Setiap tahun, Pekan Gawai Dayak menjadi salah satu perayaan budaya terbesar di Kalimantan Barat. Ribuan orang datang untuk menikmati pertunjukan seni, tarian tradisional, musik daerah, kuliner khas, dan berbagai ekspresi budaya yang menunjukkan kekayaan warisan masyarakat Dayak. Gawai menjadi ruang perjumpaan antargenerasi sekaligus penanda bahwa budaya Dayak tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Namun, di balik kemeriahan itu, kadang muncul pemandangan yang menimbulkan keprihatinan. Berita tentang mabuk-mabukan, keributan, atau perkelahian sesekali mewarnai perayaan yang seharusnya menjadi ruang syukur dan kebersamaan. Fenomena ini tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelanggaran ketertiban. Ia juga dapat dibaca sebagai tanda bahwa masih ada jarak antara perayaan budaya dan pemahaman terhadap makna budaya itu sendiri.
Di sinilah pentingnya literasi Dayak.
*Ketika Budaya Hanya Menjadi Keramaian*
Banyak orang mengenal Gawai sebagai pesta budaya. Mereka datang untuk menyaksikan berbagai pertunjukan, bertemu teman, berfoto, dan menikmati suasana perayaan. Semua itu tentu merupakan bagian yang wajar dari sebuah festival budaya.
Namun budaya tidak pernah berhenti pada kemeriahan. Di balik setiap tarian, simbol adat, pakaian tradisional, dan ritual yang ditampilkan, terdapat nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur. Budaya sesungguhnya adalah kumpulan pengetahuan, kebijaksanaan, dan cara hidup yang membentuk karakter suatu masyarakat.
Ketika orang hanya menikmati kemasan luar tanpa memahami makna di dalamnya, budaya perlahan berubah menjadi tontonan. Ia tetap terlihat hidup, tetapi kehilangan sebagian jiwanya.
Gawai yang hanya dipahami sebagai pesta berisiko kehilangan makna dasarnya sebagai ungkapan syukur, persaudaraan, penghormatan terhadap alam, dan penghargaan terhadap kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan.
*Apa Itu Literasi Dayak?*
Ketika mendengar kata literasi, banyak orang langsung membayangkan kegiatan membaca buku. Padahal, literasi memiliki makna yang jauh lebih luas. Literasi adalah kemampuan memahami, menghayati, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan.
Dalam konteks kebudayaan, literasi Dayak berarti kemampuan memahami sejarah, adat istiadat, nilai-nilai, tradisi lisan, bahasa daerah, filosofi hidup, dan kearifan lokal masyarakat Dayak.
Seseorang yang memiliki literasi Dayak tidak hanya mengetahui nama-nama sub etnis Dayak atau mengenakan pakaian adat pada acara tertentu. Ia juga memahami nilai yang terkandung di balik tradisi tersebut. Ia mengetahui mengapa leluhur membangun kehidupan berdasarkan kebersamaan, mengapa alam dihormati, dan mengapa keharmonisan sosial selalu dijaga.
Literasi Dayak bukan sekadar pengetahuan tentang masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan tantangan masa kini.
*Leluhur Tidak Mewariskan Kekacauan*
Perlu ditegaskan bahwa perilaku mabuk-mabukan dan perkelahian bukanlah identitas budaya Dayak. Tidak ada nilai luhur yang mengajarkan bahwa keberanian harus ditunjukkan dengan membuat keributan. Tidak ada ajaran adat yang mengajarkan bahwa kehormatan diperoleh melalui kekerasan.
Sebaliknya, banyak tradisi Dayak mengajarkan penghormatan kepada sesama, tanggung jawab terhadap komunitas, serta penyelesaian konflik melalui mekanisme adat dan musyawarah.
Karena itu, ketika terjadi tindakan yang mencederai ketertiban dalam sebuah perayaan budaya, yang sedang dipertontonkan sesungguhnya bukan budaya Dayak, melainkan kegagalan memahami budaya Dayak.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mengenakan identitas budaya tidak selalu berarti memahami nilai budaya.
*Tantangan Generasi Muda*
Generasi muda hidup dalam era digital yang menawarkan berbagai informasi dari seluruh dunia. Mereka dapat mengenal budaya populer global hanya melalui layar telepon genggam. Namun di saat yang sama, banyak pengetahuan lokal yang justru semakin jarang dipelajari.
Tidak sedikit anak muda yang mengenal tren media sosial terbaru, tetapi tidak mengetahui cerita rakyat dari daerahnya sendiri. Mereka hafal berbagai istilah populer dari luar negeri, tetapi tidak memahami makna simbol-simbol budaya yang diwariskan leluhurnya.
Jika situasi ini terus berlangsung, maka budaya akan kehilangan pewaris yang benar-benar memahami isinya.
Karena itu, literasi Dayak perlu menjadi gerakan bersama. Bukan hanya tugas para tetua adat, budayawan, atau akademisi, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.
*Gawai Sebagai Ruang Literasi*
Pekan Gawai Dayak memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pembelajaran budaya. Festival ini tidak hanya dapat menampilkan kesenian dan hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
Diskusi budaya, pameran sejarah, lomba menulis tentang tradisi Dayak, dokumentasi cerita lisan para tetua, pelatihan bahasa daerah, hingga produksi konten digital tentang budaya Dayak dapat menjadi bagian penting dari perayaan.
Di era media sosial, literasi budaya bahkan dapat berkembang melalui video pendek, podcast, artikel populer, dan berbagai bentuk kreativitas digital lainnya.
Semakin banyak generasi muda memahami budayanya, semakin kecil kemungkinan mereka memaknai Gawai hanya sebagai ruang hiburan semata.
*Menjadi Pewaris yang Menghidupi Nilai*
Pada akhirnya, keberhasilan suatu budaya tidak ditentukan oleh seberapa meriah perayaannya, melainkan oleh seberapa kuat nilai-nilainya hidup dalam diri masyarakat.
Budaya Dayak telah bertahan selama berabad-abad bukan karena kemegahan acaranya, tetapi karena kebijaksanaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, solidaritas sosial, kerja keras, dan rasa hormat kepada sesama merupakan kekayaan yang jauh lebih berharga daripada simbol-simbol budaya yang tampak di permukaan.
Karena itu, setiap kali kita menyaksikan Gawai Dayak, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya seberapa meriah perayaannya, tetapi juga seberapa jauh nilai-nilai Dayak dipahami dan dihidupi oleh para pesertanya.
Literasi Dayak menjadi kunci agar budaya tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan tetap menjadi tuntunan. Sebab warisan terbesar leluhur bukanlah keramaian yang berlangsung beberapa hari, melainkan kebijaksanaan yang mampu menerangi kehidupan lintas generasi.
Jika Gawai adalah perayaan budaya, maka literasi Dayak adalah upaya menjaga jiwanya. Tanpa literasi, budaya mudah kehilangan arah. Dengan literasi, budaya tetap hidup, bermakna, dan mampu membentuk generasi yang tidak hanya bangga mengaku Dayak, tetapi juga menghidupi nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhurnya.



















