Pernah melihat sebuah usaha yang terlihat semakin ramai, tetapi pemiliknya justru merasa uang yang dimiliki selalu habis?
Setiap hari ada pembeli. Pesanan masuk terus. Omzet terlihat meningkat. Bahkan ada hari-hari tertentu ketika penjualan jauh lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Namun, ketika semua pengeluaran dihitung, keuntungan yang tersisa ternyata tidak sebesar yang dibayangkan.
Situasi seperti ini menarik untuk diperhatikan. Sebab dalam menjalankan usaha, banyak orang masih menggunakan jumlah omzet sebagai ukuran utama keberhasilan bisnis. Padahal, omzet hanyalah salah satu angka dalam kegiatan usaha.
Uang yang masuk belum tentu sepenuhnya menjadi keuntungan.
Ada biaya bahan baku, kemasan, listrik, transportasi, sewa tempat, gaji karyawan, biaya promosi, hingga berbagai pengeluaran kecil yang sering kali tidak terasa ketika dikeluarkan satu per satu. Jika seluruh biaya tersebut tidak dicatat dan dianalisis dengan baik, pemilik usaha bisa kesulitan mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya.
Di sinilah akuntansi manajemen memiliki peran.
Ketika Omzet Tidak Cukup untuk Menjelaskan Kondisi Bisnis
Bayangkan sebuah usaha makanan yang menjual rice bowl.
Dalam satu bulan, penjualan usaha tersebut mencapai Rp30 juta. Sekilas, angka tersebut terlihat cukup besar. Pemilik usaha mungkin merasa bisnisnya sedang berkembang karena jumlah pesanan juga meningkat.
Namun, ternyata biaya bahan baku mencapai Rp12 juta, biaya kemasan Rp3 juta, gaji karyawan Rp5 juta, sewa tempat Rp3 juta, listrik dan internet Rp1 juta, serta biaya promosi dan pengeluaran lainnya sebesar Rp2 juta.
Jika hanya melihat omzet, pemilik usaha mungkin merasa hasilnya sangat besar. Tetapi setelah biaya diperhitungkan, gambaran bisnis menjadi berbeda.
Contoh sederhana tersebut menunjukkan bahwa keputusan bisnis tidak seharusnya hanya berdasarkan jumlah penjualan.
Pemilik usaha perlu mengetahui ke mana uang tersebut digunakan dan berapa bagian yang benar-benar tersisa sebagai keuntungan.
Dalam akuntansi manajemen, informasi biaya dapat digunakan untuk membantu manajemen dalam perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Informasi tersebut dapat disusun sesuai kebutuhan pihak internal perusahaan agar keputusan yang diambil memiliki dasar yang lebih jelas.
Akuntansi Manajemen Bukan Hanya untuk Perusahaan Besar
Ketika mendengar istilah akuntansi manajemen, sebagian orang mungkin langsung membayangkan perusahaan besar dengan sistem keuangan yang rumit.
Padahal, konsepnya juga dapat diterapkan dalam usaha kecil.
Seorang pemilik kedai kopi misalnya, perlu mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu gelas kopi. Pemilik usaha makanan perlu mengetahui biaya bahan baku dan kemasan untuk setiap produknya. Begitu juga dengan penjual pakaian yang perlu mengetahui harga beli, biaya operasional, biaya promosi, dan margin yang diperoleh dari setiap produk.
Informasi sederhana tersebut dapat membantu pemilik usaha menjawab pertanyaan yang sangat penting.
Produk mana yang paling menguntungkan?
Apakah harga jual saat ini sudah sesuai?
Apakah biaya bahan baku terlalu tinggi?
Apakah promosi yang dilakukan memberikan hasil?
Berapa minimal produk yang harus terjual agar biaya usaha dapat tertutup?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya berkaitan dengan pengambilan keputusan.
Biaya Tidak Semuanya Memiliki Sifat yang Sama
Salah satu hal penting dalam akuntansi manajemen adalah memahami karakteristik biaya.
Secara sederhana, biaya dapat dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya tetap merupakan biaya yang dalam rentang aktivitas tertentu relatif tidak berubah terhadap perubahan volume kegiatan. Contohnya adalah sewa tempat.
Sementara itu, biaya variabel cenderung berubah mengikuti jumlah produk atau aktivitas yang dilakukan. Bahan baku dan kemasan dapat menjadi contoh biaya yang meningkat ketika jumlah produk yang dibuat dan dijual meningkat.
Mengapa pemilik usaha perlu mengetahui perbedaan tersebut?
Karena ketika ingin mengambil keputusan, pemilik usaha perlu memahami biaya apa saja yang akan berubah ketika aktivitas bisnis berubah.
Misalnya, sebuah usaha ingin menambah produksi dari 100 porsi menjadi 150 porsi per hari. Pemilik usaha tidak cukup hanya memperkirakan tambahan omzet. Ia juga perlu menghitung tambahan bahan baku, kemasan, tenaga kerja, dan biaya lainnya.
Dengan begitu, keputusan untuk meningkatkan produksi tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan informasi biaya dan manfaat yang lebih jelas.
