LAMONGAN, JAWA TIMUR — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada Rabu, 1 Oktober 2026, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi mendalam bagi bangsa Indonesia. Di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, menelusuri jejak pergolakan dan pemberontakan pasca-kemerdekaan hingga peristiwa kelam G30S menjadi kunci untuk memahami mengapa Pancasila harus tetap dipertahankan sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.
Menelisik Akar Sejarah: Dari Madiun hingga G30S
Sejarah Indonesia pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945 mencatat bahwa kemerdekaan tidak serta merta menjamin kedamaian. Negara yang masih bayi ini harus menghadapi berbagai ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri, yang mencoba mengubah ideologi dan bentuk negara.
Berdasarkan catatan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), serangkaian pergolakan besar pernah menguji nyali bangsa ini. Dimulai dari Pemberontakan PKI di Madiun 1948, yang mencoba memaksakan ideologi komunis dan mendirikan negara Soviet. Disusul oleh gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang bertujuan mengganti Pancasila dengan syariat Islam, serta pembentukan Republik Maluku Selatan (RMS) yang ingin memisahkan diri dari NKRI.
Ketegangan politik semakin memuncak pada dekade 1950-an dengan munculnya PRRI dan Permesta, yang berakar pada ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat. Puncak dari berbagai ketegangan ideologi dan politik ini meledak pada peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965, yang menewaskan sejumlah perwira tinggi TNI AD dan memicu konflik berkepanjangan serta tragedi kemanusiaan di berbagai pelosok negeri.
Mengapa Sejarah Harus Dibaca Kritis?
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: Mengapa kita perlu mengingat kembali luka lama tersebut? Jawabannya terletak pada pentingnya pembelajaran sejarah yang objektif.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menekankan bahwa mempelajari sejarah G30S dan pemberontakan lainnya tidak boleh didasarkan pada satu narasi tunggal. Generasi muda diajak untuk membaca arsip, membandingkan sumber, dan memahami bahwa setiap peristiwa memiliki latar belakang multikausal—baik itu konflik internal militer, perang ideologi, maupun campur tangan asing.
“Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu tentang siapa yang menang dan kalah. Sejarah adalah ruang untuk belajar agar kesalahan tidak berulang,” ujar salah satu pengamat sejarah lokal. Dengan memahami bagaimana propaganda bekerja dan mengapa kekerasan terjadi, masyarakat dapat membangun ketahanan ideologi yang lebih matang.
Pancasila: Titik Temu dan Pandangan Hidup
Di tengah badai pergolakan tersebut, Pancasila terbukti mampu bertahan dan menjadi “meja statis” yang menyatukan keberagaman. BPIP menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan lima sila, melainkan leitstar (bintang penuntun) dinamis bagi kehidupan berbangsa.
Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial adalah jawaban atas segala bentuk ekstremisme yang pernah mencoba memecah belah Indonesia. Pancasila adalah kesepakatan luhur para pendiri bangsa (The Founding Fathers) yang digali dari bumi Indonesia sendiri, bukan impor dari ideologi lain.
Suarakan dari Lamongan: Pancasila Harus Murni dan Konsekuen
Di Lamongan, Jawa Timur, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini diwarnai dengan ajakan konkret untuk mengamalkan nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sami’an, seorang tokoh masyarakat yang vokal menyuarakan pentingnya pendidikan karakter, menekankan bahwa peringatan ini harus bermuara pada tindakan nyata.
“Pancasila secara Murni dan Konsekuen harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tegas Sami’an.
Ia mencontohkan, pengamalan Pancasila tidak harus selalu dalam bentuk retorika politik yang berat. “Sikap toleransi, gotong royong, kerja bakti, sikap tenggang rasa, menghormati perbedaan, dan menghargai pilihan orang lain adalah wujud nyata Pancasila di lingkungan terkecil kita,” tambahnya.
Menurut Sami’an, generasi muda adalah kunci. “Maju mundurnya suatu bangsa terletak pada pundak generasi muda sekarang. Jadikan sejarah peristiwa masa lalu yang ingin mengubah ideologi negara sebagai pelajaran untuk membangun pemahaman yang bijak dan kritis,” pungkasnya.
Tantangan Generasi Digital
Di era 2026 ini, tantangan terbesar dalam menjaga Kesaktian Pancasila adalah banjir informasi di dunia digital. Hoaks dan sejarah yang diputarbalikkan mudah menyebar. Oleh karena itu, literasi sejarah menjadi benteng pertahanan utama.
Generasi muda Lamongan dan Indonesia pada umumnya dituntut untuk tidak menelan mentah-mentah informasi dari media sosial. Kemampuan memverifikasi sumber, mengunjungi arsip, dan berpikir kritis adalah cara modern untuk “menjaga” Pancasila.
Dari Pergolakan Menuju Kesadaran Kebangsaan
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 mengajak seluruh elemen bangsa untuk bertransformasi dari sekadar “pewaris sejarah” menjadi “pencipta sejarah baru”. Sejarah baru yang dimaksud adalah sejarah yang dibangun di atas fondasi persatuan, demokrasi, kemanusiaan, dan keadilan sosial.
Dengan menelusuri jejak pergolakan masa lalu, kita sadar bahwa harga sebuah persatuan sangatlah mahal. Pancasila adalah kesepakatan final yang mengikat kita semua. Sebagaimana semangat yang tertulis dalam poster peringatan tahun ini: “Pancasila Menyatukan Kita, Menjaga Indonesia.”






















