Artikel opini tentang Rumah yang tak lagi sama
Dulu rumah selalu terasa utuh, bukan karena ukurannya besar atau isinya lengkap, tetapi karena ada seseorang yang diam diam membuat semuanya terasa aman,ayah. Ini cerita tentang rumah yang berbeda,dan berjarak jauh hanya tersentuh dalam jarak doa.
Rumah bukan hanya tentang dinding,atap,atau perabotan.Rumah adalah tempat pulang dimana kita merasa aman. cara seseorang pulang tanpa rasa takut,cara tawa terdengar lebih hangat,cara masalah terasa lebih ringan,karena ada sosok yang seolah selalu tahu bagaimana mencari cara jalan keluar, menurut saya sosok itu adalah ayah.
Namun sejak ayah pergi,ada sesuatu yang hilang?semua terasa berbeda,rumah yang sama dengan dinding yang tidak bergeser, dengan kursi yang masih di tempatnya,tiba tiba terasa berbeda, kosong rasa nya, seolah ada bagian yang hilang. ketika ayah pergi,terutama untuk selamanya,yang tertinggal bukan hanya kenangan, tetapi juga duka yang sulit di jelaskan dengan kata kata.
Sering kali muncul pertanyaan dalam diri saya:
Butuh berapa lama luka ini akan sembuh? apakah duka ini akan kunjung sembuh? atau mungkin apakah ini adalah luka yang tidak akan pernah benar benar hilang?. Banyak orang bilang dengan seiring waktunya berjalan akan mulai sembuh dan lupa akan rasa sakit itu seperti kalimat “waktu akan menyembuhkan” terdengar menenangkan seolah olah suatu hari nanti rasa sakit sesak itu akan benar benar hilang. Namun, kenyataan nya 12 tahun sudah berlalu sejak kepergianmu namun rasa sakit itu masih sangat terasa,seperti luka yang masih basah dan tak kunjung kering.
Sejak saat itu rumah,rumah tidak pernah benar benar terasa seperti “rumah”. Rumah tetap menjadi tempat tinggal,tempat pulang secara fisik, namun secara emosional,ada jarak yang rasanya sangat jauh, jarak yang tidak pernah terpikirkan dan jarak yang tidak pernah ada sebelum nya. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi, meskipun orang orang di dalam nya masih sama.
Waktu tidak mengembalikan apa yang hilang. Ia hanya mengajarkan cara untuk terbiasa.lebih tepatnya mungkin rasa seperti dipaksa untuk terbiasa, terbiasa dengan suasana yang lebih sunyi,terbiasa dengan kursi yang kosong,terbiasa dengan kenyataan bahwa rumah tidak lagi utuh seperti dulu.
Dan bagian tersulitnya bukan hanya harus menerima bahwa ayah telah pergi tetapi, menerima rumah tidak akan pernah sama lagi. Namun di balik semua itu, rumah tetap menyimpan kenangan,setiap sudutnya masih berbicara,meskipun tanpa suara. Masih ada jejak tawa,nasihat,dan kehangatan yang pernah ada. Dan mungkin dari situlah kita belajar bahwa “utuh” tidak selalu berarti lengkap secara fisik.
Rumah memang tidak lagi sama dan tak akan pernah lagi sama,tapi kenangan di dalamnya tetap hidup. Dan perlahan, kita belajar bahwa rumah bukan hanya tentang siapa yang masih ada tetapi juga tentang siapa yang pernah menjadi bagian di dalamnya.
“Rumahku pernah terasa hangat,sebelum semuanya dingin seperti sekarang” (Biru, 2025).




