Ikatan Akuntan Indonesia menjelaskan bahwa biaya relevan digunakan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan. Biaya tersebut berkaitan dengan masa mendatang dan berbeda antara alternatif keputusan yang tersedia.
Jangan Sampai Harga Jual Ditentukan Hanya dari Harga Pesaing
Masalah lain yang sering muncul dalam usaha adalah menentukan harga jual hanya dengan melihat harga kompetitor.
Misalnya, usaha A menjual satu produk seharga Rp20.000. Pemilik usaha B kemudian menetapkan harga yang sama karena merasa harga tersebut sesuai dengan pasar.
Padahal, kondisi biaya kedua usaha belum tentu sama.
Bisa saja usaha A mendapatkan bahan baku dengan harga lebih murah. Bisa juga usaha A memiliki jumlah produksi yang lebih besar sehingga biaya per produknya berbeda.
Jika pemilik usaha hanya mengikuti harga pesaing tanpa mengetahui struktur biayanya sendiri, harga jual yang ditetapkan belum tentu memberikan keuntungan yang cukup.
Akuntansi manajemen dapat membantu pemilik usaha melihat biaya secara lebih rinci sehingga penetapan harga tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Bukan berarti harga jual harus selalu tinggi. Justru informasi biaya dapat membantu pemilik usaha menentukan harga yang lebih masuk akal dengan mempertimbangkan kondisi biaya, target keuntungan, dan situasi pasar.
Dari Mencatat Biaya Menjadi Mengambil Keputusan
Hal menarik dari akuntansi manajemen adalah informasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai laporan.
Informasi tersebut seharusnya digunakan.
Misalnya, setelah melakukan evaluasi, pemilik usaha menemukan bahwa salah satu produknya memiliki penjualan tinggi tetapi keuntungan yang dihasilkan relatif kecil karena biaya produksinya juga tinggi.
Dari informasi tersebut, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan.
Apakah harga produk perlu disesuaikan?
Apakah bahan baku dapat diperoleh dari pemasok lain dengan kualitas yang tetap sesuai?
Apakah ukuran atau komposisi produk perlu dievaluasi?
Atau justru produk tersebut tetap dipertahankan karena mampu menarik pelanggan untuk membeli produk lain?
Tidak ada satu jawaban yang otomatis berlaku untuk semua usaha. Yang penting, keputusan tersebut dibuat berdasarkan informasi yang relevan.
Inilah salah satu perbedaan antara sekadar memiliki data dengan memanfaatkan data.
Data memberi angka.
Akuntansi manajemen membantu mengolah dan menggunakan informasi tersebut untuk mendukung keputusan.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan UMKM?
Tidak semua usaha membutuhkan sistem akuntansi yang rumit untuk mulai menerapkan konsep akuntansi manajemen.
Langkah pertama bisa dimulai dari hal sederhana.
Pisahkan uang pribadi dan uang usaha.
Catat seluruh pemasukan.
Catat seluruh pengeluaran.
Kelompokkan biaya berdasarkan jenisnya.
Hitung biaya produk.
Evaluasi harga jual.
Kemudian, lakukan evaluasi secara berkala.
Dengan pencatatan tersebut, pemilik usaha dapat mulai melihat pola bisnisnya. Misalnya, kapan biaya meningkat, produk mana yang memberikan kontribusi lebih besar, dan apakah peningkatan penjualan benar-benar diikuti oleh peningkatan keuntungan.
Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan bahwa literasi keuangan mencakup pengetahuan dan keterampilan yang memengaruhi pengambilan keputusan serta pengelolaan keuangan. OJK juga terus mendorong peningkatan literasi keuangan bagi pelaku UMKM.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola informasi keuangan menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha, terutama ketika bisnis mulai berkembang dan keputusan yang diambil semakin banyak.
Bisnis Bukan Hanya Tentang Seberapa Besar Omzet
Pada akhirnya, ramai pembeli memang menjadi hal yang menyenangkan bagi pemilik usaha.
Tetapi jumlah pembeli dan besarnya omzet bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
Di balik setiap penjualan terdapat biaya. Di balik setiap biaya terdapat keputusan. Dan di balik setiap keputusan terdapat informasi yang seharusnya dipahami oleh pemilik usaha.
Akuntansi manajemen membantu melihat bisnis dari sudut pandang tersebut.
Bukan hanya bertanya, “Berapa banyak yang terjual hari ini?”
Tetapi juga:
“Berapa biaya yang dikeluarkan?”
“Berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh?”
“Produk mana yang memberikan hasil terbaik bagi usaha?”
“Dan keputusan apa yang perlu diambil setelah melihat angka-angka tersebut?”
Karena pada akhirnya, bisnis yang berkembang bukan hanya bisnis yang mampu meningkatkan penjualan, tetapi juga bisnis yang mampu memahami angka di balik penjualannya.
Sumber
Ikatan Akuntan Indonesia. Modul CA – Akuntansi Manajemen Lanjutan. Bagian Relevant Costs dan pengambilan keputusan.
Otoritas Jasa Keuangan. Edukasi Keuangan – Literasi Keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan. Siaran Pers: OJK Dorong Literasi Keuangan Digital bagi Pelaku UMKM. 8 Agustus 2025.






















