa relate dengan beberapa lirik tertentu seakan-akan sedang hidup di dalam kenangan yang jelas tidak bisa diputar kembali. Begitupun dengan saya ketika mendengar lagu Sesi Potret yang mengingatkan pada almarhum Abi saya.
Ada rindu yang tiba-tiba datang, ada banyak penyesalan dan pelajaran hidup yang terjadi, membuat saya tanpa sadar tiba-tiba meneteskan air mata. “Andai Abi masih ada..” benakku. Berat rasanya menerima kenyataan yang begitu pahit. Tapi apa boleh buat? Bukankah hidup harus terus berjalan?
Namun percayalah, tidak ada yang salah dengan rindu. Bukan berarti tidak ikhlas, tetapi itu adalah tanda bahwa seseorang yang dirindukan pernah menjadi bagian hidup yang penting dan tidak akan terlupakan. Menangislah sepuasnya, berproses lah sekuatnya, hingga waktu yang menyembuhkan.
Sungguh, tidak ada yang lebih sakit dari kehilangan orang tersayang. Hidup rasanya seperti berjalan di atas kaki sendiri, mencari arah sendiri, bahkan jatuh dan bangkit sendiri. Jiwa yang bersedih ini harus mengusahakan segala hal tanpa ada yang memeluknya. Meskipun saya tidak benar-benar sendiri, saya tahu itu. Hanya saja tetap ada rasa kosong yang sulit dijelaskan.
Pada akhirnya, saya sadar bahwa beberapa kehilangan memang tidak benar-benar pergi. Selalu akan tersisa ruang tersendiri di hati untuk orang yang kita sayang, meskipun mereka telah tiada.
Abi, kakak rindu.
Al-Fatihah, Muliadi bin Abdul Hamid.

























